
**********
Hari demi hari kedua anak itu terus bekerja keras sampai akhirnya mereka mendapat upah.
"Son, kita ke pasar yuk. Aku mau beli baju sama sepatu nih, sekalian beli cel4n4 d4l4m. Dari kemarin pakaian dalam ku itu-itu aja cuci kering. Mungkin kalau dicuci dikolam, ikan-ikan pada mati." Bisiknya karena takut didengar Jhony dan neneknya.
"Hihihihi... sama! Aku juga. CD ku juga udah bau ******."
"Masa? Gayamu aja selama ini sok cool. Tapi di dalam, bau! Hihihihi..."
******
Di pasar, mereka sibuk memilih-milih kaos dan sepatu yang mereka sukai dan tawar-menawar sampai akhirnya mendapat pilihan yang tepat.
Lalu di sebuah warung makan, mereka saling mencurahkan isi hati mereka dan masa lalunya.
"Son, baru kali ini aku bisa ganti sepatu baru. Kemarin waktu aku beragkat ke Jambi, aku cuma pakai sendal. Dan datang kemari pun, masih pakai sendal lusuh ini." Ujar Indra sambil melihat sendalnya yang solnya sudah menipis.
"Ya udah, pakai aja langsung sepatunya."
"Eits... jangan dong! Nanti kotor!"
"Eleh...eleh... lebay amat! Itu sepatu dibeli kan untuk dipakai, bukan untuk disimpan-simpan. Atau kau museumkan saja sepatumu biar nggak kotor."
Mendengar celotehannya, Indra pun segera memakai sepatu barunya. Kemudian dia berkata lagi, "Dulu kalau aku minta uang jajan, ibuku selalu bilang, 'Masih untung kau bisa kukasih makan. Daripada bapakmu, nggak ada tanggung jawabnya sama sekali.' Baru kali ini aku puas membelanjakan uang hasil keringatku sendiri."
"Sama. Aku juga." Tutur Soni.
"Aku jadi ingat, dulu waktu aku SMP, supaya aku bisa jajan, aku kerja memunguti kemiri orang di ladang." Ujar Indra seraya ekspresi wajahnya mulai serius dan sedih. Namun dengan polos, Soni menanyainya balik,
"Munguti kemiri orang? Kau curi?"
"Apa? Kau gila yah?" Tanya Indra tak habis pikir. Lalu dia berkata lagi, "Waktu itu aku diberi upah 20 ribu. Jadi sepulang sekolah, aku pergi mengumpulkan kemiri supaya bisa jajan."
"Yah... begitulah hidup, berat! Tapi lebih sakit nggak punya uang. Iya kan?"
__ADS_1
"Iyalah. Nggak bisa makan enak dan beli barang baru." Jawab Indra.
Kemudian tiba-tiba saja terbersit di benaknya tentang Dani. Temannya yang dulu hampir menipunya di ladang batu.
Waktu itu, saat siang hari, Dani meminta Indra meminjam uang atas namanya kepada pemilik ladang batu tempatnya bekerja.
Pada jam istirahat setelah mereka selesai memukul-mukul dan memecahkan batu, Dani terus berbicara membujuk Indra untuk meminjam uang atas namanya, sebab namanya sendiri sudah cacat di mata si pemilik ladang. Namun uang itu bukanlah untuk keperluannya tapi demi kepentingan temannya itu.
Karena Indra sudah sering diajar ibunya supaya bijak, Indra pun memberitahukan hal itu dulu kepada ibunya sebelum bertindak.
Malam harinya, dia mendekati ibunya dan menanyakan hal itu. Dan ibunya menolaknya dengan keras. "Jangan! Jangan mau dibodohi! Dia sama ibunya, sama-sama penipu. Jangan sampai terjerat! Aku dengar kemarin ibunya meminjam uang dan emas dari salah satu tetangga. Setelah mendapatkannya, ibunya lari entah kemana tak meninggalkan jejak."
Dan benar saja. Sehari setelah bujukan itu diluncurkan, Dani sudah pergi dan tak kerja lagi di sana. Dia pergi tanpa jejak.
Mendengar semua ceritanya, Soni hanya bilang, "Baguslah! Untung kau bijaksana. Bukan bijaksini. Kalau bijaksini, bahaya. Artinya otakmu dangkal. Sedangkan bijaksana, otakmu jauh berpikir ke depan.
