Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 49


__ADS_3

"Dasar laki-laki 'ga peka!" Ujarnya kesal kemudian mengambil anaknya dan menggendongnya.


Sembari terus mengomel, dia kembali ke dapur dan melanjutkan masakannya.


"TANG! TENG ! TONG! GRRRSSSSEEKKK...!" Suara hantaman sendok goreng terdengar keras memukul-mukul kuali penggorengan seraya dia menggongseng ikan asin yang sejak tadi bermandikan minyak.


"Kusajikan ikan asin gosong nanti malam baru tahu rasa dia! Apa dia nggak tahu kalau hatiku ini hampir gosong karena terbakar amarah? Hah? Tapi untung saja otakku masih waras dan bisa mengendalikan emosi. Kalau tidak, kompor pun bisa meledak kubuat!"


Sepanjang proses memasak itu, mulutnya tak berhenti mengoceh sembari menggendong anaknya yang ditaruh di bagian punggungnya dan diikat dengan kain panjang.


Lalu, usai seluruh masakannya matang dan siap dihidangkan, dia membaringkan anaknya di tempat tidur yang ternyata sudah tidur sejak tadi selama dia memasak.


"Nak, kau jangan seperti bapakmu yah. Nggak peka." Ucapnya sambil menyelimuti kaki anaknya.


*********


Sementara itu, Indra dan Tono yang telah sampai di pelabuhan, segera bergabung bersama yang lain menanti kedatangan sang kapten.


Tak lama sang kapten tiba dengan sebuah amplop besar di tangannya. Kemudian dia segera membagi-bagikan upah mereka dalam sebuah amplop.


Usai menerima upah, para ABK itu pergi kepada jalannya masing-masing. Indra dan Tono juga segera pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Indra segera menghubungi orangtuanya dan memberitahu besarnya uang yang dia dapatkan.


"Mak, kirimkan dulu nomor rekening kalian." Ucapnya di telepon.


"Udah gajian kalian rupanya?" Tanya ibunya.


"Iya. Tadi."


"Oh... Berapa gajimu?"


"Bisalah kukirim 17 juta."


"Apa? 17?" Tanyanya tak percaya. Sebab itu adalah jumlah yang paling besar yang pernah dia kirim.


"Nggak ada mak. Sedikitnya. Itupun sudah dipotong hutang."


"Alah... Sudahlah. Jangan bohong kau. Mengaku saja. Tapi terima kasih yah. Nanti habis bicara, langsung mama kirim nomor rekeningnya. Segera kau transfer supaya duitnya tidak hilang. Ok?!"


"Iya." Jawab Indra singkat.


"Kau tahu? Senang kali hati mama Indra hari ini. Padahal dari tadi pagi kepala mama sudah stress memikirkan hutang dan kebutuhan hidup. Mungkin sebentar lagi meledak kepala mama ini karena panas memikirkan hutang. Hutang kami sudah sebanyak uban di kepala mama. Kami dicegat di jalan, dan ditagih hutang. Tapi terpaksa mama panjangkan lidah ini buat cari-cari alasan dan tidak tahu kapan bisa bayar. Lama-lama lidah mama ini sudah seperti lidah ular panjangnya karena terus-terusan berbohong dan berjanji. Mama merasa berdosa sih, tapi macam mana lagi?"

__ADS_1


"Memangnya hutang apa?"


"Waktu itu mama kecelakaan dari sepeda motor gara-gara tawon. Tawon itu terbang ke muka mama. Karena takut dan panik akan disengat, mama nggak fokus lagi bawa sepeda motornya sampai akhirnya jatuh menabrak batu besar. Kaki mama patah tulang. Jadi selama sakit, dan memenuhi kebutuhan hidup, terpaksa mama berhutang kemana-mana."


"Kenapa kalian nggak cerita?" Tanya Indra sambil mengerutkan keningnya yang menua lebih cepat akibat sengatan mentari selama di laut.


"Macam mana mau cerita? Kau kan di laut. Lagi pula kami takut kau jadi tidak fokus bekerja karena memikirkan itu. Sudahlah, yang penting semua sudah baik-baik saja."


"Mak, udah dulu yah. Istrinya temanku kayaknya mau pergi. Aku mau titip uang ini dulu sama dia supaya dikirim sama kalian. Setelah ini, langsung kirim nomor rekening kalian. Nomor yang pernah kalian kasih, terhapus tak disengaja."


"Iya. Iya. Hati-hati. Awas duitnya hilang! Banyak orang jahat sekarang."


Usai menutup teleponnya, cepat-cepat dia mengambil buku tabungannya yang tersimpan di dalam dompet kosong lalu mengetik nomor rekeningnya dan mengirimkannya lewat pesan singkat.


Setelah itu, dia mengambil buku catatannya untuk melihat daftar-daftar hutang yang harus dibayarnya besok.


Satu per satu dia mulai mencentang daftar yang bisa dia lunasi besok lalu membuat daftar belanja.


Dia menjumlah semua hutang-hutangnya mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Saat melihat jumlahnya, mata dan mulutnya mendadak menganga lebar karena kaget dan tak menyangka ternyata hutangnya sampai sepuluh juta.


"Hah? Sampai sebanyak ini hutang kita? Aku pikir cuma lima juta. Ckckckck.... angkanya saja yang besar, tapi nilai uang ini sangat kecil. Semua kebutuhan hidup makin hari makin meningkat. Apa nggak sengsara petani kalau begini terus?" Gerutunya.

__ADS_1


Juga, saat menjumlah daftar belanjanya besok, dia juga mengoceh, "Nah, kan! Lihatlah! Yang mau dibeli masih sedikit, tapi jumlah uang yang habis sudah banyak. Beli pupuk, pestisida, insektisida, beras, dan sembako yang lain. Aduh... Aduh... Ada uang pusing untuk mengatur dan membaginya. Apalagi nggak ada uang. Makin pusing dan makin stress otak ini.


Hah.... sudahlah! Disyukuri saja. Untung itu ada. Kalau tidak, mungkin sampai kiamat dunia utang nggak akan lunas-lunas."


__ADS_2