Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 30: Bersedia Untuk Bertarung.


__ADS_3

"Kalian hanya perlu membantuku membunuh Verdon!" ucap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Apa itu Verdon?" tanya Daya dengan wajah bingung.


"Verdon adalah monster yang memiliki bentuk seperti badak." Jaka menjawab pertanyaan Daya yang berdiri di sampingnya.


"Oh ... oke, kami akan bantu," ucap Daya dengan santai.


"Benarkah?" tanya wanita itu dengan mata yang berbinar-binar tidak percaya Daya akan membantunya.


"Hoi, gila kau ya? Walau Verdon gampang ditemukan, tapi kesulitan menangkapnya hampir tiga kali lipat dibanding Bee. Dari pada membuang waktu menangkap monster itu, lebih bagus kita mencari Bee. Ayo!" perintah Jaka menyuruh Daya kembali mencari Bee dengan menarik tangan kanan Daya pergi dari wanita itu.


"Kumohon, tolong bantu aku, aku harus menemukan monster itu sebelum pagi di esok hari tiba," mohon wanita itu dengan nada yang lebih lembut dibandingkan sebelumnya.


Mendengar permohonan dari wanita itu, Daya menahan tarikan Jaka dan berkata,


"Memang untuk apa kamu mencari monster itu?" tanya Daya menatap mata wanita itu tajam.


"Kakekku sakit, aku harus merebus cula Verdon sebagai obat yang menyembuhkan kakekku sebelum esok hari tiba. Jika tidak, kakekku akan meninggal," jelas wanita itu menitihkan air matanya.


"Ah, bagaimana kalau menggunakan Arbitrium?" usul Daya memandang wajah wanita itu yang terlihat sedih.


Tangisan wanita itu berhenti seketika mendengar Daya menyarankannya untuk menggunakan Arbitrium. Wanita itu mengernyitkan dahinya, matanya kini memandang Daya dengan tatapan yang sangat tajam dan dari ekspresinya terlihat sangat marah.


"Kau ...! Apa kau sadar apa yang barusan kau katakan, kau ingin membunuh kakekku huh ...!?" geram wanita itu dengan nada yang tinggi.


Mendengar geraman wanita itu, posisi Daya dan Jaka berubah menjadi siap bertarung. Daya dan Jaka bisa merasakan keinginan membunuh dari wanita itu membesar setelah mendengar usulan Daya. Mengetahui hal itu, Daya bertanya kenapa wanita itu marah dengan tetap pada posisi bersiapnya.


"Maaf, bukannya seperti itu, karena setahu saya, Arbitrium itu bisa menyembuhkan luka yang diderita seseorang," ucap Daya mencoba meredakan emosi wanita itu.


"Manusia bodoh ... apa kau tidak tahu cara kerja Arbitrium ketika aura yang dihasilkannya menyentuh orang lain?" tanya wanita itu dengan nada yang tetap tinggi menatap Daya tajam.


"Ah ... saya pernah mencobanya ke Jaka." Daya menunjuk Jaka dengan jari telunjuknya. "Awalnya tubuh Jaka terdapat banyak luka, namun setelah diberikan sedikit aura, lukanya sembuh seketika," lanjut Daya dengan menatap tubuh Jaka yang telah sembuh.


"Kenapa bisa begitu?" tanya wanita itu melihat Jaka dengan tatapan yang tajam.


"Yah karena energi Arbitrium itu bisa menyembuhkan luka," jawab Jaka santai.


"Inilah yang membuat kalian bodoh! Kalian bahkan tidak tahu bagaimana cara kerja dari aura Arbitrium. Siapa yang mengajari kaliah huh!?" tanya wanita


itu dengan emosi yang masih terasa melalui suaranya.


*Sementara itu di suatu pondok.

__ADS_1


Tuan Abdi sedang memakan kentang rebus di depan halaman pondok menggunakan sebuah piring, secara tiba-tiba Tuan Abdi tersedak oleh kentang yang ia makan.


"Uhuk ... uhuk .... Akh, sialan! Siapa yang berani berbicara buruk tentangku di belakang huh ...!" seru Tuan Abdi terbatuk-batuk yang terdengar sangat keras.


*Kembali ke tempat Jaka dan Daya.


"Tidak usah membawa guru kau!" ucap Jaka terbawa emosi.


"Hah ... sudahlah, emosi ke orang seperti kalian tidak ada gunanya," ucap wanita itu setelah menghela nafas yang panjang mencoba meredakan emosinya.


"Huh ...?" Jaka yang merasa dirinya sedang dihina, bergerak menghampiri wanita itu.


"Sudahlah, Jaka. Jangan diterusi lagi," sela Daya mencoba menghentikan langkah Jaka.


Jaka pun mencoba mengendalikan emosinya dan berdiri lagi dengan tenang.


"Sepertinya kalian memang tidak tahu tentang aura itu, maafkan aku," ucap wanita itu meminta maaf.


"Ya, tidak apa. Bagaimana kelanjutannya? Apakah kamu masih mau bekerja sama?" tanya Daya ingin tahu bagaimana kelanjutan dari rencananya.


"Tentu saja, mari ikuti aku!" perintah wanita itu mangayunkan tangannya memerintah Daya dan Jaka agar mengikutinya.


Jaka dan Daya pun menyusul wanita itu.


"Cih ... dia mulai merasa seperti pemimpin," sindir Jaka mengejar wanita itu dan berjalan sejajar dengannya bersama dengan Daya.


