
Pernahkah kalian merasakan hembusan angin malam ketika menghadapi sakitnya dunia? Jika belum maka cobalah, sungguh hembusan angin itu membawa pergi luka yang kau rasa ke tempat semestinya dan hembusan itu juga yang akan mengobati sakit dan perih yang kau terima.
- Daya.
\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=
Daya merasakan sakit saat darah bercucuran menembus baju coklat pemberian Dewi dan pedih Daya terima ketika luka sayatan di sekitar perut mengenai peluh keringatnya. Daya berjalan tertatih-tatih sembari mengangkat baju dengan tangan kanannya dikarenakan perih yang Daya rasakan ketika gesekan antara baju dan luka sayat bersatu. Matahari sudah mulai tenggelam di arah barat, Daya mempercepat langkahnya untuk kembali ke pondok untuk beristirahat.
Ketika Daya sampai di pondok, tidak tampak orang sejauh mata memandang, situasi sepi dan sunyi. Sebelum Daya masuk ke kamarnya, Daya pergi ke area belakang pondok untuk mencuci darahnya di air yang mengalir. Daya duduk di batu pinggir sungai, membuka bajunya dan meneteskan beberapa air di atas lukanya.
"Akhhhh ...!" jerit Daya kesakitan karena darah sudah tampak menggumpal di area luka yang ia terima.
Setelah beberapa detik mengontrol nafas agar teratur, Daya meneteskan lagi air di atas lukanya itu. Daya membersihkan darah yang menggumpal di sekitar lukanya. Ketika Daya rasa sudah bersih, akhirnya Daya memutuskan untuk pergi beristirahat di kamarnya. Daya membuka pintu kamarnya dan melihat kearah jam. Tarpampang jelas waktu menunjukkan pukul 17:12. Dikarenakan kelelahan akibat belajar dan menahan sakit yang ia rasakan, Daya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Ketika Daya masih dalam keadaan lelapnya tidur, Daya merasakan luka di sekujur perutnya mulai terasa jauh lebih baik, Daya juga merasakan ada orang yang menyentuh perutnya. Awalnya Daya mengira masih berada dalam gemerlapnya mimpi, namun lama kelamaan Daya merasa kalau yang ia rasakan bukanlah mimpi. Daya membuka matanya dan bergerak secara sepontan. Namun dikarenakan lukanya yang belum sembuh total, Daya merasakan sakit yang luar biasa akibat kontraksi otot di perutnya.
"Ahhh ... Tuhan ... Sakit sekali ....!" rengek Daya memegang perutnya menahan perih dan sakit yang menjalar dari perut menuju otaknya.
Daya membuka matanya dan melihat ke arah depan untuk meyakinkan perasaannya bahwa ada orang yang menyentuhnya. Namun Daya tidak melihat siapapun, hal yang Daya bingung adalah terdapat makanan yang masih terlihat panas di meja kecil tempat biasa menaruh makanan. Daya melihat ke arah jam dinding dan jam menunjukkan pukul 18:45. Daya melihat perutnya yang terasa lebih baik, ternyata terdapat perban dan obat bewarna coklat yang mengitari pinggang menutupi luka di perutnya.
"Ahh ... Jangan-jangan Dewi sudah ...?" belum sempat Daya meneruskan perkataannya Daya langsung bangkit dari tempat tidurnya untuk mencari Dewi.
Dengan tangan yang memegang perutnya, Daya mencari Dewi di sekitar pondok. Terlihatlah Dewi sedang memasak makanan di dapur. Daya melihat Dewi Dari arah belakang sedang memasak nasi di atas perapian menggunakan tungku yang besar. Di sela kesibukannya, Dewi terkadang terlihat menyeka keringat yang keluar dari wajah cantiknya menggunakan sapu tangan.
"Anu ..." kata Daya dari arah belakang Dewi.
Dewi pun menoleh ke belakang dan terkejut dengan keberadaan Daya di depannya.
"Eh luka tuan baru aja saya obati, kok malah berjalan kemari? Lebih bagus tuan tidur di kamar!" pinta Dewi dengan mata yang bersinar.
"Tolong panggil Daya saja, agak aneh kalau saya dipanggil tuan. Ngomong-ngomong apakah kamu yang mengobati ku Dewi?"
__ADS_1
"Iya tuan ... Eh D-Daya." Dewi membiasakan memanggilnya dengan nama.
"Ketika saya mengetuk pintu, kamu tidak menjawabnya. Karena khawatir saya langsung masuk saja kedalam. Saya kaget melihat luka yang kamu alami, itu adalah luka yang mengerikan. Jadi saya mengobatinya dengan apa yang saya bisa.
"Omong omong siapa yang melakukannya?" tanya Dewi dengan nada sedikit marah.
"Apakah kamu memberitau luka yang saya alami kepada Tuan Abdi dan Ben?"
"Belum Daya, aku berniat memberitahukan ketika saya selesai memasak. Apakah itu boleh?"
"Ah tolong perihal luka yang saya alami jangan diberitahukan kepada siapapun. Terutama Tuan Abdi ya, Dewi! Ini hanya luka karena latihan," ucap Daya berbohong dan memohon kepada Dewi.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Ah ... Ini baju untuk mu, baju yang bewarna coklat sudah terkena bercak darah dan itu sulit untuk dihilangkan," Dewi memberikan baju baru bewarna hitam polos kepada Daya.
