Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 43: Tuan Abirama dan Ruangan Aneh Nan Gelap.


__ADS_3

"Apa itu?" Maya bertanya dengan penasaran.


"Hal yang harus kita lakukan pertama adalah meminta izin untuk melaksanakan ujian kepada Pemimpin Desa, yang kedua melakukan pengecekan kekuatan dan yang terakhir melakukan cek pengetahuan data diri!"


Saat Jaka menyelesaikan penjelasannya, Livia melepaskan gengamanya dari tangan Daya dengan wajah yang pucat. Melihat Livia yang tiba-tiba melepaskan tangannya, Daya bertanya pada Livia,


"Ada apa, Livia? Kamu terlihat pucat," tanya Daya mengkhawatirkan keadaan Livia setelah melihat wajahnya yang terlihat sangat pucat.


"Ah ... tidak ada apa-apa kok, Daya." Livia hanya tersenyum dengan senyuman yang terkesan terpaksa.


"Apa maksud dari itu semua itu, Jaka? Lagian untuk apa meminta izin kepada Pemimpin Desa?" Maya bertanya dengan binggung setelah memandang ke arah Livia yang tiba-tiba berubah sifat ketika Jaka telah menyelesaikan ucapannya. Maya merasakan bahwa Livia telah menyembunyikan sesuatu.


"Kalian akan tahu jika sudah sampai sana, ayo pergi ke tempat Pemimpin Desa!" Jaka melangkahkan kakinya memimpin mereka.


Merekapun mengikuti Jaka pergi ke tempat yang telah diperintahkan, perjalanan tidak memakan waktu yang terlalu lama karena rumah Pemimpin Desa hanya berjarak beberapa meter dari lokasi Serikat Pendekar berada. Perjalanan mereka hanya termakan kesunyian dan rasa tidak enakan antara satu sama lain akibat bergabungnya Livia dengan cara yang menurut Maya itu tidak sopan. Livia berjalan sembari menundukkan pandangannya dengan raut wajah yang pucat. Saat Maya berjalan, ia selalu memperhatikan gerak-gerik Livia yang menurutnya sangat mencurigakan dengan mencuri-curi pandang ke arahnya.


Setelah berjalan sekitar lima menit, sampailah mereka di sebuah rumah yang lebih besar dari pada rumah penduduk pada umumnya. Daya menyimpulkan rumah di hadapannya ini adalah rumah sang Pemimpin Desa,


"Apa ini rumah Pemimpin Desa itu, Jaka?"


"Benar," jawab Jaka sembari melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan milik Pemimpin Desa lalu mengetuk pintu besar yang terbuat dari besi itu setelah berdiri di hadapannya.


*tok tok tok tok tok tok ....


Suara ketukan berulang kali Jaka lakukan sembari sesekali memanggil Pemimpin Desa. Setelah ketukan kesepuluh Jaka layangkan, akhirnya terbukalah pintu besar yang menutup rumah Pemimpin Desa. Terlihat seorang pria berbadan kecil membukakan pintu yang sangat besar itu menggunakan sepotong kayu. Daya dan Livia pangling melihat tubuh Pemimpin Desa Talas yang ternyata sangat pendek, mereka mengira Pemimpin Desa adalah orang yang sangat tinggi. Mengingat pintu yang menutup rumahnya itu sangat besar dan terbuat dari besi.


Ternyata tinggi Pemimpin Desa Talas hanya setengah dari tinggi Daya, mempunyai kumis yang sangat panjang dan wajah yang bisa dibilang lucu ditambah hidungnya yang sangat besar. Daya dan Livia dapat mengetahui pria kecil itu adalah Pemimpin Desa Talas dari baju seragam yang dikenakannya. Seragam yang selalu dikenakan oleh seorang Pemimpin. Baju yang sangat khas dengan lambang Naga Hijau di dada bagian kanan dan tulisan PD yang berarti Pemimpin Desa.

__ADS_1


"Ada apa mencariku?" tanya Pemimpin Desa dengan garang lalu melihat ke arah orang yang mengetuk pintunya. Setelah Pemimpin Desa mengetahui siapa orang yang mengetuk pintunya, nada Pemimpin Desa mendadak berubah dan terlihat lebih baik, "Ahh ... Jaka, mari masuk!" timpal Pemimpin Desa dengan raut wajah yang sangat baik.


Jaka hanya mengganguk lalu masuk ke dalam rumah milik Pemimpin Desa. Saat mereka sedang masuk, Maya menyempatkan untuk bertanya kepada Jaka tentang sejak kapan ia mengenal Pemimpin Desa Thalas.


"Aku adalah anak dari Pemimpin Desa Oregon!" Jaka menjawab pertanyaan Maya tanpa memalingkan pandanganya sedikitpun.


Mendengar jawaban Jaka, Maya hanya bisa terbelalak kaget, ternyata anak pemimpin dari salah satu desa terbesar di Kerajaan Naga Hijau adalah teman sependekarnya. Terlebih ini adalah kali pertama Maya mendengar bahwa Jaka adalah anak dari salah satu Pemimpin Desa.


Setelah mereka dipersilahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan, Pemimpin Desa menyuruh bawahannya membuatkan minuman untuk Jaka dan teman-temannya.


"Apa kabar, Jaka?" tanya Pemimpin Desa sembari menepuk bahunya (Jaka) pelan lalu duduk di kursi tepat di hadapan Jaka.


