
Hari itu dia menanyai beberapa temannya, mencari pekerjaan yang cocok untuk adiknya, Indra. Tapi semua yang dia tanyai membutuhkan Izazah walau hanya sebagai cleaning service.
Sementara itu, Indra tidak pergi bekerja mengumpulkan batu karena seluruh tubuhnya lelah dan sakit, kaki, tangan, juga pinggangnya.
Tak ada apapun yang dia kerjakan selain berbaring sambil bermain game di ponselnya.
Ibunya pun tidak tega menyuruhnya membantunya di ladang ataupun meminta uang darinya.
Lalu ketika hari menjelang sore, salah satu temannya menghubunginya dan mengajaknya pergi. Waktu itu ibunya belum pulang dari ladang. Indra dan temannya itu pergi dengan sepeda motor. Di jalanan yang menikung dan menurun, temannya bergaya seperti pembalap Moto GP yang beratraksi di lintasan yang mulus. Sampai tiba-tiba....
"Kreeeekkkkkk....Bruk!!!" Mereka terhempas dan terseret mencium aspal. Ketika melaju cepat, ban depan sepeda motor itu terselip oleh kerikil kecil, menyebabkan mereka berdua jatuh. Lalu cagaknya menggores kuat aspal itu menciptakan bunyi yang ngilu seraya mereka terseret cukup jauh.
Tangan dan kaki mereka penuh goresan luka. Ban depan sepeda motor itu juga oleng karena kuatnya hempasan itu.
Hanya pagar pembatas jalanlah yang membuat mereka selamat dan tidak jatuh ke jurang.
Beberapa orang yang melihat kecelakaan itu, segera pergi melaporkan kejadian itu pada ibunya.
*********
Sewaktu wanita itu masih melepas lelah dan duduk sebentar di belakang rumahnya, orang-orang itu datang dan berbicara dengan muka panik padanya,
"Bu, si Indra kecelakaan sama temannya."
Seketika jantung wanita itu berhenti memompa darah dan matanya terbelalak. "Bagaimana bisa? Dimana?" Tanyanya tak percaya.
"Mereka jatuh di tikungan didekat tugu marga-marga. Mungkin sebentar lagi mereka sampai ke sini."
Namun tak berapa lama setelah mengatakannya, Indra yang dibonceng oleh seseorang, tiba. Di tangan dan kakinya ada beberapa perban luka. Dia berjalan pincang setelah turun dari motor.
"Aduh... kenapa kau bisa sampai jatuh?" Seru ibunya seraya berlari menghampirinya.
Lalu ibunya menuntunnya masuk ke rumah dan membantunya duduk di kursi. Lalu ibunya mengeluh lagi, "Makanya kan, sudah emak bilang jangan suka keluyuran apalagi sudah sore. Beginilah kan jadinya. Kalau sudah begini, siapa yang susah.
__ADS_1
Aduh.... susah sekali kau dibilangin. Hah?" Wanita itu meliriknya dan mimik wajahnya penuh dengan beban.
Sementara orang-orang yang membawa kabar itu segera pergi setelah Indra sampai di rumah.
Seolah masih tak puas, ibunya mengeluh lagi padanya, "Siapa yang membawa kalian berobat? Kalian itu sudah membebani orang lain."
"Ada orang yang kebetulan lewat. Dia membonceng kami ke puskesmas." Jawab Indra dengan nada sedih.
"Trus siapa yang bayar?" Tanya ibunya.
"Kami sendiri. Uang dari hasil mengumpulkan batu." Jawabnya lemas.
"Nah, itulah kan kalau tidak mendengar omongan orangtua. Uang yang kau cari dengan susah payah selama tiga hari habis dalam sekejap. Coba kalau kau tidak keluyuran, pasti uangmu tidak akan habis. Emak tahan-tahan nggak minta uangmu untuk kebutuhan kita, supaya kau punya uang. Tapi nyatanya justru habis biaya berobatmu."
"Mana aku tahu kalau kami akan celaka."
"Melawan lagi mulutmu! Makanya kalau dikasih tahu menurut. Itu demi kebaikanmu. Sekarang kau kesakitan kan? Nggak bisa kerja jadinya kan?"
Wanita itu kesal lalu pergi ke dapur memasak makan malam.
Soni temannya tidak tahu tentang kejadian itu. Ketika ada pekerjaan, dia menghubunginya dan mengajaknya.
"'Ndra, besok mau ikut panen padi nggak?"
"Di mana?"
"Di desa sebelah. Upahnya tujuh puluh ribu per hari."
"Aduh...maaf yah. Aku nggak bisa. Aku habis kecelakaan."
"Hah? Sama siapa? Kapan? Dimana?"
"Sama si Jono, di tikungan dekat Tugu tadi sore."
__ADS_1
"Aduh... jadi gimana? Parah nggak?"
"Lumayan. Tapi kami sudah berobat."
"Oh... ya sudahlah. Cepat sembuh yah." Balasnya lalu menutup telepon.
Indra menyesal melihat keadaannya kini. Di sisi lain dia juga ingin bekerja karena butuh uang. Maka ketika ibunya selesai masak dan memanggilnya untuk makan, Indra dengan polosnya bertanya, "Mak, besok aku mau bekerja memanen padi."
"Apa? Kau gila yah? Tangan dan kakimu kan masih sakit. Bagaimana kau mau menyabit padi dan mengangkutnya di dalam karung? Hah? Kau pikir nggak itu?"
"Iya." Jawabnya singkat.
"Makanya, kalau mau kerja cari uang, kesehatan dijaga! Nanti kalau kau sudah sembuh, baru boleh kerja. Sekarang makanlah! Makanya jangan susah kau diatur!"
Dia pun tak berbicara lagi. Kemudian dia makan makanan yang disuguhkan di hadapannya dengan hati yang sedih.
*********
Usia makan malam, ibunya menghubungi anak sulungnya lagi, "Bagaimana? Ada nggak pekerjaan untuk adikmu?"
"Nggak ada mak. Aku sudah tanya ke beberapa teman. Tapi semuanya memerlukan Izazah. Susah melamar kerja tanpa izazah."
"Hadeh...." Wanita itu semakin pusing mendengarnya. Lalu dia berbicara lagi, "Kau tahu? Adikmu habis kecelakaan. Begitulah memang kalau anak susah diatur. Makanya 'mak semakin stress. Kalau begini terus 'mak bisa cepat mati nanti."
"Aduh...
Bagaimana yah...
Coba nanti aku cari lagi."
"Ya sudah. Cepat!" Ucapnya lalu menutup telepon.
Setelah itu dia pergi menemui Indra di kamarnya. Gorden yang menutupi pintu itu langsung disibakkannya dengan cepat sambil berkata, "Aku sudah bilang sama kakakmu supaya dicarikan kerjaan untukmu. Biar kau ikut dengannya ke ibukota. Nggak tahan lagi emak lihat kau terus bandel seperti ini. Biar kakakmu saja yang menghajarmu di sana."
__ADS_1
Tapi dia tidak menjawab ibunya. Dia hanya diam mendengar ibunya terus mengoceh, yang membuat perasaannya semakin sedih. Semenjak dia sampai di rumah, ibunya sering mengeluh kepadanya dan tak henti menyalahkannya.
"Sudah sakit badan ditambah sakit hati pula." Tuturnya dalam hati lalu berbaring di tempat tidur.