
Daya masih terlelap bagaikan kelelawar yang tertidur di siang hari. Tak lagi Daya mendengar suara gemuruh dari kejauhan dan tak pula mendengar suara yang menakutkan. Hanya suara indahnya malam dan gemericik air sungai yang mengalir tenang. Siapapun yang mendengarnya dipastikan mendapatkan ketenangan jiwa dan raga. Waktu terus berlalu, terlihat matahari mengintip dari celah-celah jendela dan suara kokokan ayam mulai terdengar.
Daya dengan lesu membuka kelopak matanya lalu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06:00. Daya memalingkan pandangannya ke arah meja besar yang di atasnya terdapat baju bewarna coklat dan pisau belati miliknya.
Daya bangkit dari tidurnya, diraihnya baju pemberian Dewi lalu ia memakainya. Baju dengan motif seperti batik bewarna coklat dengan celana bewarna putih.
"Cantik sekali motif baju ini. Jika aku harus membelinya pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang," pikir Daya dalam hati.
Daya pergi beranjak dari kamar, Daya melewati lorong yang besar lalu pergi ke pintu keluar. Saat Daya sampai di pintu keluar, Daya melihat seorang pria tua sedang sibuk mengurus berkas berkas. Saat ingin keluar, Daya menyempatkan untuk menyapa pria tua itu.
"Selamat pagi, Pak," ucap Daya sopan.
Pak tua tersebut lantas menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Daya sambil membetulkan kaca matanya.
"Ahh ... kau anak muda yang pingsan itu bukan. Ya selamat pagi nak, bagaimana tidur mu?" tanya pria tua tersebut.
"Tidak ada yang lebih baik dari pada tidur di sini tuan hehe," jawab Daya sembari tertawa kecil.
"Bagus, bagus."
Setelah menyapa, Daya keluar dan pergi ke belakang pondok untuk melihat sungai yang ia ingin kunjungi semalam. Sampai lah Daya di sungai, Daya melihat ke arah sekitar namun belum ada siapapun di sini.
Daya menghirup udara sedalam dalamnya lalu menghembuskan-nya secara perlahan melalui mulutnya.
"Haa ... tidak ada aroma yang lebih harum selain udara di pagi hari," ujar Daya sembari merenggangkan tubuhnya.
Daya duduk di batu pinggir sungai lalu membasuh wajahnya dengan air sungai yang mengalir. Kesegaran yang dihasilkan oleh air membuat tubuhnya terasa bertenaga dan rasa kantuk yang ia rasakan hilang tak tersisa.
"Bagaimana airnya, segar bukan?" ucap seseorang dari arah belakangnya.
Daya lantas memalingkan pandangannya ke belakang dan melihat salah satu pendekar lain saat di desa, ia adalah Anthony.
"Bagaimana tidur mu? nyenyak kah?" tanya Anthony sembari mendekati Daya.
"Sangat nyenyak tuan, ini adalah tidur ternyenyak saya setelah sekian lama tidur di atas papan," jawab Daya senang.
__ADS_1
"Setelah sekian lama? Di atas papan? Memang apa yang terjadi dengan bocah ini? Ah sudahlah, ini bukan urusanku," pikir Anthony dalam hati.
Anthony menghentikan pikirannya lalu melihat ke arah leher Daya yang tampak memerah.
"Apakah lehermu masih terasa sakit?" tanya Anthony sembari menunjuk ke arah leher Daya.
"Ahh, tidak apa apa tuan. Sudah lebih baik."
"Aku mengetahui apa yang terjadi, temanku 'Alardo' mencekik mu bukan? Aku mendengarkan apa yang terjadi di kamarmu.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi, sebenarnya dulu Alardo adalah orang yang baik dan ramah kepada orang lain, hingga peristiwa itu terjadi --" ucap Anthony sembari menundukkan kepalanya tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
"Maaf, kalau boleh tau apa yang terjadi dengan Tuan Alardo?" tanya Daya penasaran.
Anthony melihat Daya dengan mata yang berkaca-kaca, ekspresi wajah Anthony berubah dari cerah bagaikan pagi hari, menjadi gelap seperti suasana dikala akan turun hujan.
"Dulu kami memiliki 4 orang anggota. Aku, Alardo, Abercio dan Rianna. Rianna adalah gadis yang cantik dan ceria. Wajahnya bulat, matanya besar, hidungnya mancung dan rambutnya panjang. Kami semua menjadi pendekar dengan satu tujuan. Yaitu 'Menjadi Pahlawan yang dikenal'.
Daya mendengarkan penjelasan Anthony dengan khidmat.
"Pada suatu ketika, para pendekar dengan Tier Quintus ke bawah tidak bisa menahan para monster yang datang berbondong bondong. Kami heran kenapa kejadian itu dapat terjadi. Monster menerobos masuk kedalam desa.
