Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 58


__ADS_3

Kemudian dia masuk ke kamarnya, mengeluarkan ponsel dari sakunya dan kembali menghubungi kakaknya.


Ketika panggilan yang ke tiga sedang berlangsung dan hampir pada bunyi terakhir, barulah teleponnya terjawab.


"Hallo." Ucapnya dengan nada yang sedikit kesal.


"Hallo."


"Kalian dari mana saja sih? Diteleponin dari tadi nggak diangkat-angkat. Museumkan saja ponsel kalian kalau tidak bisa dihubungi!"


"Apa sih marah-marah. Tadi saya pergi ke warung sebentar beli gas. Gas di rumah sudah habis. Pas lagi goreng ikan asin, tiba-tiba apinya mati. Ya udah deh, dari pada tuh ikan asin kelamaan berendam dalam minyak panas, aku cepat-cepat pergi dan nggak bawa ponsel."


"Iya udahlah. Tak perlu dijelaskan. Aku mau bilang minggu depan aku mau pulang kampung."


"Oh gitu. Tanggal berapa?"


"Kalau bisa secepatnya. Coba cek berapa harga tiket pesawat."


"Iya. Tunggu sebentar."


Dia lalu memutuskan panggilan itu dan mulai menjelajah beberapa situs di ponselnya.


Tapi sepanjang dia mencari, tidak ada satu pun yang murah. Kemudian dia menghubungi adiknya kembali dan mengatakan hasilnya.


"Tidak ada yang murah. Penerbangan dari senin sampai minggu, semua mahal. Dari dini hari sampai tengah malam, semuanya mahal. Lebih baik kamu pulang naik bis saja."

__ADS_1


"Naik bis? Berapa hari?


"Tiga hari."


"Apa? Lama amat! Bisa-bisa kayak pepes ikan nih aku pas nyampe."


"Mau nggak? Kalau nggak, nggak usah pulang."


"Aduh... Mmm... iya lah. " Jawabnya bete. Kemudian dia memutuskan percakapan itu dan menghubungi salah satu temannya.


"Hallo Jack! Kamu lagi di mana?"


"Di rumah. Di kamar. Di atas tempat tidur. Emang ada apa kamu nanya?"


"Temani aku beli tiket dong."


"Mudik. Tiket mudik Jaka!"


"Biasa aja dong jawabnya. Nggak usah ngegas. Boros tahu. Gas mahal dan mulai langka. Tahu nggak?"


"Iya. Iya."


"Jam berapa beli tiketnya?"


"Besok pagi jam 9. Ingat yah jam 9 pagi. Bukan jam 9 malam. Jam 9 harus sudah sampai di loket. Bukan berangkat dari rumah. Jangan sampai telat bangun."

__ADS_1


"Iya. Iya. Demi kamu, aku rela kok nggak tidur semalaman."


"Alah.... banyak omong. Sudah yah. Ingat jam 9 pagi." Ucapnya lalu memutus percakapan itu.


*********


Malam harinya dia tidak bisa tidur dan selalu gelisah memikirkan perjalanan pulangnya ke kampung halaman.


Lalu tiba-tiba dia teringat kalau dia tidak punya sepatu dan pakaian dalam yang cukup.


"Astaga... baru ingat kalau aku nggak punya sepatu. Aku cuma punya sendal jepit. Nggak mungkin dong aku pulang kampung pakai sendal jepit. Pakaian dalam juga cuma punya tiga. Sejak keluar dari kapal, aku belum sempat belanja. Nggak mungkin dong pakaian dalam cuci kering. Hah..." Mendesah nafas. "Ya udahlah, besok aja belanjanya."


Malam itu dia melihat jam di layar ponselnya dan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Lalu dia mengeluh lagi karena matanya tak kunjung mau terlelap.


"Nggak terasa udah jam dua belas aja. Bentar lagi ayam berkokok nih. Tapi mata ini masih susah diajak kerja sama. Ngapain yah enaknya biar mata ini capek?"


Tiba-tiba terbersit di benaknya untuk bermain game on line. Namun sebentar dia bermain, rasa bosan mulai datang karena tak satu pun di antara teman-temannya bisa diajak bermain.


"Hah... main game juga bosan kalau sendiri. Ya udahlah! Tidur aja!" Ujarnya kesal lalu meletakkan ponselnya ke sisi bantalnya.


Lalu dia memiringkan badannya, mengambil sapu tangan lalu menutup matanya dengan sapu tangan itu berharap matanya bisa terpejam.


Namun lagi-lagi, matanya tetap segar seperti orang yang baru selesai membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Aduh... Mau tidur aja susah sekali sih! Apa harus ku lem mata ini biar bisa tidur? Hah? Tapi kalau begitu, yang ada mataku nggak bisa terbuka nanti. Atau apa aku harus minum obat tidur? Kalau begitu, besok aku bisa telat bangun karena terlalu nyenyak. Aduh..." Keluhnya.


Akhirnya dia bangun dan berjalan pelan keluar. Dia duduk di emperan mencari udara segar berharap itu bisa membuat otaknya tenang.


__ADS_2