Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 70: Latihan Bersama, Daya vs Maya (3/3).


__ADS_3

Maya menunduk menggunakan kaki dan tangannya untuk menghentikan campakkan akibat serangan Daya, setelah berhenti Maya kemudian berdiri dengan tegap seolah tidak terjadi apapun padanya.


Maya menepuk-nepuk kedua tangannya lalu berkata dengan santai sembari tersenyum, "Tidak buruk, tapi sepertinya pukulanmu kurang kuat, Daya."


Seakan tidak percaya apa yang ia lihat, selama beberapa detik Daya mengucek kedua bola matanya. Daya menunjukkan wajah bingung lalu bertanya, "Bagaimana mungkin kamu tidak sedikit pun terluka, Maya? Apa kamu menggunakan suatu elemen untuk menetralkan pukulanku?"


"Hahahaha, tentu saja tidak. Itu karena aku selalu melatih tubuhku ini. Walaupun aku perempuan, aku selalu melatihnya lebih kuat dari pada lelaki pada umumnya. Maka dari itu aku memiliki tubuh seperti ini!" jawab Maya sembari menunjukkan otot-otot besar di lengannya.


Dari kejauhan Jaka langsung menyela ucapan Maya dan mengejeknya, "Dari pada terlihat seperti perempuan, kau lebih mirip seperti gorila sungguhan, hoi! Aku yakin tidak akan ada lelaki yang akan suka denganmu!" ejek Jaka setengah berteriak.


Merasa kesal dengan ejekan Jaka, Maya hanya mengepalkan tangannya kuat tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Terlihat urat di lengannya mengakar kuat.


***


Setelah suasana telah kembali tenang, Daya dan Maya kembali pada posisi bersiap-nya. Mata mereka saling bertatapan tajam, kuda-kuda mereka terpasang kuat dan mereka telah siap akan setiap serangan yang akan datang menghampiri dan telah siap melancarkan serangan. Tanpa menunggu waktu lama, Maya dengan cepat mengambil anak panahnya lalu menaruh panah itu di busurnya kemudian menarik dan melepaskan dua anak panah mengincar tubuh Daya.


Daya dapat dengan mudah menghindari serangan Maya berkat bantuan energi Arbitriumnya. Dengan tangan kosong Daya dapat menangkap lalu mematahkan dua anak panah milik Maya. Setelah mematahkan dua anak panahnya, Daya langsung bergerak dengan cepat menuju arah Maya. Kecepatan Daya tidak dapat dilihat oleh Maya.


Duagg Duhagg.


Dua pukulan telak Daya luncurkan mengenai bahu Maya kemudian kembali menendang perutnya dengan segenap kekuatan yang Daya miliki, Maya tercampak beberapa meter akibat kuatnya tendangan Daya. Namun lagi dan lagi Maya dapat bangkit seolah tidak merasakan serangan yang Daya berikan. Tidak menyerah, Daya kembali berlari kemudian memukul dan menendang tubuh Maya berulang kali. Selama beberapa menit Daya melakukan itu, namun tetap Maya seperti tidak merasakan apapun.


Daya menjaga jarak dari Maya, mengontrol nafasnya yang berantakan kemudian bertanya, "Hahh ... hahh ..., kenapa pukulanku tidak berdampak padamu, Maya?" tanya Daya dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


"Bukan tidak berdampak, Daya. Aku merasakan pukulanmu dan aku juga merasakan sakit di area yang kau pukul, namun seranganmu seakan sembuh hanya beberapa detik sesudahnya.


"Pukulan serta tendanganmu tidaklah kuat. Rasanya percuma jika kau memiliki energi Arbitrium jika kekuatanmu tidak sebanding dengannya!" jawab Maya setelah memasang kuda-kudanya.


Daya menggertakkan giginya, ia benci dengan dirinya sendiri. Daya merasa dirinya terlalu lemah, Daya merasa usahanya selama ini telah sia-sia, dan Daya langsung berjanji akan berlatih lebih keras lagi. Kali ini Daya menatap mata Maya dengan pandangan yang berbeda. Daya memasang kuda-kudanya dengan perlahan sembari menghirup banyak udara di paru-parunya. Saat paru-parunya telah terisi dengan udara, Daya menendangkan kakinya ke atas tanah dengan kuat.


Sreekkkkkk.


Saat kaki Daya menghentak tanah, seketika tanah retak menjadi dua bagian. Retakan itu sedikit demi sedikit memanjang menuju arah Maya. Merasakan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi jika ia tidak bergerak dari retakan itu, Maya melompat dengan tinggi kemudian membidikkan panahnya ke arah Daya. Namun Maya kembali dibuat kaget saat ia melihat Daya telah hilang dari tempat awalnya.


