
Saat ini, dengan segenap usaha dan kerja keras yang telah Daya lakukan, Daya telah mengerti cara mengeluarkan elemen menggunakan energinya.
Perlahan tapi pasti, walau lambat namun tak bisa tuk dipungkiri dan lama waktu telah dilalui, Daya telah menguasai elemen anginnya. Di gelapnya malam, Daya berbaring di kasurnya dan merenung tentang masa depan.
"Hmm ... apakah aku sudah berjalan di jalan yang benar? Jika aku adalah Ayah, apa yang akan Ayah lakukan ya?" tanya Daya dalam hatinya.
"Ayah adalah orang yang baik dan kuat, karena hal itu banyak orang yang menyukai dan mengharapkan masa depan padanya. Tapi tetap menurutku itu tidak cukup. Ayah dan Ibu mati di dalam misinya. Apa yang bisa kulakukan untuk melampaui mereka? Aku tidak ingin menjadi anak yang tingkatnya sama atau bahkan di bawah mereka! Jika mereka tau, mereka akan marah! Hmm ...."
Setelah berfikir selama beberapa menit, Daya memutuskan untuk menutup hari ini dengan tidur dan memejamkan matanya. Pagi telah datang dan seperti biasanya, Daya bangun pukul enam pagi. Daya bangkit, merapihkan kasurnya dan pergi keluar dari kamarnya. Daya melihat Tuan Abdi duduk di kursi ruang keluar dengan teh yang masih hangat terletak di atas meja di hadapannya.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi, Daya. Bagaimana tidurmu?"
"Nyenyak tuan, omong-omong tidak seperti biasanya tuan dan Ben tidak mengurus berkas-berkas?"
"Karena dibantu oleh kau, sekarang berkasnya bisa diurus dua hari sekali. Terima kasih, Daya!"
"Saya senang bisa membantu, Tuan."
Untuk bisa menguasai elemen angin, Daya membutuhkan waktu dua Minggu. Selama dua Minggu itu pula latihan Daya diselingi dengan memberikan bantuan kepada Tuan Abdi, Ben dan Dewi. Pagi membantu mengurus berkas-berkas, siang membantu Dewi berbelanja dan malam membantu Ben membersihkan pondok. Karena banyaknya kegiatan yang daya lakukan selama dua minggu itu ditambah makanan bergizi yang Daya konsumsi, membuat badan Daya mulai berisi dengan otot-otot yang mulai membesar pula.
"Daya, kau telah semakin kuat dan sudah bisa mengendalikan elemen menggunakan energi. Jangan menjadi orang yang berbesar hati dengan apa yang kau miliki sekarang, perjalanan kau masih panjang, Daya!"
"Terima kasih atas nasihatnya tuan, sebisa mungkin saya tidak akan merasa puas atas apa yang saya miliki sekarang ini!"
"Aku tau, hati dan keinginan manusia itu sangat mudah untuk berubah. Namun jadilah seorang yang bijak dan memiliki pendirian yang kuat! Carilah tujuan hidupmu dengan tetap memberikan ruang untuk kebaikan tumbuh dan bersinar dalam dirimu, Daya!"
"Baik tuan. Terima kasih sekali lagi, sekarang apa yang akan saya pelajari tuan?" tanya Daya penasaran.
"Kau akan mempelajari penggunaan senjata tombak, bela diri tangan kosong dan terakhir menggunakan dan mengkontrol Arbitrium! Apa kau sudah siap untuk berlatih?"
"Siap tuan!" ucap Daya semangat. "Tapi saya belum punya tombaknya tuan," keluh Daya, semangatnya seakan menghilang dari dirinya.
Tuan Abdi menyeruput teh di gelas dan berdiri serta mengajak Daya untuk mulai berlatih di lapangan. Daya mengikuti Tuan Abdi. Setelah sampai di lapangan, Daya melihat sebuah tombak di tengah lapangan.
"Ambil itu!" perintah Tuan Abdi menunjuk tombak yang ujungnya menancap ke tanah.
__ADS_1
Dengan sedikit berlari, Daya menuju tombak yang tertancap dan mengangkat tombak dari tempatnya. Daya memegang tombak itu dengan tangan kanannya, terlihatlah tombak dengan ukuran sekitar dua sampai tiga meter dengan gagang kayu dan ujung besi yang tajam.
"Wahh ... ini untukku tuan?" tanya Daya dengan mata yang tak berhenti memandangi tombak pertamanya.
"Ambillah, aku sudah tidak membutuhkannya! Jika kau sudah ahli menggunakan tombak dan memiliki uang, belilah yang baru!"