"Baik, Tuan Abirama."


"Aku tidak menyangka kau akan datang ke desaku ini, kukira semenjak kau ditendang oleh ayahmu kau akan pergi jauh dari sini, hahaha. Seharusnya ayah kau itu mendengarkan petuahku sedari dulu, dengan begitu orang tuamu tidak akan memiliki beban lagi, karena beban mereka itu ada padamu, khahahahha."


"Maaf, Tuan Abirama. Tujuan kami datang ke kediaman Anda hanya untuk meminta izin untuk melakukan ujian menjadi pendekar."


Mendengar ucapan Daya, Tuan Abirama menatap tajam mata Daya lalu berkata,


"Ahh ... kau orang yang menyelamatkan Jaka, Bukan? Sebentar lagi Tradisi Seda akan kembali berlaku bagi para calon pendekar, aku harap kau tidak menyesali keputusanmu menjadikan Jaka sebagai teman sependekar. Kemarikan kertas itu!" Tuan Abirama kembali mengejek Jaka lalu menarik dengan paksa kertas Calder yang berada pada gengaman Jaka.


"Pantas Jaka berkata bahwa ini akan mengesalkan," batin Daya setelah melihat ekpresi Jaka yang terlihat menahan amarahnya.


Tuan Abirama menstempel kertas Calder itu pada lingkaran yang telah disediakan lalu memberikannya kepada Jaka.


"Sudah, semoga kalian menang," ucap Tuan Abirama dengan senyum yang mengerikan setelah memberikan kertas Calder kepada Jaka lalu mengangkat satu kakinya ke atas meja.

__ADS_1


Jaka berdiri, berterima kasih lalu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Tuan Abirama dengan wajah memerah masih menahan emosi. Saat mereka telah di luar, Daya bertanya,


"Kenapa kita pergi? Bukankah Tuan Abirama sedang menyiapkan minuman? Tidak sopan rasanya pergi tanpa meminum suguhan dari tuan rumah!"


"Kau gila? Si pendek si*lan itu hanya sedang mempermainkan kita! Mana mungkin dia mau memberikan kita minum sedangkan anaknya sendiri tidak diberinya makan!" Jaka berkata dengan sangat kasar sembari memaki Tuan Abirama, Daya hanya kaget dan menundukkan kepalanya.


"Berarti sekarang hanya pengecekan kekuatan, lalu yang terakhir adalah cek pengetahuan data diri." Maya mencoba mengingat-ingat apa yang harus dilakukan. Saat Maya kembali menyinggung tentang cek pengetahuan data diri, tubuh Livia bergetar dan wajahnya kembali pucat.


"Hmm ... kenapa wanita ini takut dengan cek pengetahuan data diri?" batin Maya binggung.


"Untuk pengecekan kekuatan, kita akan pergi ke Serikat Penelitian Sihir. Untuk cek pengetahuan data diri kita pergi ke perpustakaan Raja. Ayolah kita pergi menuju Serikat Penelitian Sihir, semakin cepat maka semakin baik!" Jaka kembali memimpin langkah kaki teman-temannya pergi ke tempat selanjutnya.


Dalam perjalanan, Daya selalu memperhatikan tingkah laku Livia yang menurutnya aneh. Daya merasa ada perasaan takut dan gerisah pada diri Livia, dalam perjalanan Daya bertanya padanya,


"Ada apa denganmu, Livia? Apakah kamu sakit?"


"T-tidak apa-apa kok, Daya." Livia mencoba menutupi gerak-geriknya dengan tersenyum simpul. Namun senyumnya ini terlihat sangat terpaksa, berbeda jauh dengan senyuman tulus yang Livia berikan saat berjumpa dengan Daya.


Sampailah mereka di Serikat Penelitian Sihir, tempat yang dipenuhi dengan barang-barang aneh yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Saat mereka masuk ke dalam Serikat Penelitian Sihir, aroma obat langsung menyerbang menusuk indra penciuman mereka. Mereka menjumpai salah satu yang bertugas sebagai pembantu para warga yang mengunjungi Serikat ini. Jaka memberitahu tujuannya datang ke sini lalu orang itu langsung menuntun Jaka dan teman-temannya masuk ke dalam sebuah ruangan. Jaka dan teman-temannya tidak bisa mengetahui apakah orang yang menyuruhnya masuk ke dalam ruangan itu lelaki atau perempuan dikarenakan wajahnya yang ditutupi oleh kain tebal berwarna hitam, hanya mata dengan pandangan tajam yang dapat Jaka dan temannya lihat.


Saat mereka masuk ke dalam ruangan yang disuruh, Daya dan teman-temannya hanya melihat ruangan kosong nan gelap dengan meja lalu buku di atasnya berada tepat di tengah ruangan. Orang itu menyuruh mereka meneteskan setitik darahnya ke atas buku secara bergantian. Mulailah mereka melakukan apa yang perintahkan. Mulai dari Daya, Maya dan terakhir adalah Livia. Setelah mereka semua meneteskan darahnya, secara tiba-tiba muncul sebuah catatan tua.


"Wahhh ...." Daya, Maya dan Livia terkaget melihat tulisan yang berada di atas kertas itu secara ajaib muncul dan mengetahui kekuatan dasar mereka.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2