****
Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan pergi menikmati berbagai pemandangan di sana. Rasa empuk dan nyaman begitu terasa di tumitnya seraya dia melangkah. Sedangkan sendal usangnya segera dia buang begitu keluar dari warung.
Setelah puas bersenang-senang di pulau wisata, mereka memutuskan pulang ke kampung halaman meski hari sudah sore.
Perjalanan pulang di petang hari itu begitu indah, karena warna jingga yang membentang luas di langit sore. Suasana itu mereka manfaatkan untuk bersua foto.
"Maju ke depan dikit. Lihat ke arah sana yah. Jangan lihat ke kamera." Seru Soni sembari mencari sudut yang pas sewaktu hendak menjepret.
"Sekarang, lihat ke kamera. Senyum yah. Tunjukkan gigimu." Seru Soni lagi.
Dia terus sibuk meminta Indra bergaya dan mengambil banyak gambar.
Tapi ketika Soni mendapat giliran untuk difoto, Indra malah asal menjepretnya.
Setelah lelah menjadi model dadakan, keduanya mencari tempat duduk di sudut kapal untuk melihat seperti apa hasilnya.
"Hei, kenapa hasilnya buram dan gelap sih? Kenapa mukaku nggak kelihatan jelas?" Tanya Indra.
__ADS_1
"Yah, itu karena kau berdiri membelakangi cahaya. Lagi pula ponselmu kan bukan ponsel mahal yang kameranya bagus. Kamera ponselmu masih VGA. Jadi wajar mukamu nggak kelihatan jelas."
Lalu dia melihat foto-fotonya yang lain, tapi tak satu pun hasilnya bagus hingga membuatnya kesal.
"Hei! Kok cuma gigiku yang nampak bersinar tapi aku hitam kayak bayangan?"
"Yah, mana aku tahu." Jawab Soni.
Sementara dia kesal, Soni nampak bahagia karena foto yang Indra jepret alas-asalan, justru menghasilkan gambar dan latar yang bagus. "Hahahaha... Fotoku malah jauh lebih bagus darimu. Kalau aslinya udah ganteng, difoto pun pasti ganteng." Tuturnya dengan nada menyindir.
Namun Indra tak mengubris sindirannya dan masuk ke dalam kapal, duduk, dan tidur sampai kapal itu berlabuh.
**********
Ketika mereka sampai di pelabuhan, hujan lebat disertai angin kecang tiba-tiba turun. Butiran airnya yang jatuh ke bumi, terasa seperti cambukan tajam yang siap melibas kulit. Meski begitu, mereka tetap memilih pulang.
Di sepanjang jalan, muka dan kepala mereka tak henti-hentinya mendapat serangan. "TAK!... TAK...! TAK...!" Bunyi butiran hujan yang jatuh mencambuk kepala mereka, terdengar seperti bunyi kelereng yang dilempar ke lantai. Begitu kuat dan sakit. Itu semakin menyakitkan karena kepala mereka tanpa lindungan helm.
"Kayaknya bentar lagi kepalaku bocor!" Seru Soni dengan kuat. Sebab suara angin yang bertiup kencang, mengurangi volume suaranya. Namun meski duduk dibelakangnya, Indra tak bisa mendengarnya dengan jelas.
"HAH? APA KATAMU?" Teriaknya.
"KAYAKNYA BENTAR LAGI KEPALAKU BOCORRRR...!" Teriak Soni lagi.
"APA? BANNYA BOCOR?" Tanya Indra balik karena suara yang dia dengar tak begitu jelas.
"KEPALAKU BOCOR!!!" Teriaknya lagi.
Mata Soni terus menyipit memfokuskan pandangannya ke jalanan yang gelap dan licin seraya mempertahankan keseimbangan sepeda motornya. Sedangkan Indra, dia berlindung di balik punggungnya dan tak peduli dengan apa yang terjadi.
*********
Lalu setelah satu jam menerjang badai, mereka pun sampai di rumah Soni dengan kondisi yang basah kuyub.
Malam itu sudah pukul 10 dan fisik mereka sudah begitu lelah. Maka setelah berganti pakaian, mereka berdua langsung tidur beralaskan tikar.
__ADS_1
**********