Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 11: Pengetahuan dan Latihan (4/15).


__ADS_3

Para murid duduk bersila sejajar di lapangan tepat di bawah rindangnya pohon. Di hadapan mereka terlihat Tuan Abdi sedang melakukan hal yang mereka anggap aneh. Tuan Abdi menekuk kaki kanannya dan tangan kirinya memegang tanah. Betapa terkejutnya para murid ketika secara tiba-tiba melihat ada monster yang muncul di balik tangan kiri Tuan Abdi. Tuan Abdi mengangkat tangan kirinya, ketika Tuan Abdi mengangkat tangannya para murid ketakutan karena berfikir monster itu akan lepas dan merangkak mendekati lalu mengigit mereka. Namun tidak, monster itu seakan terapit oleh sesuatu yang tidak terlihat.


"Tsaa ... Tsaaa ..." monster itu mengeluarkan suara desis yang membuat para murid panik.


"Ini adalah monster Lamoe, monster yang bentuknya seperti laba-laba dengan corak putih dan hitam mengitari tubuhnya. Senjata untuk melindungi dirinya dari pemangsa dan untuk berburu adalah taringnya yang mengandung racun, jika manusia terkena racunnya dan tidak diobati dengan cepat maka akan ada terjadi gangguan saraf di area sekitar luka bekas gigitan. Jadi kalian harus hati-hati dengan taringnya!" ucap Tuan Abdi sembari menunjuk monster dihadapannya.


"Hiihh ... aku tidak tau kalau monster itu memiliki racun ...!" batin Daya bergidik ngeri.


"Setiap monster level rendah memiliki titik lemah, titik lemah itu terdapat di bagian lehernya."


"Jikalau ada monster yang tidak memiliki leher tuan?" tanya seorang remaja mengangkat tangannya.


"Maka kepalanya yang menjadi acuan. Sekarang siapa yang mau membunuh monster ini dengan pedangku?" tanya Tuan Abdi sembari melihat ke arah muridnya.


Para murid saling berpandangan satu sama lain, mereka merasa takut, was-was dan jijik terhadap monster yang mereka lihat. Bagaimana tidak, di hadapan mereka terdapat monster dengan bentuk seperti laba-laba tetapi tubuhnya lebih besar dari pada laba-laba pada umumnya. Ditambah mereka tidak pernah diajari oleh orang tua mereka cara untuk berburu monster.


"Tidak ada yang mau?"


"Saya tuan!" ucap Daya dengan percaya diri.


Daya pun maju mendekati monster itu, Tuan Abdi memberikan pedang miliknya kepada Daya, namun ternyata pedang itu terlalu berat untuknya. Alhasil, pedang yang diberikan Tuan Abdi jatuh seketika ke tanah. Para murid mengolok-olok Daya karena terlalu lemah.

__ADS_1


Remaja A: "Hahaha ... lihat itu, mengangkat pedang asli saja dia tidak bisa hahaha ...."


Remaja B: "Sepertinya dia lebih banyak mengangkat pedang mainan ketimbang mengangkat pedang asli hahaha ...."


Remaja C: "Kurasa ini adalah kali pertamanya memegang pedang asli."


Para remaja menghina Daya dihadapan Tuan Abdi. Tuan Abdi mengambil pedangnya yang berada di tanah dan menggantinya dengan pisau kecil. Para remaja kembali mengolok-olok Daya karena mereka berfikir pisau kecil tidak dapat melukai monster besar tersebut.


Daya memfokuskan penglihatannya ke arah pisau yang ia pegang dan target yang akan ia bunuh. Daya memutar pisaunya vertikal sebanyak dua kali dan menebas monster Lamoe tepat di lehernya saat putaran ketiga. Mata Daya tajam melihat ke arah luka sayatan yang terbuka lebar di leher monster itu, Daya tidak lagi merasa takut kepada monster. Cipratan darah monster Lamoe mengenai pisau dan bajunya. Para murid lain bergidik melihat cara Daya membunuh monster itu tanpa takut sedikitpun.