Duaaggg.


Maya merasakan tendangan tepat di punggungnya, ternyata dengan pergerakan yang sangat cepat Daya sudah berada di belakang Maya. Tendangan Daya membuat Maya tercampak jatuh ke atas tanah. Maya mencoba bangkit secepat yang ia bisa lalu kembali membidikkan panahnya ke tempat terakhir Daya berada. Namun lagi dan lagi Maya tidak melihat Daya berada di tempatnya. Dengan cepat Maya melihat ke segala penjuru untuk mengetahui posisi Daya saat ini. Maya harus menelan pil pahit bahwa ia tidak dapat melihat di manapun Daya berada.


Saat Maya masih mencari Daya, tanpa sepengetahuan Maya ia kembali terkena pukulan di dagu dan tendangan di perut. Ketika terkena tendangan, Maya kembali tercampak sejauh beberapa meter. Daya terlihat berdiri tegap tepat di mana Maya berdiri sebelumnya. Terlihat Daya tengah mengontrol nafasnya yang memburu cepat akibat bergerak begitu cepat.


Peluh keringat membasahi wajah, baju serta celana Daya. Namun sayangnya segala pukulan serta tendangan yang Daya berikan tidak berefek kepada Maya. Maya telah berdiri dengan tegap, walaupun kecapaian, Maya terlihat masih bisa untuk melanjutkan pertarungan. Tidak seperti Maya, Daya benar-benar telah berada pada batasnya.


Daya terjatuh ke belakang kemudian menutup kedua matanya. Daya terlihat masih berusaha mengontrol nafasnya yang berantakan.


Melihat Daya yang tiba-tiba terjatuh, Maya panik kemudian berteriak, "Kau tidak apa, Daya!?" Mendengar teriakkan Maya, Daya hanya menjawabnya dengan mengangkat jempolnya tinggi.


Mengetahui Daya hanya kecapaian, Maya menghela nafas lega. Ia menghampiri Daya yang tengah tertidur di atas tanah kemudian ikut berbaring di sebelahnya. Mereka berdua menatap birunya langit dan mendengar suara cicitan burung yang terbang tinggi dengan bebas.

__ADS_1


"Latihan seperti apa yang saya harus lakukan agar bisa sekuat dirimu, Maya?" Daya memalingkan pandangannya melihat ke arah Maya.


"Aku akan mengajarimu, sebagai gantinya kau harus memberitahuku semua tengang energi Arbitrium," jawab Maya yang juga memalingkan pandangannya melihat ke arah Daya.


"Hehe, setuju." Daya mengangkat jari kelingkingnya tinggi, Maya langsung menyambut jari kelingking Daya dengan kelingking miliknya.


Mereka berdua pun tertawa selama beberapa detik. Saat berhenti tertawa, mereka saling memandang satu sama lain. Sedikit demi sedikit terlihat kulit Maya yang coklat itu berubah menjadi kemerahan. Karena malu, Maya memalingkan pandangannya ke arah lain.


Pertarungan Maya dan Daya telah berakhir, pertarungan ini dianggap seimbang. Mereka berdua telah mendapatkan pengalaman dan telah mengetahui kelemahannya. Selama beberapa hari ke depan Daya dan Maya akan berlatih cara menutupi kelemahan yang mereka miliki. Daya teringat perkataan tuan Abdi tentang kelemahan.


"Kalau tidak salah tuan Abdi pernah berkata, 'Orang yang akan memegang kunci kemenangan adalah dia yang mengetahui kelemahannya dan berusaha untuk menutupinya walau hanya sekedar.' Haha, terima kasih atas nasihatnya, tuan!" batin Daya sembari melihat birunya langit di pagi hari itu.


Author Note:


Selama pertarungan, Daya hanya menggunakan energi Arbitrium sebagai tambahan energi. Daya tidak sedikitpun menggunakan auranya ketika memukul Maya. Jika Daya menggunakan auranya, maka akan ada beberapa hal yang berubah.


Pertama Daya akan menyakiti Maya karena aura Arbitrium sangat berbahaya jika terkena oleh orang yang tidak memiliki energi itu. Kedua pukulan serta tendangan Daya akan lebih kuat dua kali lipat dan kemungkinan besarnya akan melukai Maya. Lalu yang terakhir segala senjata biasa yang menyerang tubuh Daya akan patah seketika, karena aura Arbitrium juga berguna sebagai tameng.


Namun ada yang perlu digarisbawahi, jika Daya terlalu lama menggunakan energi Arbitrium, baik energi maupun auranya. Maka tubuh Daya akan terkena imbasnya, energi Arbitrium miliknya akan balik menyerang tubuh Daya.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2