Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 22


__ADS_3

Sejak hari itu Indra mulai jarang pulang ke kosnya. Banyak pakaian kotor digantung di dinding kamarnya yang semuanya berbau.


Di situ juga banyak ditemukan puntung rokok sewaktu kakaknya membersihkan kamarnya. Entah kapan itu dihisap. Dia tidak tahu.


Sore itu sepulang kerja, dia merendam semua pakaian itu dan membersihkan seluruh kamarnya hingga kamar itu bersih dan wangi.


Lalu ketika dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat usai membersihkan kamar itu, dia melihat adiknya pulang. Penampilannya tampak seperti preman. Anting-anting berwarna hitam, kalung metal, dan celana robek-robek juga rambut yang dijingkrakkan ke atas, membuat hatinya kesal tapi tidak bisa diungkapkan karena semua penghuni kamar kos ada di sana, sehingga dia merasa malu untuk marah.


"Kamarmu udah saya bersihkan. Tapi kau saja yang cuci bajumu. Itu sudah saya rendam."


"Iya." Jawabnya singkat lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu.


Dia lalu meninggalkannya dan berbaring di tempat tidur karena sangat lelah.


*********


Ketika dia merasa lapar, dia pergi keluar membeli makanan. Dia juga pergi ke kamar adiknya untuk menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Tapi saat dia membuka pintu, kamarnya ternyata sudah kosong dan kotor karena abu rokok. Entah kapan dia pergi. Dia juga melihat kalau pakaian yang direndamnya itu juga belum dicuci.


"Aduh... nih anak.


IH! Kalau bisa pengen kuhajar!" Ungkapnya geram sambil mengepal kedua tangannya.


*********


Lalu ke esokan sorenya, dia sengaja pergi ke kamar adiknya untuk melihat apakah dia sudah pulang atau tidak. Tapi lagi-lagi dia tidak ada.


Pakaiannya pun masih dalam rendaman.


Itu dibiarkan selama berhari-hari sampai baunya menyengat seperti bau bangkai.


Salah seorang penghuni kos di situ sampai protes karena baunya, selain dia ingin memakai ember itu. Karena ember yang dia pakai untuk merendam adalah milik umum yang disediakan oleh si pemilik kos.


Melihat orang itu berceloteh, dia pun terpaksa menyuci pakaian itu sambil menahan rasa geram dan emosi.


"Aku sudah capek kerja! Aku juga yang harus menyuci bajunya! IHHHH...!"


Dia mengepal kain itu dengan geram, dan membantingnya kuat-kuat.


Airnya sangat keruh sewaktu itu ditumpahkan ke lantai kamar mandi, dan orang-orang yang ada di sekitarnya menutup hidung dan terus protes.


"Bau banget sih!" Siram yang banyak dong supaya baunya hilang!" Ucap orang-orang yang hendak ke kamar mandi.


**********


Ke esokan harinya di tempat ibadah, istri majikan adiknya datang menghampirinya. Dia mengatakan kalau suaminya memberinya kesempatan kedua bekerja asalkan dia meminta maaf. Sebab dia merasa iba pada anak-anak yang merantau dari tempat yang jauh.

__ADS_1


"Makasih yah ka. Nanti aku coba sampaikan sama Indra. Tadi sore dia belum pulang makanya dia tidak ikut beribadah."


"Iya. Anak seumuran itu memang masih labil dan mudah terpengaruh. Mula-mula kerja, dia sangat rajin."


"Iya ka. Mungkin dia terpengaruh sama anak-anak yang ada di pinggiran rel sehingga bandel. Aku sudah sering bilang agar jangan bergaul dengan mereka, tapi tetap saja tidak didengarkan."


"Mmm... nanti suami saya coba nasehati dia lagi."


"Makasih yah ka."


Maka sewaktu dia pulang dari tempat ibadah itu dan menemukan adiknya ada di kamarnya, dia segera menyampaikan hal itu padanya. Menyangka adiknya bakalan senang, dia justru menolaknya. "Ah! Aku nggak mau."


"Kenapa? Kau malu atau takut? Minta maaf saja. Kamu nggak akan dimarahi. Lagi pula kamu belum minta maaf sama atasanmu kan sekali saja?"


"Ah! Aku nggak mau."


"Trus kamu mau kerja apa?"


"Adalah. Pokoknya nanti temanku bakalan cari."


"Kau sudah makan?"


"Belum. Nggak ada uang."


Maka kakaknya memberinya sedikit uang untuk membeli makanan malam itu juga. "Nah, ini belilah makanan untukmu."


