
"Mungkin kita tidak percaya apa yang kita lihat! Namun calon pendekar sebelumnya telah mengalahkan monster Botfly dalam beberapa kali serangan! Itulah kebenaran! Itulah kenyataan! Tanpa menunggu lama lagi, saya akan memanggil calon pendekar selanjutnya yang akan melakukan pertandingan. Namanya adalah A!"
Mendengar nama calon pendekar yang telah dipanggil, semua penonton saling berpandang bingung. Terlihat ada seorang berpostur pria tengah berdiri dan melangkahkan kakinya menuju arena pertandingan. Pria itu memakai baju panjang berwarna hitam sampai lutut lengkap dengan penutup kepala dan topeng.
Akibat topeng yang dikenakannya, para penonton hanya bisa melihat matanya saja. Sebuah mata tajam berwarna biru terlihat dari balik kain yang menutup wajahnya.
Merasa pernah melihat orang ini sebelumnya, Daya langsung bertanya kepada Maya, "Bukankah ia adalah orang yang kita temui sewaktu mendaftarkan diri di Serikat Pendekar, Maya?"
"Kau benar, Daya. Aku sangat yakin itu adalah orangnya!" jawab Maya menatap tajam orang yang menggunakan baju hitam panjang itu.
"Entah kenapa Livia merasakan aura yang tidak mengenakkan berasal dari pria," timpal Livia sembari mengusap tangannya yang bergetar.
Author Note:
Livia berkata pria karena postur tubuh calon pendekar itu terlihat seperti seorang lelaki. Belum diketahui apakah dia itu lelaki atau perempuan.
Calon pendekar bernama A itu telah berada di tengah arena pertandingan menunggu pintu besi yang menampung monster itu keluar dari dalam. Tidak ada tepukan tangan, tidak ada sorakan dan tidak ada kata-kata penyemangat yang penonton berikan kepada calon pendekar yang satu ini. Semua penonton merasa takut dan was-was dengan hawa mencekam yang mengitari pria itu.
Decitan pintu kembali terbuka, semua penonton pun kembali menutup gendang telingannya. Bersamaan dengan dibukakannya pintu besi besar itu, terdengar auman singa yang sangat besar.
Roooarrr ....
Para penonton telah menduga bahwa calon pendekar itu akan menghadapi monster singa. Sedikit demi sedikit monster itu menampakkan dirinya, terlihatlah monster yang berukuran sangat besar ingin keluar dari pintu besi yang telah terbuka. Namun karena tubuhnya terlalu besar, monster itu tidak dapat keluar dari pintu. Tak habis akal monster itu pun menghancurkan besi penghalang lalu keluar sembari menggerakkan kepalanya.
Para penonton terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh monster itu, bahkan besi yang sangat besar pun dapat dihancurkannya. Monster itu terlihat mengerikan, matanya besar dan merah, memiliki bulu tebal di sekitar leher, memiliki cakar yang sangat panjang di keempat kakinya, satu matanya telah buta dan ekor panjang dengan bulu lebat di ujungnya.
Monster itu berjalan dengan menunjukkan cakarnya yang tajam dan gigi yang runcing dari kaki dan mulutnya. Monster itu terlihat sangat lapar, air liurnya menetes membasahi arena pertandingan. Monster itu bernama Babil.
__ADS_1
Livia yang sedari tadi bingung dengan wujud monster yang ia lihat lantas bertanya kepada Maya, "Apa semua monster itu berwujud seperti hewan, Maya?"
"Saat ini yang kau lihat hanya monster biasa, Livia. Banyak tipe monster yang akan kau lihat jika berkeliling ke alam bebas. Bahkan aku pernah mendengar dari kakekku tentang monster yang memiliki badan harimau, kuping gajah dan wajah monyet! Peristiwa langka itu disebut Chimerism!" jawab Maya memandang wajah Livia.
"Iya! Saya pernah membaca tentang Chimerism sebelumnya di sebuah buku milik guruku!" Mendengar kata Chimerism, Daya langsung teringat sebuah buku yang diberikan Tuan Abdi padanya.
"Apa yang kau baca, Daya?" tanya Maya penasaran dengan buku yang Daya baca.
"Tentang gabungan sel pada satu induk yang berasal dari genetik yang berbeda. Kalau saya tidak salah ada gabungan antara manusia dengan hewan, manusia dengan dewa dan lain sebagainya." Mendengar ucapan Daya, mata Maya langsung bersinar lalu memegang tangan Daya.
"Apa kau membawa buku itu, Daya?" tanya Maya sembari memegang kedua tangan Daya.