"Siapa namamu?"


"Panggil saja Maya!" ucap Maya dengan tetap memandang ke arah depan.


"Ah, nama yang imut," ceplos Daya kepada Maya.


"A-a-apa yang kau katakan!? I-imut katamu!?" ucap Maya dengan kata yang terbata-bata. Pipi coklatnya terlihat kemerah-merahan menahan malu.


"Ah ... maaf, saya tidak bermaksud untuk menghina," ucap Daya memohon maaf atas ucapan yang ia lontarkan.


"T-tidak apa kok," ucap Maya dengan nada yang pelan menundukkan pandangannya.


Mereka sempat tidak berbicara selama beberapa menit, namun kesunyian ini dipatahkan dengan pertanyaan yang Jaka lontarkan,


"Namaku Jaka, dan dia Daya. Kau ingin membawa kita kemana? Di mana letak monster Verdon itu?"


Mendengar pertanyaan Jaka, Maya yang awalnya menundukkan pandangannya melihat ke arah Jaka,

__ADS_1


"Ah ... kita hanya tinggal mengikuti jalan setapak ini, lalu kita akan menemukan sebuah ladang tandus yang sudah ditinggalkan. Di sekitar sanalah terdapat gua tempat monster Verdon berada," jawab Maya dengan pipi yang terlihat masih kemerahan.


"Kita-kira berapa menit sampai ke sana?" tanya Jaka lagi.


"Sekitar dua puluh menit dari sekarang," jawab Maya memandang jalan yang dilaluinya.


"Hmm ...."


"Omong-omong apa yang kamu ketahui tentang aura Arbitrium?" tanya Daya memandang pungung Maya.


"Apakah kau benar-benar bisa menggunakan Arbitrium itu, Daya?" tanya Maya denga nada tidak percaya.


"Iya, aku belajar menggunakannya ketika berumur dua belas tahun."


"Hmm ... aku benar-benar tidak percaya energi Arbitrium bisa dikendalikan oleh anak dua belas tahun," ucap Maya menggelengkan kepalanya. "Aura yang dihasilkan oleh pengguna Arbitrium sangat berbahaya jika terkena oleh orang lain. Mereka yang bersentuhan dengan aura itu bisa terkena luka bakar yang serius hingga meninggal," jelas Maya dengan tetap memimpin jalan.


"Hah ...? Tapi itu tidak terjadi ketika saya memberikan aura itu kepada Jaka?" tanya Daya heran dengan penjelasan Maya.


"Ada beberapa kriteria aura tidak menyakiti orang lain, sajauh ini aku baru mengetahui bahwa orang yang tidak terkena efeknya adalah orang yang bisa


menggunakan Arbitrium juga," jelas Maya menghentikan langkahnya dan berbalik melihat wajah Jaka dan berkata, "Apa kau bisa menggunakan Arbitrium juga?" tanya Maya dengan menyipitkan bola matanya yang indah.


"Mana aku tahu," jawab Jaka singkat.


Mendengar jawaban Jaka, Maya menghela nafasnya singkat dan berbalik melanjutkan perjalanan.


"Hmm ... pasti Jaka secara tidak sadar telah menggunakan energi Arbitrium. Berarti Jaka telah membuka jalur Arbitrium dari emosi yang dalam. Pantas dia memiliki karakter yang pemarah," batin Maya dengan menundukkan pandangannya.


Mereka bertiga pun berjalan pergi menyusuri jalan setapak. Daya dan Jaka mengikuti setiap jalan yang Maya lalui. Mereka berjalan tanpa ada hambatan sedikitpun, membuat waktu dua pulih menit terasa lebih cepat. Saat mereka sedang berjalan dengan tenang, dari kejauhan tampak akhir dari area hutan. Saat telah berada di akhir area hutan, mereka melihat lahan tandus sama seperti yang Maya katakan. Ini adalah ladang tertinggal yang luas, tanahnya pun sudah mengering dan terlihat pecah-pecah, beberapa tempat untuh berteduh telah runtuh dan rusak. Mereka menghentikan langkahnya sesaat setelah Maya berhenti.


"Baiklah, mungkin monster ini adalah monster terkuat yang pernah kalian hadapi. Namun, kita akan menghadapinya bertiga. Apa yang bisa kau lakukan Daya?" tanya Maya memandang ke arah Daya.


"Ah ... aku bisa menggunakan elemen angin dan tombak," ucap Daya sembari mengangkat tombak berselimut kain berwarna hitam yang sedari tadi Daya pegang di tangan kirinya.


"Bagus, Kalau kau?" tanya Maya lagi memalingkan pandangan ke arah Jaka.


"Aku sebenarnya bisa menggunakan pedang, tapi saat ini pedangku sudah hilang. Tapi aku masih bisa menggunakan elemen api dan bela diri tangan kosong!" jelas Jaka dengan mata yang berapi-api.


"Oke, aku tahu apa yang harus dilakukan, aku akan memberitahu apa yang aku tahu kepada kalian nanti," ucap Maya memandang ke arah hamparan ladang yang tandus.


\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


Wahh ... Terima kasih sudah membaca novel saya teman teman. Segala kritik dan saran yang membangun akan saya terima dengan senang hati :))


Jika ada salah penulisan atau typo tolong diberitahukan. Karena saya menjadi writer sekaligus editor novel ini. Sampai jumpa di hari esok, Bye bye :))


__ADS_2