Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 1


__ADS_3

Anak remaja bernama Indra itu terpaksa pergi ke rumah salah satu kerabatnya untuk bekerja. Dia tidak menyelesaikan sekolahnya karena keluarganya tak mampu lagi membiayainya. Keuangan keluarganya merosot setelah bapaknya mempunyai istri yang lain. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan lagi di kampung halamannya, kampung yang terkutuk dan terpencil di antara kampung yang lain, dia terpaksa menuruti permintaan ibunya, pergi merantau.


Di kota Jambi, di rumah salah satu kerabat, dia tinggal. Namun dia diperlakukan tak lebih dari sekedar orang asing yang bagaikan benalu. Sehari setelah dia sampai di situ, dia langsung disuruh bekerja membersihkan seluruh rumah dan seringkali melewatkan sarapannya.


Karena setelah semua itu selesai, dia langsung dibawa ke tempat pamannya bekerja dan membantunya di sana.


Pamannya berjanji akan memberikan upah padanya kalau dia bekerja dengan baik.


"Indra, kerjaan kamu cuci motor. Nanti paman juga ajarin kamu tambal ban dan service kendaraan. Gajimu setiap hari paman kumpulin, dan akhir bulan akan paman kasih. Ok!"


"Yah paman." Jawabnya tertunduk lalu pergi mengambil pekerjaannya.


Di sana dia langsung menyuci satu unit motor. Pamannya melihat bahwa dia bekerja dengan baik dan cepat. Maka pamannya menyuruhnya menyuci beberapa motor yang tadinya dikerjakan oleh orang lain, sementara mereka disuruh menambal ban dan service lainnya.


Dengan penuh semangat dia melakukannya karena memikirkan upah yang akan diterimanya di akhir bulan.


"Wah..., istirahat dulu indra. Sejak pagi kamu terus bekerja tanpa istirahat. Yang lain udah pada makan tuh. Ini udah siang lho." Ujar salah satu karyawan yang melihatnya masih menggosok-gosok bodi motor dan tangannya penuh busa.


"Iya bentar lagi. Tanggung nih." Dia terus melanjutkan pekerjaannya sekalipun perutnya telah nyaring berbunyi. Rasa lapar sejak tadi pagi ditahannya demi menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya.


Akhirnya ketika waktu menunjukkan pukul 2 siang, dia duduk dan meneguk segelas air dingin untuk melegakan kerongkongannya yang kering sejak tadi. Saat air itu mengalir di kerongkongannya, dia merasa kerongkongannya seperti dilumasi oleh minyak yang baik.


Perlahan tenaganya sedikit pulih sehingga kakinya memiliki daya pergi ke kantin membeli makan.


Tapi ketika dia berjalan ke depan, pamannya memanggilnya dan menyuruhnya melakukan pekerjaan yang lain.

__ADS_1


"Indra! Mau kemana kamu? Itu ada motor. Cuci geh!" Tuturnya lalu pergi.


"Hah..." Dia menghela nafas panjang dan tertunduk sedih. Tapi karena rasa lapar tak bisa ditahan lagi, dia memilih pergi ke kantin.


Di sana dia makan terburu-buru dan nyaris tersendak.


"Makan pelan-pelan dek. Tar kalau kamu mati tersendak gimana? Kan ibu bisa rugi karena kamu nggak bayar." Tutur si ibu kantin.


"Iya bu." Jawabnya tertunduk sambil batuk-batuk.


Namun seolah tak menghiraukannya, dia tetap makan terburu-buru karena khawatir pamannya mencarinya.


"Bu, ini uangnya. Makasih yah bu." Dia pergi terbirit-birit setelah menghabiskan makanannya.


Tapi ternyata uang yang dibayarnya kurang sehingga si ibu berteriak memanggilnya, namun sayang teriakan itu sia-sia. Si ibu kantin pun mengomel,"Ih... dasar anak-anak zaman sekarang! Bandelnya.... minta ampun. Awas kalau besok dia makan di sini! Ibu tambahin harganya dua kali lipat karena utangnya berbunga."


"Iya bu. Jangan gitu. Memang kurang berapa sih bu?"


"Kurang dua ribu."


"Astaga bu. Baru dua ribu. Nih saya bayar sekalian punya saya."


"Gitu dong. Lagi banyak duit yah bisa bayarin orang?" Tanya si ibu kantin.


"Nggak juga bu. Tapi uang dua ribu nggak akan buat kita jatuh miskin."

__ADS_1


Si ibu kantin mengomel mendengar ucapannya karena merasa diceramahi dan kembali ke dapur. Tapi ketika orang-orang yang makan itu hendak pergi, si ibu kantin tiba-tiba nongol di depan mereka dan bilang,


"Jangan kapok makan di sini yah. Besok makan di sini lagi. Ibu nggak bikin mahal-mahal kok. Yah?" Tuturnya sambil melempar senyum.


"Iya bu. Kami tetap akan makan di sini. Soalnya masakan ibu tuh enak."


"Pinter..." Si ibu kantin tersenyum lebar.


**********


Sementara itu, anak remaja bernama indra itu dimarahi habis-habisan oleh pamannya karena membuat pelanggan menunggu lama.


"Hei, kamu dari mana saja sih? Kenapa motor itu tidak dicuci? Gara-gara kau pelanggan kita menunggu lama. Lihat! gara-gara kau dia pergi ke bengkel sebelah. Uang paman jadi berkurang, pindah ke tangan orang lain! Itu artinya, upahmu pun nanti akan berkurang!"


Namun selama dia dibentak, dia tak berani membela diri mengatakan alasan sebenarnya. Mata orang-orang yang melihatnya di keramaian itu membuat mentalnya semakin lemah. Tak ada yang bisa dia perbuat selain tertunduk dan kembali bekerja.


Dia pun pergi ke bagian cuci motor dan mulai bekerja. Lalu ketika dia sedang membersihkan sepeda motor, salah satu karyawan menghampirinya dan bilang, "Indra, dari tadi pamanmu selalu marah-marah. Padahal tadi aku sudah nawarin diri menggantikanmu, tapi pamanmu nggak mau. Aku udah bilang kau lagi makan siang, tapi pamanmu tetap nggak peduli. Lain kali, kalau waktunya makan siang, makan siang aja. Tinggalin tuh kerjaan. Daripada kamu nahan lapar tapi nggak dihargai. Maaf yah, bukan maksudku mengadu domba kalian, tapi aku kasihan samamu. Sejak pagi kau belum makan. Kalau kau sakit, gimana? Kan nggak bisa kerja."


"Iya. makasih yah." Balasnya lalu lanjut bekerja karena dia melihat pamannya berjalan ke arahnya. Begitu juga dengan yang lain, kembali serius bekerja.


************


Seharian itu dia membersihkan sepuluh sepeda motor, menambal lima ban, membuatkan kopi untuk pamannya tiga kali, dan belajar service. Hari pertama dia bekerja benar-benar melelahkan dan membuatnya tegang. Tapi karena memikirkan upahnya, dia tak menghiraukan beban itu.


Ketika hari sudah sore, dia ditugaskan merapikan semua perlatan dan memastikan semuanya baik, sedangkan yang lainnya sudah disuruh pulang.

__ADS_1


Dan sementara dia melakukan tugas akhirnya, pamannya duduk menunggu diluar sambil bermain game di ponselnya.


Barulah setelah semuanya baik dan pintu terkunci, mereka berdua pulang ke rumah. Namun dalam perjalanan, pamannya tidak bicara sedikit pun padanya, hanya fokus menyetir mobilnya.


__ADS_2