"Baik tuan,"
"Aku ingin bertanya, apa yang membuatmu lebih memilih tombak disaat banyak yang memilih senjata lain. Seperti pedang atau panah?"
"Karena panjang, tuan!"
"Lalu ....?"
"Ya ... hanya itu, agar kita bisa menjatuhkan lawan dari jauh!"
Pandangan Tuan Abdi yang awalnya kagum mendadak cemberut.
"Cih ... kukira karena kau tau keuntungan dari tombak itu sendiri, dasar bocah ...," gerutu Tuan Abdi dengan pandangan kecewa dan bibirnya yang sedikit di tekuk.
"Selain dari panjang, apa lagi keunggulan dari tombak, tuan?"
"Banyak sekali keunggulan dari tombak, dan menurutku seorang yang lumayan ahli menggunakan tombak bisa mengalahkan orang yang sudah ahli menggunakan pedang!"
"Wah berarti pengguna tombak lebih hebat donk?" sosor Daya dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Tentu saja tidak bodoh! Bukan berarti ahli pedang tidak bisa menang, tetapi jika pengguna pedang ingin mengalahkan pengguna tombak, maka dia harus berusaha lebih ekstra dan membutuhkan keberuntungan, keahlian dan statistik yang jauh lebih tinggi dari si pengguna tombak!"
"Maksud dari statistik itu apa tuan?"
"Statistik itu meliputi kecepatan, kekuatan, daya tahan, perlengkapan seperti baju dan lainnya.
"Hahaa ... Daya tahan! Khahaha, nama kau Daya kahaha ... maaf," ejek Tuan Abdi .
"Tidak apa, tuan."
"Tombak memiliki enam keuntungan, yang pertama tentunya panjang, kedua itu kecepatan, ketika adalah kerusakan, keempat merupakan keamanan, kelima adalah pengendalian dan yang terakhir adalah lebih murah!"
__ADS_1
Daya memperhatikan penjelasan Tuan Abdi dengan sungguh-sungguh, karena kecapaian berdiri, Daya lebih memilih untuk duduk di atas permukaan tanah.
"Jangkauan tombak itu lebih panjang, kecepatan serang tusukan tombak lebih cepat dari pada serangan memotong pedang, serangan tusukan dari tombak dipusatkan pada ujungnya yang runcing. Semakin kecil permukaan sebuah benda yang digunakan untuk menyerang, tekanan yang dihasilkannya semakin besar, makanya jarum bisa melubangi permukaan benda lebih mudah dibandingkan memakai paku yang tumpul!
"Dari segi keamanan, pengguna tombak bisa bermain aman ketika bertarung, cukup menyerang dari jauh dan menarik senjata secepatnya. Kalau dari pengendalian, pengguna tombak cukup ganti gaya pegangan tombak maka si pengguna pedang bakal kesulitan dan bergerak mencari celah untuk menghindar. Sedikit saja pengguna pedang lengah, maka pertarungan selesai!" jelas Tuan Abdi panjang lebar.
"Wah ... hebat sekali tombak ini ya, tuan!"
"Daya ... jangan selalu merasa hebat atau kagum akan suatu hal! Kerena pada dasarnya, orang bodoh dengan kerja keras dapat mengalahkan orang pintar yang pemalas!"
"Maaf, tuan."
"Sudahlah, sekarang aku akan mengajarimu dasar-dasar senjata tombak!"
Mereka berdua berlatih hingga siang hari. Ada suatu saat dimana Tuan Abdi menjadi lawan tarung Daya dan karena tidak fokus, Daya mendapatkan luka di tangan kanannya. Namun itu tidak membuat Daya
berhenti untuk berlatih, mereka berlatih tak kenal lelah dan waktu.
Dari kejauhan tampak Dewi menghampiri mereka dengan membawa troli berisikan makanan.
"Hei ... makan dulu yuk, aku bawakan makanan untuk kalian!" ucap Dewi setengah teriak.
"Ah ... terima kasih Dewi, taruh saja di situ, nanti akan kami makan! Terima kasih," ucap Daya tanpa memalingkan pandangannya dari arah Tuan Abdi.
"Hih ... kalian ini kalau sudah berlatih, susah banget di suruh makan!" gerutu Dewi sembari menaruh troli di bawah rindangnya pohon.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, Tuan Abdi menyuruh Daya untuk beristirahat.
"Tapi, saya belum lelah, tuan!"
"Iya kau tidak lelah, tapi aku sudah lelah!" ucap Tuan Abdi dengan nafas berantakan.
Mereka pun beristirahat dan makan makanan pemberian Dewi sembari sesekali bercerita tentang hari ini.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
__ADS_1