Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 24


__ADS_3

Beberapa hari setelah dia menegur dan memperingatkan adiknya, situasi kembali baik. Kini adiknya hanya menonton TV sampai jam 10 lalu tidur.


Untuk memastikannya, kakaknya akan mendekatkan telinganya ke pintu atau mengintip dari jendela ketika hendak ke kamar mandi.


Tapi belakangan, seraya waktu berlalu, adiknya mulai lupa dan kembali menonton sampai tengah malam setiap film-film holywood.


Meski kelopak matanya sudah mulai berat, tapi dengan sedaya mampunya dia akan menjaga kelopak matanya itu tetap tangguh dan terbuka.


Seluruh kemampuannya akan dikerahkan sampai matanya benar-benar kuat seperti kuatnya kota berbenteng. Sampai seluruh film itu selesai.


Si ibu kos pun kembali tidak senang dan memperingatkan kakaknya untuk kedua kali.


Karena si ibu kos mengatakan akan menaikkan uang kos mereka, dia pun akhirnya mengambil TV itu dari kamar adiknya sambil memarahinya.


"Memang kau tidak pernah mendengar omongan orang yah! Kan sudah kubilang jangan menonton sampai larut malam. Lagi pula kan besok paginya kau pergi bekerja. Kalau setiap malam kau selalu kurang tidur bagaimana? Gara-gara kau si ibu kos marah lagi. Kalau uang kos kita dinaikkan bagaimana? Kau punya uang untuk membayarnya? Sekarang aku akan ambil TV itu. Aku sampai menumpang ke kamar teman hanya untuk menonton supaya kau bisa leluasa menonton TV di kamarmu. Sekarang terserahlah! Suka-suka hatimu saja!"


Indra sendiri pun menjadi bingung harus mencari hiburan apa lagi setelah TV itu diambil dari kamarnya. Adapun ponselnya, tidak bisa menyediakan hiburan yang lain selain hanya memutar lagu.


Dia pun akhirnya mendengarkan musik menggunakan headset sampai mata akhirnya bisa tertidur.


*********


Beberapa hari setelahnya, Indra kembali bergaul dengan teman-temannya yang dari pinggiran rel. Dia kembali pulang larut malam, juga mulai susah diajak beribadah dan selalu banyak dalih.


Dia semakin tak berminat untuk diajak beribadah.


Semua tingkah lakunya yang buruk itu dilaporkan oleh kakaknya agar ibunya tahu betapa liarnya kehidupannya. Tapi jarang sekali ada kesempatan baginya untuk menegur dan menasehati anaknya.


Namun suatu hari Indra tidak pernah pulang ke kosnya lagi. Entah kemana rimbanya, kakaknya tidak tahu.


Pagi itu dia menyangka kalau adiknya pergi bekerja lebih awal. Tapi sampai malam, esok paginya, dan hari esok berikutnya, dia tidak kunjung pulang. Tapi selama hari-hari itu, kakaknya telah membersihkan kamarnya dan merendam pakaian kotornya. Tapi karena sudah 2 hari dia tidak pulang-pulang, akhirnya dia pun menyucinya.

__ADS_1


Sudah 4 hari berlalu, tapi dia tak kunjung mendapat kabar dari adiknya.


Tidak ada yang bisa dia tanyai karena dia tidak tahu dan tidak kenal dengan teman-temannya.


Maka selama itu, dia terus dihantui pikiran buruk dan kecemasan, dan itu menguasainya hingga dia tidak bisa fokus bekerja ataupun tidur tenang. Dia khawatir kalau adiknya berbuat onar lagi ataupun hilang entah kemana, mengingat di ibukota ada banyak terjadi kejahatan.


Terkadang dia menyesal pernah bersikap kasar pada adiknya, hingga kadang menangis. Namun itu dilakukannya bukan karena benci tapi agar adiknya bisa hidup dengan baik dan tidak membebani orang lain.


Selama dia pergi, ponselnya tidak pernah bisa dihubungi.


