Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 38: Maya Revina (4/5).


__ADS_3

Maya menggengam mawar pemberian Po dengan erat sembari melangkahkan kakinya pulang menuju rumah Kakeknya. Hari sudah semakin gelap, dari kejauhan Maya melihat Kakeknya sedang duduk menunggu dirinya di halaman depan dengan wajah yang gelisah.


"Aduh ... pasti Kakek sedang menungguku nih," pikir Maya lalu mempercepat langkah kakinya.


Raut wajah Kakek berubah lega ketika melihat cucunya sudah berada di depan matanya, Kakek berdiri dan menyilangkan tangannya dengan raut wajah yang marah.


"Dari mana saja kau, Maya? Kakek sudah mencarimu ke sekitar desa tapi tidak juga menemukanmu. Kakek khawatir dengan keadaanmu," gerutu Kakek menceramahi Maya yang telah berdiri di hadapannya.


"Maaf, Kek. Aku lupa waktu saat sedang belajar menanam bunga. Lihat deh bunga yang aku bawa, cantik kan?" kata Maya kecil sembari menunjukkan bunga mawar yang ia bawa.


Kakek melihat badan Maya yang kotor langsung menyuruhnya untuk mandi dan menanam bunga itu di halaman sembari sesekali menasehatinya agar tidak lagi pergi tanpa memberitahunya. Maya pun berjanji untuk tidak mengulangi lagi dan mulai menanam bunga mawar miliknya di halaman Kakek.


"Kakek membuat kebun kecil ini untuk apa?" tanya Maya sembari menggali tanah menggunakan sekop untuk menanam bunganya.


"Kakek mau menanam beberapa umbi-umbian untuk kita makan, Maya," jawab Kakek sembari duduk di kursi depan dan mengipaskan wajah menggunakan telapak tangannya.


Kakek yang melihat cara Maya menggali tanah merasa kalau cucunya telah mengetahui cara menanam bunga dengan benar dan rapih. Karena penasaran, Kakek bertanya padanya,


"Dari mana kau belajar cara berkebun, Maya?"


"Dari bocah aneh yang aku temui saat sedang berjalan di sekitar desa, Kek. Dia juga yang telah memberikanku bunga mawar ini," jawab Maya dengan sedikit bersenandung menanam bunganya.


"Jangan sampai bunganya mati ya!" ucap Kakek memperingati Maya.


"Baik, Kek."


Setelah siap menanam bunganya, Maya bangkit dan masuk ke dalam gubuknya untuk mandi. Setelah beberapa jam berlalu, kini saatnya Maya dan Kakek untuk tidur. Sebelum tidur Maya sempat bertanya kepada Kakek,


"Kek, aku ingin bertanya sesuatu."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Apa guna seorang Raja jika rakyatnya menderita ketika berada di bawah kekuasaannya?"


Kakek yang mendengar pertanyaan Maya terkejut karena pertanyaan itu keluar dari seorang gadis berusia lima tahun.


"Raja pada dasarnya adalah pemimpin yang melindungi para rakyat, namun karena kekuasannya yang tidak memiliki batas membuat beberapa Raja menyelewengkan tugasnya dengan melakukan hal yang hanya menguntungkan beberapa pihak. Namun jangan mengira semua Raja sama seperti Raja kita saat ini, Maya. Aku yakin ada Raja yang benar-benar memikirkan kesejahteraan rakyatnya."


Maya hanya terdiam mendengar penjelasan Kakek, Maya menutup matanya selama beberapa detik lalu membuka lagi matanya kembali bertanya,


"Apakah para rakyat yang telah pergi dari kerajaan ini akan selamat?"


"Kakek tidak bisa membenarkan ataupun menyangkal pertanyaan itu. Tetapi pada dasarnya jika kau ingin berpindah dari satu kerajaan ke kerajaan lain maka harus memiliki izin dari sang Raja. Jika ada Raja yang mengizinkan orang yang bukan rakyatnya masuk ke dalam kerajaannya, maka akan ada masalah yang menyertainya.