"Terima kasih banyak Dewi, aku berhutang padamu dan maaf telah merusak baju pemberian mu," ucap Daya sembari mengenakan pakaian bewarna hitam dan tersenyum ke arah Dewi. Gigi putih terlihat di wajah Daya dengan kulit berwarna coklat itu.
*Deg... Deg....
"Ah ... Apa yang kupikirkan, Daya berumur jauh di bawahku dan aku sudah seperti kakak untuknya." Dewi menghentikan lamunannya sambil menggeleng - geleng kan kepalanya.
Daya yang melihat tingkah Dewi yang aneh lantas bingung dengan sikap nya.
"Ah ... Tidak usah dipikirin Daya, aku sudah mengganggap mu seperti adikku sendiri," ucap Dewi mencoba mengalihkan perhatian Daya yang ia yakin Daya bingung dengan tingkahnya.
"Kalau begitu aku permisi," Daya pergi meninggalkan Dewi untuk pergi menuju kamarnya.
Ketika Daya sudah berada di depan pintunya, Daya teringat perkataan Tuan Abdi tentang darah monster yang mengandung cairan kimia. Daya pun mengurungkan niatnya untuk beristirahat dan lebih memilih untuk mempelajari darah monster lebih dalam ke Tuan Abdi. Daya pergi ke tempat Tuan Abdi berada, terlihatlah Tuan Abdi sedang memandang gelapnya malam melalui pintu keluar. Sebelum Daya ingin menegurnya, Tuan Abdi sudah berkata lebih dulu,
"Aku suka suasana di mana tidak ada kegiatan berlangsung, di mana tidak ada orang yang berlalu-lalang dan tidak pula ada orang yang berbicara dengan nada menantang. Yang ada hanya ketenangan dan kesunyian sejauh mata memandang!"
Daya mendekati Tuan Abdi dan ikut memandangi saat di malam hari. Hembusan angin menerpa tubuh mereka mesra bagaikan sentuhan seorang ibu.
__ADS_1
"Aku juga suka malam, terlebih saat ada angin yang berhembus. Anginnya sangat tenang dan damai. Beban ku seakan hilang dibuatnya,"
"Kau suka dengan angin bocah?" tanya Tuan Abdi memandang Daya yang berdiri di sebelahnya.
"Iya ... Aku suka angin, mereka bagaikan hal yang melindungi ku dari kejahatan dunia."
"Hmm ..." Tuan Abdi menghela nafas. "Ada apa tujuanmu mencariku bocah?" tanya Tuan Abdi bertanya sembari melangkah duduk di kursi yang berada di sebelah kanan ruangan.
Di sebelah kanan Ruangan terdapat tiga kursi yang di tengahnya terletak meja untuk menaruh sesuatu. Di sebelah kiri ruangan adalah tempat biasa Tuan Abdi dan Ben mengerjakan sesuatu dan di depan ruangan terdapat pintu besar untuk keluar dan masuknya penghuni pondok. Tuan Abdi mengangkat kaki satunya dan menaruhnya di atas pahanya.
"Aku teringat perkataan tuan tentang beberapa monster yang darahnya dapat membuat luka bakar di kulit jika bersentuhan dengannya. Adakah ciri-ciri khusus untuk monster yang memiliki darah itu?" tanya Daya berdiri dihadapan Tuan Abdi.
"Agak rancu kalau kau bertanya tentang ciri-cirinya, karena pada dasarnya kita hanya bisa mengetahui hal itu jika kita sudah menebasnya lalu darah monster itu jatuh ke tanah atau darah itu terkena oleh mu sendiri,"
"Begitu ya ..." ucap Daya lesu dan menundukkan kepalanya.
"Tsk ... Tunggulah di sini, aku mau mengambil sesuatu!" perintah Tuan Abdi melangkah ke sebuah ruangan.
"Apa yang ingin Tuan Abdi tunjukkan padaku ya?" tanya Daya dalam hatinya.
Tuan Abdi kembali dari ruangan itu membawa sebuah buku bersampul hijau dan sedikit tebal. Tuan Abdi memberikannya kepada Daya seraya berkata,
"Ambil ini dan pahami itu sendiri, jika sudah selesai kembalikan padaku!"
Daya menerima buku itu dan membaca judulnya: 'Monster dan Segala Isinya'. Daya berterima kasih pada Tuan Abdi dan melangkah masuk ke kamarnya. Daya menaruh buku itu di atas meja besar dan duduk di atas kursi yang sudah disediakan. Daya melihat sampul buku itu dengan teliti mulai dari bagian depan dan berakhir di bagian belakang. Di bagian depan tertulis judul dan sub judul. Untuk sub judul tertulis kecil: 'Yang Telah Diketahui'.
"Berarti masih banyak monster yang masih belum diketahui yah?" batin Daya.
Daya pun melihat kebagian belakang buku, tapi Daya tidak melihat apapun kecuali warna hijau polos. Tanpa berlama-lama lagi Daya membuka buku itu dan mulai membaca isinya.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.