"Kami sudah terlambat untuk datang, tapi Alardo meminta kepada kami untuk bertarung di dalam desa. Abercio menolaknya, karena itu bukan wewenang kita. Tapi karna Rianna percaya pada Alardo, saya dan Abercio mengizinkannya.
"Namun naas, Rianna meninggal dalam pertempuran tersebut. Alardo menyalahkan semua kepada dirinya, jika saja Alardo mematuhi peraturan, dapat dipastikan Rianna tidak akan mati. Begitu pula dengan Abercio, dia merasa sebagai ketua yang gagal. Dia berfikir bahwa ini adalah kesalahannya karena membiarkan ide Alardo untuk masuk kedalam desa.
"Semenjak saat itu, kami semua berubah sifat. Alardo menjadi pemarah dan pendendam, Abercio menjadi pendiam dan trauma, sedangkan aku ... Akh," ucap Anthony sedih ketika mengingat peristiwa yang terjadi.
Anthony tidak bisa berkata lebih banyak lagi, tangis yang sedari tadi ditahan meledak keluar melalui kelopak matanya. Anthony menutupi matanya menggunakan kedua tangan karena tidak ingin Daya melihatnya. Mengetahui hal tersebut, Daya menepuk pundak Anthony dan berkata,
"Maafkan aku yang telah meminta tuan untuk mengatakan hal yang seharusnya ingin tuan lupakan."
Daya pun ikut sedih terbawa suasana. Anthony menghapus air matanya dan menghisap hingusnya pelan. Anthony berkata,
"Terkadang orang baik adalah orang yang terlahir dari kejamnya dunia. Apapun yang terjadi pada mu, jangan berhenti untuk menjadi baik, Daya!" pinta Anthony.
__ADS_1
"Baik Tuan" jawab Daya pelan.
Mereka pun diam melihat indahnya aliran sungai yang mengalir. Air yang bersih dan bening, suasana sejuk dan indah dikelilingi pohon yang rindang. Beberapa bebatuan yang dipenuhi lumut di sekitar mereka menjadi saksi bisu. Diam bagaikan emas dan Keheningan seakan memiliki jantung dan denyutnya terasa membawa apa yang tak terucap.
"Ketika kau sudah dewasa nanti, ingin menjadi apa kau, Daya?" tanya Anthony memecah keheningan.
Daya menunduk beberapa detik dan berfikir. Setelah itu mendongakkan wajahnya dengan raut wajah serius.
"Aku ingin menjadi kuat seperti Pendekar, bersifat baik bagaikan orang tua, berpikir dan bertindak layaknya pemimpin yang setia!" ucap Daya serius dengan kobaran api yang tampak di matanya.
"Hoi, hoi, jangan diambil semua, sisakan sedikit untuk ku hahaha."
"Hahaha." Daya pun ikut tertawa.
Mereka tertawa lepas, beban yang menjerat pundaknya bagaikan terbang mengitari langit yang jauh nan biru. Kesedihan kan berlalu dan kita akan memperoleh Kesenangan yang kita harapkan, kegelapan kan redup lalu kita akan melihat indahnya sang fajar. Itulah yang Anthony rasakan sekarang.
"Tapi ingatlah Daya, terkadang hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Carilah teman yang rela berkorban untuk mu dan pula teman yang dengan suka rela kau korbankan hidupmu demi dirinya lalu jalani hidup ini sebaik yang engkau bisa!" ucap Anthony serius.
"Baik Tuan, akan kuingat perkataan itu di dalam hati dan pikiran," jawab Daya.
"Kau kan ingin menjadi kuat seperti pendekar bukan? Bagaimana kalau kau belajar di Pondok Pendekar ini?"
"Bukannya tidak mau tuan, tapi aku tidak mempunyai uang yang cukup untuk itu," jawab Daya lesu.
"Tidak usah memikirkan uang, aku kenal pemilik Pondok ini. Kau boleh belajar menjadi pendekar di pondok ini selama yang kau inginkan," ucap Anthony sembari tersenyum.
"Huh? Beneran tuan?" tanya Daya tak percaya.
"Tentu saja benar, namun kau harus berjanji padaku, kau harus menjadi kuat dan temui aku nanti di area kerajaan untuk membalaskan hutang mu padaku!" kata Anthony pada Daya.
"Tentu tuan, terima kasih tuan terimakasih, aku tidak percaya akhirnya aku bisa belajar ilmu bela diri. Terima kasih tuan," ujar Daya kegirangan.
Kegembiraan tiada tara dirasakan Daya menjulur ke sekujur tubuhnya. Akhirnya Daya selangkah mendekati mimpinya, yaitu untuk menjadi 'Pendekar Sejati'.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.