"Ah ... maaf, buku itu sudah kuberikan kepada guruku." Maya langsung cemberut dan melepaskan tangan Daya kemudian memalingkan pandangannya.
***
Monster itu tengah berjalan dengan perlahan mendekati calon pendekar berbaju hitam panjang kemudian mengitarinya sembari mengendus bau miliknya. Beberapa penonton terlihat menutup matanya karena takut sesuatu hal buruk akan terjadi kepada calon pendekar itu.
Setelah mengelilingi tubuh calon pendekar itu sebanyak dua kali, akhirnya monster itu diam melihat ke arah wajah calon pendekar misterius itu.
Hehmmt Hehmmt ...
Monster itu menghela nafas tepat di wajahnya dengan kuat, mengakibatkan baju hitamnya sedikit terangkat. Namun walaupun wajah mengerikan monster itu telah berada tepat di wajahnya, calon pendekar itu tetap tidak memperlihatkan ketakutannya terhadap monster yang berada di hadapannya.
Monster itu terlihat sedikit bingung, berapa detik kemudian monster itu menggeram dengan geraman yang begitu kuat, saking kuatnya geraman monster itu mengakibatkan tanah di arena bergetar.
Namun lagi-lagi pria itu tidak menggerakkan sedikit pun badannya, ia tetap berdiri tegak pada posisinya memandang wajah monster Babil dengan tatapan tajam. Para penonton semakin bingung, kenapa monster itu belum menyerang dan kenapa pria itu tidak memperlihatkan perlawanan.
__ADS_1
Namun situasi itu tidak bertahan lama, tanpa mereka duga monster itu mengangkat tangannya tinggi dengan cakar yang tajam kemudian menyerang calon pendekar yang berada di hadapannya.
Srak srak srak ...
Para penonton berdecak kaget, tiga serangan yang monster itu berikan tidak ada satupun yang dapat mengenainya. Calon pendekar itu dengan mudahnya menghindari serangan monster Babil dengan melompat ke arah belakang. Tanpa mereka duga, ternyata monster Babil terlihat kecapaian. Nafasnya terengah-engah dan lidahnya terjulur.
Para penonton kembali merasa aneh dengan keadaan monster yang berada di pertandingan ini. Para rakyat mengetahui, monster adalah predator yang sangat mengerikan, memiliki kekuatan yang hebat dan pemikiran yang cerdas. Namun saat mereka melihat monster yang berada di pertandingan ini, tak urung hanya hewan biasa yang tidak bisa melakukan
apapun kecuali lompat ke sana dan ke mari.
Benar saja, dengan sekali pukulan tepat di mata monster Babil, monster itu langsung tercampak dan tumbang seketika. Dengan mudahnya pertandingan ini dimenangkan oleh calon pendekar aneh itu.
Mengetahui monster Babil telah dikalahkan hanya dengan satu kali pukulan, calon pendekar itu terdiam seketika. Matanya melotot memandang tubuh monster Babil, selama beberapa detik kemudian melangkahkan kakinya keluar dari arena sembari meludah dengan mengangkat sedikit topengnya.
Para penonton masih sibuk menanyakan tentang ketidakwajaran yang dimiliki oleh setiap monster yang telah diperlihatkan. Saat penonton masih disibukkan dengan pertanyaan yang berada di dalam benaknya, teriakan juru pisah membuat mereka semua tertegun.
"Harap perhatiannya! Pertandingan kali ini telah dimenangkan oleh A! Selama beberapa menit arena akan dibersihkan lalu pertandingan akan kembali dilakukan!" Evan berkata dengan tegas lalu melangkahkan kakinya pergi menghadap Raja George.
Di lain sisi Daya, Livia dan Maya sedang berbincang-bincang.
"Apakah kekuatan monster hanya seperti itu, Maya?" Daya menatap Maya dengan wajah kebingungan.
"Aku tidak tahu, Daya. Antara dia yang kuat atau monster itu yang lemah!" jawab Maya menatap bangkai monster Babil yang tengah diangkat oleh beberapa pembersih arena.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala, rasa panas semakin lama kian terasa, namun pertandingan belum juga mencapai batasnya. Bagi para penonton yang di atasnya terdapat papan yang menghalangi paparan cahaya sinar matahari, mereka tidak masalah.
Namun bagi mereka yang sedang bertanding di arena mendapat musibah. Sinar matahari menembus kulit dan keringat menetes membasahi tubuh. Namun mereka harus bertahan demi impian dan angan.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.