"Masa untuk membeli makananmu saja kau malas! Aku sudah makan tadi habis pulang ibadah. Beli saja sendiri!"


"Ah... aku malas."


"Ya sudahlah. Tahankan saja kau kelaparan." Ucap kakaknya lalu kembali ke kamarnya.


Tapi di dalam kamar, dia khawatir sehingga akhirnya dia keluar dan membeli nasi bungkus untuknya.


"Nah, ini! Makanlah!" Ucap kakaknya seraya menyerahkan makanan itu pada adiknya.


********


Hari demi hari mereka berbagi makanan sebab gaji kakaknya pun tak seberapa. Bahkan sewa kamar kosnya dibayarin sang kakak.


********


Suatu sore, terlihat Indra sedang mendorong gerobak gallon air minum. Lalu dia mengangkatnya satu per satu ke lantai atas ke setiap kamar kos pesanan orang-orang.


Seseorang yang melihatnya memberitahu kakaknya ketika dia singgah sebentar di rumah kerabat majikannya. Orang itu sendiri adalah pembantunya. Dia berkata,

__ADS_1


"Kemarin aku lihat si Indra dorong-dorong gerobak gallon. Apa dia sudah nggak kerja sama pak Santana lagi yah? Aku lihat dia makin hitam dan dekil. Nggak kaya dulu, lumayan rapi dan bersih."


Mendengar itu, dia tak tahu harus jawab apa selain hanya bisa tersenyum paksa. Namun jauh di dalam hati, dia sebenarnya kasihan. Andai saja adiknya mau dibimbing, mungkin dia takkan sesusah itu.


Ketika dia pulang dan melihat adiknya, dia segera bertanya untuk memastikan kebenarannya. Dan ternyata semua yang dia dengar adalah benar.


"Aduh... bodoh sekali kau. Ada kerjaan enak tapi kau malah memilih panas-panasan mendorong gerobak gallon. Mengangkat galon air ke lantai dua sampai ke lantai tiga. Itu pekerjaan berat. Lama-lama kau bisa turun perut. Coba lihat tampilanmu sekarang! Sudah seperti gembel yang tak punya bapak dan ibu. Jauh sekali kau dari Medan ke sini hanya untuk mengangkat galon air. Kau hanya perlu minta maaf sama bosmu supaya bisa kembali bekerja. Kemarin memang aku sudah minta maaf. Tapi yang seharusnya minta maaf itu, kamu."


"Itu cuma sementara saja sampai aku dapat pekerjaan yang lain."


"Di mana? Mana ada perusahaan yang mau terima orang tanpa Izazah. Pikir itu! Terus berapa gajinya?"


Dia tidak menjawabnya. Lalu kakaknya bertanya lagi,


"Gajinya kecil kan? Untuk makanmu sehari saja tidak cukup. Lalu untuk uang kosmu gimana?"


"Ah... ! Itu cukup kalau dikumpul-kumpulkan."


"Mana buktinya? Buktinya aku yang bayar uang kosmu. Jangan keras kepala kau kalau dibilangin."


"Iya. Iya." Jawabnya kurang sopan. Lalu berkata lagi, "Ada korek kuping di kamarmu?"


"Ada? Untuk apa?"


"Kupingku gatal. Ambil dulu!"


Maka kakaknya pergi mengambilnya lalu memberikannya padanya. Kemudian dia duduk di kursi kayu di teras di dekat atap. Kamar kosnya ada di lantai atas. Sedangkan di lantai bawah dihuni oleh pemilik kos.


Di sana dia mengorek kupingnya yang gatal dan kotor. Tapi kakaknya telah memperingatkannya agar membuang sampahnya ke tempat sampah.


Dia menjawabnya dengan menundukkan kepala sambil menikmati pengorekan kupingnya.


Namun saat pagi, ketika kakaknya hendak berangkat kerja, dia melihat ada banyak bekas korek kuping yang terbuang dan berserakan di atap. Cepat-cepat dia pergi ke kamar adiknya dan menyuruhnya membersihkannya agar si ibu kos tidak marah.


"Iya. Nanti kubersihkan." Ucapnya dengan muka bete.


"Jangan bohong! Bersihkan sebelum ibu kos melihatnya!"


*********


Orang-orang yang tinggal di kos itu merasa jijik sewaktu hendak menggantung menjemur pakaiannya.


"Siapa sih yang buang korek kuping bekas di sini? Jorok banget. Itu kan ada tempat sampah."


"Itu si Indra. Tadi malam dia yang korek kuping di sini."

__ADS_1


"Gila yah. Jorok banget."


__ADS_2