Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 23


__ADS_3

Tak lama si ibu kos naik untuk memeriksa keadaan kos seperti yang biasa dia lakukan setiap siang hari. Sewaktu mendapati atap itu kotor, si pemilik kos pun bertanya pada seseorang yang saat itu tidak pergi bekerja.


Mendengar penjelasannya, si ibu kos merasa kesal karena aturan kebersihan yang dia buat tidak diterapkan. Saat itu Indra juga sudah tidak di kamarnya lagi, sehingga dia tidak bisa menegur dan menasehatinya.


Kemudian dia turun dan menunggu di dekat pintu sampai kakaknya Indra ataupun dia sendiri pulang.


Dia tak ingin beraktivitas jauh-jauh bahkan ke dapurnya sendiri agar bisa cepat-cepat menegurnya maupun kakaknya.


Lalu sore itu sekitar jam 5 sore, ketika kakaknya baru saja sampai di puncak anak tangga, dia melihat si ibu kos tengah duduk di kursi kayu dengan posisi tubuh yang menghadangnya. Segera dia bangkit dan bilang,


"Katanya si Indra yah yang buang sampah korek kuping di sini? Nggak boleh gitu. Ibu kan sudah kasih keranjang sampah. Kenapa tidak dibuang ke situ? Di sini jorok lho. Coba kamu lihat sendiri! Nanti kalau anak-anak jemur pakaiannya di sini, trus pakaiannya tiba-tiba ketiup angin dan jatuh gimana? Kan kotor! Kamu bersihkan yah. Ibu jijik ngelihatnya. Bilangin adikmu supaya jaga kebersihan."


"Iya bu. Maaf yah. Nanti saya bersihkan."


"Yang cepat yah. Besok ibu jangan nemu lagi sampahnya masih di situ."


"Iya bu."


Begitu si pemilik kos turun ke tempat tinggalnya, dengan menggerutu dia mengambil sapu dan menyapu atap itu. Sampah korek kuping itu jatuh ke halaman kemudian dia turun mengutipnya satu-persatu.


Betapa kesalnya dia karena kata-katanya tidak pernah didengarkan.

__ADS_1


"Kalau begini terus, mendingan dia pindah kos saja. Supaya aku tidak pusing melihat tingkah lakunya setiap hari." Gumamnya seraya pergi mencuci tangannya.


Lalu begitu adiknya pulang, cepat-cepat dia menemuinya dan bilang, "Kalau kau seperti ini susah diatur, mending kau cari saja tempat kosmu yang baru. Kau tahu? Tadi ibu kos marah-marah. Aku kan udah bilang buang sampahnya di tempat pembuangan sampah. Tapi nggak pernah kau dengar. Kau terus seenaknya. Jadi mulai besok, cari saja tempat kos yang lain." Tuturnya lalu pergi meninggalkannya.


Esoknya sebelum dia berangkat kerja, kakaknya mengingatkan dia lagi agar mencari tempat kos yang baru.


********


Hari demi hari dia terus mendesaknya untuk pindah sebab dia tak pernah membuat perubahan yang baik yang membuat hati kakaknya senang. Sampai akhirnya dia mendapat tempat kos yang baru yang uang sewanya sedikit lebih murah.


Tapi sewaktu adiknya pindah, dia tidak sempat membantunya karena sibuk bekerja.


Namun sejak adiknya pindah, hatinya justru lebih susah dan cemas ketimbang waktu tinggal bersamanya. Setiap hari dia terus memikirkan adiknya, seperti apa dia di sana, apa dia makan teratur, tidak ada yang memantaunya.


Namun meskipun terbebani, tapi dia menahannya dengan maksud agar adiknya sadar.


********


Lalu dua minggu berikutnya, kakaknya sengaja pergi mengunjunginya ke tempat kosnya untuk melihat seperti apa kehidupannya di sana.


Dia melihat kalau kamar kos yang ditempatinya cukup baik. Namun tetap saja hatinya tidak tenang. Maka kakaknya menyuruhnya kembali ke kos yang lama setelah menghabiskan satu bulan. Agar kakaknya bisa selalu memantaunya.

__ADS_1


**********


Maka setelah masa itu habis, Indra pun kembali ke tempat kos sebelumnya.


Dan untuk membuat adiknya betah, kakaknya memberi dia TV di kamarnya agar dia bisa punya hiburan tanpa harus keluar malam.


Hari demi hari berlangsung baik sejak TV itu diberikan. Dia sangat senang karena keputusan yang dibuatnya tepat. Adiknya tak pernah keluar malam lagi dan bergaul dengan teman-temannya di pinggiran rel.


Tapi Indra sering menonton sampai larut malam. Entah matanya masih terjaga atau sudah tertidur, dia tidak tahu.


Maka hampir setiap malam, si ibu kos yang kamarnya tepat di bawah kamarnya selalu mendengar suara TV. Si ibu kos menjadi tidak tenang karena memikirkan tagihan listrik yang akan dibayarnya di awal bulan.


"Kalau begini terus setiap hari, bisa-bisa aku rugi. Tagihan listrik bengkak sedangkan uang kos tidak seberapa. Ini sudah jam 12 malam. Itu anak masih nonton atau sudah tidur?"


Dia sangat gelisah dan susah tidur. Maka ke esokan sorenya, dia menemui kakaknya lagi dan menyampaikan keluh kesahnya.


"Ki, itu bilangin adik kamu. Tiap malam ibu masih dengar suara TVnya nyala sampai jam 12."


"Masa sih bu? Tapi kalau aku lewat waktu ke kamar mandi, ga ada suara TV yang nyala."


"Suaranya kecil ki. Ibu kan bisa dengar. Kamar ibu tepat di bawah kamarnya. Kamu tolong bilangin yah ki. Yah... bukannya apa-apa. Listrik mahal. Tiap bulan tagihan listrik ibu gede lho. Yah! Kamu nasehati adik kamu."

__ADS_1


"Yah bu. Nanti kalau dia pulang, aku kasih tahu."


Mukanya pun kembali bete dan tidak enak hati. Dia pikir masalahnya sudah berkurang tapi ternyata tidak.


__ADS_2