
Melihat apa yang Livia lakukan, Jaka, Maya dan Daya terkejut dibuatnya. Mereka bertiga tidak mengetahui serangan macam apa yang akan Livia keluarkan. Namun satu hal yang pasti, kali ini Livia terlihat sangat serius.
"Apa yang akan perempuan ini lakukan?" batin Daya menyiapkan dirinya dengan serangan yang akan Livia keluarkan.
Livia menyiapkan kuda-kudanya, sedikit demi sedikit kedua tangan Livia terangkat lalu menghentakkannya kuat ke arah depan. Bersamaan dengan itu elemen air miliknya terlihat bergerak dengan cepat dari kedua lengannya. Sebuah elemen air dengan pengontrolan yang sangat hebat telah Livia keluarkan.
Sebanyak dua aliran air berbentuk jarum tajam melesat cepat mengincar tubuh Jaka. Aliran air yang Livia gunakan bergabung langsung dengan kedua tangannya sehingga Livia dapat mengendalikan elemen airnya dengan sangat mudah. Livia terus mengarahkan elemen air yang berada di lengannya mengincar titik lemah Jaka seolah menggunakan sebuah cambuk.
Jaka berusaha sekuat tenaga memotong elemen air yang Livia gunakan, namun ketika pedang api birunya menyentuh elemen air milik Livia, pedang Jaka seakan hanya memotong udara. Pedang milik Jaka hanya menembus elemen air yang Livia gunakan.
Tidak Jaka sangka sebelumnya, saat pedang miliknya telah berhasil memotong elemen air milik Livia, elemen air itu dapat kembali bersatu. Karena kaget, pertahanan Jaka sempat terbuka, melihat hal itu Livia langsung menusuk kedua bahu Jaka menggunakan elemen airnya.
Srakk Srakk.
Ini adalah kali kedua Jaka mendapatkan luka yang Livia berikan, sedang Livia belum menerima luka sedikit pun.
"Akhh ..., perempuan sialan! Aku harus mencari cara agar bisa mendekatinya. Jika aku terus bermain dari jauh, itu hanya akan menguntungkannya!" batin Jaka dalam hati sembari menahan luka di bahu kanan dan kirinya.
Jaka terlihat melompat ke arah belakang untuk mencari celah yang bisa ia temukan, dan benar saja. Saat Jaka telah melompat ke arah belakang sejauh beberapa meter, elemen air yang Livia gunakan ternyata tidak mampu meraihnya.
"Heh, ternyata elemen airmu punya jarak maksimal, yah?" ucap Jaka berlaga santai padahal dirinya kini sedang menahan rasa sakit di bahunya.
"Hihihi, benar. Namun bukan hanya ini yang bisa Livia lakukan." Livia tertawa sembari menutup mulutnya. "Livia tahu Jaka belum serius, tolonglah untuk bertarung dengan serius, Jaka! Livia juga ingin berkembang dan Livia tidak ingin menjadi beban!" timpal Livia memohon kepada Jaka.
__ADS_1
"Kenapa harus serius agar bisa berkembang?" tanya Jaka terheran.
"Livia pernah mendengar perkataan kakek Eko sebelumnya tentang syarat untuk menjadi kuat. Kakek berkata, 'seseorang hanya akan melewati batasan diri jika pernah merasakan sakitnya berdiri di ambang kematian!'"
"Kakek macam apa yang mengajari cucunya perkataan seperti itu?"
"Bukan seperti itu, Jaka! Maksud dari kakek Eko adalah ingin memberitahu Livia bahwa kita harus berusaha dengan segenap usaha dan kemampuan yang kita bisa! Jadi jangan ada lagi yang namanya menahan diri!"
"Baiklah jika itu maumu!" ucap Jaka lalu memandang ke arah Daya. "Hei, Danu! Jika Livia terluka kau harus menggunakan energi Arbitrium untuk mengobatinya!"
"Tidak bisa, Jaka! Apa kau lupa tentang energi Arbitrium? Energi itu hanya bisa diberikan kepada orang yang juga mempunyainya!" teriak Daya dari kejauhan.
"Lantas kenapa kau bisa memberikan energi itu kepadaku!? Aku bukanlah orang yang bisa menggunakan energi Arbitrium!"