Barulah setelah satu minggu, dia mendapat telepon dari adiknya. Tapi baru satu kata sapaan yang dia ucapkan, kakaknya sudah menghujaninya dengan banyak pertanyaan bernada marah.


"Kamu dari mana saja?! Kenapa ponselmu tidak pernah aktif? Kau selalu membuat orang lain susah! Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah pulang ke kos?!"


"Aku sudah pergi melaut."


"Apa? Melaut? Kok bisa? Bagaimana bisa? Siapa yang membawamu melaut? Itu jelas tidak? Nanti itu kapal illegal! Jangan sembarang kamu! Kau tidak punya izazah melaut. Bagaimana mungkin kau bisa kerja di kapal?"


"Darimana kau tahu?! Belum satu tahun kau tinggal di sini. Jangan sembarangan!"


"Iya. Sekarang aku sudah pergi menuju Maluku. Mungkin dua minggu lagi kami sampai di sana."


"Apa? Maluku? Jauh sekali. Di sana kalian kerja apa nanti? Tapi itu benar kan? Tidak illegal?"


Kakaknya terus saja panik dan masih tak percaya. Karena setelah berhari-hari menghilang, tiba-tiba saja mendapat kabar kalau adiknya pergi melaut.


Kemudian Indra menjawabnya memberikan penjelasan, "Di Maluku kami akan menangkap cumi-cumi. Dan tahun depan kami baru boleh pulang."


"Jadi itu kapal ikan? Itu jelas 'kan? Kau tahu kalau kapal-kapal ikan illegal akan diledakkan di laut? Kapal itu dari perusahaan mana? Bagaimana kau bisa masuk ke sana tanpa izazah?"


"Aduh ceritanya panjang. Kalau pun kukasih tahu, kau nggak akan paham. Pokoknya kapal ini jelas, dan kami ABKnya punya kartu identitas. Jadi kalau ada razia di tengah laut, kami tidak akan ditangkap."

__ADS_1


"Aduh... tapi jauh sekali ke Maluku."


"Menangkap cumi-cumi memang di laut Maluku. Karena di sana cumi-cuminya banyak."


"Memangnya kau mengerti caranya menangkap cumi-cumi?" Tanya kakaknya.


"Nanti diajari kaptennya."


"Terus bagaimana dengan makan kalian di sana, dan berapa gajinya?"


"Kantor sudah menyediakan makanan kami. Semua sudah ada di kapal. Dan tentang gajinya, itu tergantung dari hasil tangkapan. Kalau tangkapannya banyak, gajinya besar. Kalau tidak, yah gajinya kecil."


"Jadi makanan kalian sudah disediakan kantor? Siapa yang masak?"


"Ada kokinya. Jadi kami hanya menangkap cumi saja."


"Berapa lama? Kapan kalian akan pulang?"


"Kontrak kami 8 bulan, setelah itu kami pulang."


"Aduh..." Kakaknya masih gelisah dan cemas namun tak dapat berbuat apa-apa lagi. Maka sebelum mengakhiri telepon itu, dia hanya berpesan agar adiknya selalu hati-hati dan sering-sering memberinya kabar.


Indra tidak memberi tahu kalau dia bisa pergi melaut karena ajakan salah satu temannya, yang adalah ABK.


Ketika mereka tengah berkumpul seperti kebiasaan mereka, salah satu temannya yang adalah ABK itu akan berangkat esok harinya, namun dia mengatakan kalau beberapa ABK ternyata telah melarikan diri setelah meminjam uang dari sang kapten. Sehingga untuk mengisi kekosongan ABK itu, Indra menawarkan diri untuk ikut.


"Aku boleh ikut nggak? Tapi aku nggak punya Izazah." Tuturnya tak percaya diri.


"Jadi kau mau ikut? Ayo! Asalkan kau punya KTP, kau bisa ikut meski tidak ada izazah. Kalau mau, besok pagi kau akan dijemput."


Maka esok paginya sekitar pukul 4 lewat saat semua penghuni kos belum bangun, dia pergi bersama temannya menuju kapal. Dia hanya membawa pakaian seadanya di dalam sebuah tas ransel.

__ADS_1


__ADS_2