Wajah Maya terlihat sedih mendengar jawaban dari Kakek. Maya tidak bisa membayangkan keadaan beberapa warga yang telah pergi menuju kerajaan lain. Maya kembali menutup matanya dan telah sepenuhnya tertidur. Hari esok telah tiba, Maya terbangun dan tidak melihat keberadaan Kakek di sebelahnya. Maya bangun dan mencari-cari Kakeknya, ternyata Kakeknya sedang berada di halaman depan rumahnya menanam beberapa umbi-umbian. Maya melihat bunga yang semalam ia tanam, betapa kagetnya Maya ternyata bunga pemberian Po itu mati dan layu.


"Sepertinya bunga yang kau tanam kekurangan zat hara, Maya," jawab Kakek menghentikan aktivitas menanamnya.


"Zat hara? Apa itu semacam pupuk yang biasanya ditaruh di atas tanah tempat kita menanam?" tanya Maya yang teringat Po sempat berkata bahwa pupuk bisa menambah zar hara pada tanah.


"Iya," jawab Kakek singkat dan kembali melanjutkan aktivitasnya menanam umbi-umbian.


Mendengar jawaban Kakek membuat Maya berkeinginan menjumpai Po dan meminta beberapa


pupuk untuk bunganya. Saat Maya ingin pergi, Kakek sempat bertanya padanya,


"Mau kemana kau Maya?"


"Mau ke tempat bocah aneh itu, Kakek. Aku akan meminta sedikit pupuk padanya," jawab Maya sembari melangkahkan kaki pergi dari gubuknya.

__ADS_1


"Jangan pulang malam-malam!" perintah Kakek dengan suara yang keras karena jarak Maya yang telah jauh.


"Baik, Kek!" jawab Maya dengan suara yang tak kalah keras.


Setelah beberapa menit melangkahkan kakinya, Maya dikagetkan dengan suara perkelahian dari arah kebun milik Po berasal. Sayup-sayup Maya mendengar suara yang ia yakini adalah suara Po sedang berteriak dengan lantang. Karena takut terjadi sesuatu kepada Po, Maya mempercepat langkahnya menuju kebun milik Po.


Setelah sampai di sana, Maya melihat gerbang yang bertuliskan 'Selamat Datang' itu kini telah rusak, sebuah kerusakan yang dapat dipastikan dilakukan oleh orang lain dengan sengaja. Maya masuk ke dalam dan kaget melihat kebun milik Po yang ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah kini telah rusak dan hancur tak tersisa.


Di ujung kebun Maya melihat tiga orang yang perawakannya seperti pendekar sedang menginjak dada milik Po sehingga membuat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Po mencoba melawan dengan mengangkat kaki para pendekar itu dari dadanya, namun Po tidak mampu karena Po lebih lemah dari pada ketiga pendekar itu.


"Mam*us kau bocah cacat! Akan kubuat kau menyusul kedua orang tuamu, kahahaha!" hardik salah satu pendekar yang terlihat akan mengayunkan pedangnya ke leher Po.


Melihat kekejaman para pendekar dengan mata kepalanya sendiri membuat tubuh Maya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Maya hanya terdiam melihat Po terinjak dari kejauhan tanpa bisa berbuat apapun. Terlihat pendekar itu sedang bersiap untuk menebas leher Po, namun Maya tetap tidak bisa melakukan apapun kecuali memalingkan pandangannya ketakutan. Badan Maya bergetar dengan sangat dahsyat dan pikirannya dipenuhi oleh ketakutan.


"Kau memang bisa membunuhku! Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dari takdirmu! Takdir yang akan menyeretmu masuk ke dalam neraka yang paling dalam, dasar kau pendekar sialan!" dengus Po ketika masih dalam keadaan terinjak memandang mata para pendekar dengan pandangan yang tajam.


Mendengar ucapan serta pandangan Po yang tajam membuat pendekar yang menginjak dadanya semakin murka,


"Mam*us kau!" murka pendekar itu sembari mengayunkan pedangnya ke arah leher Po.


Mendengar hardikan serta cercaan para pendekar membuat perasaan takut Maya semakin kuat, Maya hanya bisa menangis terjongkok menutup kedua telinganya ketika semua itu terjadi. Maya kembali merasakan tekanan batin yang memukul dadanya, terlebih ini adalah kali kedua Maya tidak bisa melakukan apapun ketika orang yang ia kenal dalam bahaya.


*Sreeek ....


Suara pedang yang diayunkan terdengar oleh Maya.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2