Author Note:
Jika energi Arbitrium dialirkan ke seluruh tubuh, maka energi itu akan berubah menjadi aura Arbitrium. Jika energi Arbitrium digunakan untuk mengeluarkan elemen, maka elemen yang digunakan akan semakin besar dan kuat. Jika aura Arbitrium terkena oleh orang yang tidak memiliki energi Arbitrium, maka akan menghasilkan reaksi kimia yang sangat parah, seperti terbakar.
Jika aura Arbitrium terkena oleh orang yang juga mempunyai energi Arbitrium, maka orang yang terkena akan merasakan tubuh si pengguna seperti memakai zirah yang sangat keras.
Jika seseorang pengguna mengalirkan energi Arbitriumnya (Bukan dalam bentuk Aura) kepada orang yang juga memiliki energi Arbitrium, maka tubuh orang yang menerima akan menghasilkan aura si pengguna, kemudian aura itu berubah menjadi energi yang akan diterima oleh si penerima. Jika seseorang pengguna mengalirkan energi Arbitrium kepada orang yang tidak memiliki energi Arbitrium, maka tubuh si penerima akan terluka sangat parah.
Jaka kembali memandang Livia tajam, setelah menghela nafasnya pelan, Jaka menyetujui permintaan Livia. "Kau yakin? Jika kau terluka parah itu bukan salahku, ya!"
__ADS_1
"Livia yakin, Jaka!"
Mendengar jawaban Livia, Jaka hanya membalikkan arah pedangnya ke arah belakang. Setelah Jaka memegang pedangnya dengan arah yang berlawanan, Jaka terlihat mematahkan lehernya ke kanan dan kiri, suara tulang yang Jaka patahkan terdengar begitu kuat. Tanpa menunggu lama lagi, Jaka langsung merapalkan salah satu elemen api yang ia sering gunakan.
"Elemen Api: Sang manusia api!" rapal Jaka sembari mengayunkan tangan kanannya vertikal.
Bersamaan dengan ayunan yang Jaka lakukan, muncullah api merah berbentuk seperti manusia keluar dari tangan kanannya. Dengan cepat manusia api itu bergerak dengan gerakan yang tidak manusiawi. Api yang berbetuk seperti manusia milik Jaka itu memegang sebuah palu api berwarna biru. Badan elemen api yang Jaka keluarkan berwarna merah, sedang palu yang dibawanya berwarna biru terang.
Api berbentuk manusia itu bergerak dengan sangat cepat menuju arah Livia. Tidak tinggal diam ketika melihatnya, Livia mengubah elemen air yang berada di lengannya menjadi puluhan panah yang siap diluncurkan kapan saja.
Panah-panah yang terbentuk dari elemen air milik Livia tengah mengambang di atas udara. Saat jarak manusia api milik Jaka sudah hampir dekat dengan Livia, Livia menjentikkan jarinya.
Ctakk.
Seketika panah-panah air yang mengambang di udara mengincar manusia api yang sedang bergerak ke arah dirinya. Saat panah air milik Livia hampir mengenainya, manusia api itu mengayunkan palunya ke kanan dan ke kiri. Ayunan palu manusia api dapat mematahkan semua panah air yang Livia luncurkan dengan sangat mudah.
Keadaan semakin terdesak, jarak semakin dekat dan waktu terus berdetak. Livia harus melakukan sesuatu sebelum manusia api itu datang mendekatinya. Livia menyempatkan diri untuk melirik ke arah belakang manusia api agar dapat mengantisipasi gerakan yang akan Jaka lakukan. Namun saat matanya melihat ke tempat terakhir kali Jaka berdiri, Jaka sudah tidak berada di tempatnya.
Mengetahui Jaka telah menghilang, Livia sangatlah panik. Livia mencoba berpikir dengan keras langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Semakin lama Livia berpikir, semakin dekat juga manusia api itu darinya. Berhubung jarak Livia dan manusia api sudah semakin dekat, Livia memutuskan untuk tidak memperdulikan Jaka untuk sementara dan lebih memilih untuk menghentikan manusia api yang tengah bergerak dengan cepat ke arahnya.
Namun saat Livia baru ingin mengeluarkan elemen airnya untuk menghentikan sang manusia api, tiba-tiba Jaka sudah berada di atas manusia api buatannya tengah melompat sembari menghunuskan pedangnya ke arah Livia. Saat itu Livia kaget bukan kepalang, rencananya buyar seketika melihat Jaka dan manusia api miliknya telah berada di hadapannya.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.