"Bagus ... kau membunuhnya dengan mudah, namun lain kali menghindar lah dari cipratan darah monster yang kau bunuh. Karena ada beberapa tipe monster yang darahnya mengandung cairan asam," ucap Tuan Abdi memberitahu Daya sembari mengambil pisau dari tangannya.


"Apa itu cairan asam Tuan?" tanya Daya dengan nada bingung.


"Melalui hal ini kalian belajar sesuatu tentang: Selemah, sekecil dan sependek apapun senjata kalian, jika kalian bisa menggunakannya dengan baik maka kalian dapat membelah apapun yang ingin kalian belah! Sebaliknya, jika kalian tidak dapat mengendalikan senjata kalian. Maka kalianlah yang dalam bahaya!" Tuan Abdi berkata sembari membersihkan darah di pisaunya.


"Baiklah ... Mungkin pembelajaran hari ini cukup sampai di sini. Besok kita akan berjumpa lagi pada waktu dan tempat yang sama. Kalian boleh bubar!" ucap Tuan Abdi membubarkan para murid lalu pergi memasuki pondok.


Tuan Abdi meninggalkan para muridnya sendiri, ketika Daya ingin pergi masuk ke pondok untuk membersihkan pakaiannya, Daya dihadang oleh lima orang remaja, Daya digiring menjauhi pondok ke tempat yang sepi.


"Sini ngobrol dulu dengan kami hahaha," ucap remaja yang selalu mengganggu Daya dengan tawa yang mengerikan.

__ADS_1


"Sepertinya kita harus belajar cara tusuk menusuk dengan mu, hahaha bukankah begitu Jaka!?" ucapnya kepada remaja yang selalu mengganggunya. Ternyata nama remaja yang selalu mengganggunya bernama Jaka.


"Benar sekali, bukankah kita itu teman satu perguruan? Maka kita harus saling membantu bukan!?" ucap Jaka dengan nada yang aneh.


"Tentu saja aku akan membantu kalian," ucap Daya dengan entengnya mengganggap mereka ingin belajar dan berteman dengannya.


"Bagus, sekarang aku akan belajar menggunakan pisau seperti yang kau lakukan tadi. Namun kaulah yang akan menjadi monsternya hahaha. Hoi ... Pegangin tangan dan kakinya!" perintah Jaka kepada teman-temannya.


Dua orang temannya memegang kedua tangan Daya dari samping kanan dan kiri sedangkan satunya lagi memegang kakinya. Daya kaget mencoba meronta-ronta dan berniat untuk berteriak meminta bantuan, namun dengan sigap satu orang teman Jaka menutup mulutnya dari arah belakang sebelum Daya dapat berteriak. Daya tidak dapat berteriak, lari maupun melepaskan tubuhnya dari gengaman empat orang teman Jaka. Pikiran Daya kacau, matanya terkulai lemah dan darahnya berdesir merangkak naik di wajahnya. Jaka mengeluarkan pisau dari sakunya dan di pegang dengan tangan kanannya. Jaka mengangkat baju Daya ke atas dan bersiap untuk mengiris perut Daya yang kurus.


"Hahaha ... Kurus sekali badan kau ini," ucap Jaka dengan ujung pisau yang sudah berada perut Daya.


Darah segar bercucuran, matanya dibanjiri tangis, pembulu darah tampak tegang di leher dan wajahnya meringis menahan perihnya ujung pisau yang menggores perut Daya. Jaka dan teman-temannya tertawa menikmati kepedihan yang dirasakan oleh Daya, selama beberapa menit mereka melakukan hal keji ini kepada Daya hingga membuat Daya hampir tak sadarkan diri. Mereka melukai kulit Daya hingga terlihat tulisan 'Pecundang' dari bekas sayatan di perutnya. Mereka melepaskan Daya, ia pun terjatuh karena tidak bisa menahan perih di perutnya.


Dari sela isak tangisannya, Daya bertanya kepada Jaka dan temannya,


"K-kenapa kalian me-melukai ku? Apa salah ku kepada kalian?"


"Hah ...? Kau belaga atau emang dari sananya bodoh? Ini semua akibat salah kau bersikap sok hebat di depan kami. Cuih ...!" ucap Jaka meludahinya tepat di wajah Daya dan pergi meninggalkannya.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2