
"Indra! Hei Indra! Sudah tidur belum?" Teriak ibunya dari balik pintu.
"Aduh... apa sih mak?" Jawabnya lemas karena tidurnya tertanggu. Lalu dia bangun dan berjalan seperti zombi membuka pintu. "Apa sih mak? Dari tadi ribut.... melulu. Iya besok aku minta gajiku."
"Hei, bukan itu yang emak mau bilang."
"Minggu depan kau akan pergi ke ibukota. Di sana, jangan berulah! Jangan buat kelakuanmu di sana macam di sini! Ingat! Kita nggak punya siapa-siapa. Jadi jangan bandel dan tahu diri kau! Besok kakakmu akan kirim uang untuk mengurus SIM mu."
"Apa? SIM? Untuk apa itu? Memangnya aku akan kerja apa nanti di sana?"
"Jadi kurir! Ingat! Jangan ugal-ugalan! Jangan buat jalan itu macam jalan nenek moyangmu. Jaga keselamatan! Jadi besok kalau bisa nggak usah kerja ke sawah. Biar besok kita bisa pergi mengurus SIM."
Tapi mendengar itu pikirannya jadi terbebani. Sebab dia sudah berjanji akan bekerja di sawah pak Tigor lagi sampai sawahnya selesai. Maka dia menolak ajakan ibunya dengan alasan itu. "Nggak bisa mak. Besok aku harus masuk ke sawahnya pak Tigor."
"Apanya maksudmu? Jadi itu lebih penting daripada masa depanmu?"
"Bukan. Tapi biar sekalian aku bisa minta upahku."
"Makanya kalau sudah selesai kerja, upahnya langsung diminta. Beginilah kan jadinya? Mendadak ada urusan penting, jadi nggak bisa."
"Lagipula urus SIM sebentar kok mak. Nggak sampai satu minggu. Jadi tenang aja mak."
"Memang gampang kali di otakmu semua." Tutur wanita itu dengan penuh tekanan sambil menjitak kepala Indra lalu pergi.
*********
Ke esokan paginya, Indra kembali bekerja di sawah itu bersama Soni. Seperti biasa, dia bekerja dengan rajin tanpa mengkhawatirkan pacet, lintah, ataupun cacing.
Di kepalanya hanya terbayang bagaimana nanti dia akan beradaptasi di lingkungan yang baru.
Entah sudah berapa banyak tumpukan padi yang dia bawa ke hadapan pak Tigor sampai-sampai dia kewalahan.
__ADS_1
Waktu terus berputar sampai matahari hendak kembali ke tempatnya. Seperti biasa, mereka pulang sambil membawa sekarung biji padi.
Usai menurunkan beban itu di teras rumah, Indra cepat-cepat menemui pak Tigor yang telah masuk ke dalam rumah.
"Pak, aku mau minta upahku. Besok aku tidak bisa kerja karena ada urusan mendadak."
"Aduh... bagaimana ini? Sawahku belum selesai. Lagipula sulit mencari buruh harian karena hampir semua orang sedang panen. Apa nggak bisa kau tunda urusanmu itu sehari saja?" Keluh si pemilik sawah.
"Nggak bisa pak." Jawabnya singkat.
Maka dengan berat hati Tigor meminta uang dari istrinya dan memberi dia upah selama dua hari.
Di jalan, selama dia dan Soni pulang, Soni menanyakan alasan kenapa dia tidak bisa bekerja besok. Maka Indra menjelaskan semuanya dari awal. "Besok aku mau urus SIM karena kakakku sudah dapat pekerjaan untukku. Di sana aku akan bekerja sebagai kurir. Setelah itu, aku akan segera pergi ke ibukota."
"Wah... enak yah. Nanti kau nggak mandi lumpur lagi dong macam aku. Sebentar lagi jadi anak kota. Sedangkan aku, tetap anak kampung."
"Ah...! Biasa aja."
"Jangan langsung sombong yah kalau nanti udah sampai di sana. Jangan langsung lupa sama bahasa daerahnya sendiri mentang-mentang udah jadi anak kota."
"Hari kau berangkat, kasih tahu yah. supaya aku ikut antarin ke terminal."
"Mmm."
***
Lalu sesampainya di rumah, dan belum duduk, ibunya langsung bertanya tentang upahnya. "Jadikan kau minta upahmu?"
"Iya. Ini nah!" Ucapnya sambil menyerahkan uang itu pada ibunya.
"Apa kata si Tigor itu?" Tanya wanita itu lagi.
__ADS_1
"Nggak ada."
"M. Baguslah! Sudah mandi sana! Besok kita urus SIM mu. Tentang tiketmu, nanti kakakmu yang akan membelinya."
Sementara itu, Soni yang tahu sebentar lagi temannya akan pergi, seolah hilang semangat. Karena dia tidak punya teman lagi di kampung. Karena itu dia juga berpikir untuk pergi ke kota dan mencari kerja di sana.
Maka malam itu, dia menghubungi beberapa orang yang bisa mencarinya pekerjaan. Namun dia tidak memberitahukan hal itu pada Indra.
**********
Ke esokan paginya, Indra dan ibunya bersiap pergi untuk mengurus SIM itu. Mereka menaiki angkutan umum untuk bisa sampai ke sana dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.
Namun mendengar banyaknya isu tentang pembuatan SIM yang rumit, wanita itu pun mengarang cerita sedih di kepalanya sepanjang perjalanan.
Sesampainya di sana, Indra langsung dibawa ke suatu tempat dimana dia akan diuji.
Tapi sepanjang ujian tertulis dan praktek, tidak ada satu pun yang lolos. Maka petugas berkata kepadanya agar besok datang lagi untuk ujian.
Mengingat jauhnya jarak yang harus mereka tempuh, yaitu sekitar 100 kilometer, dan beratnya ongkos, ibunya pun mengutarakan cerita yang sudah dia karang sejak tadi.
Dia menghampiri petugas itu dan berbicara sambil memohon,
"Pak, tolonglah pak. Anakku sangat membutuhkannya. Besok dia mau pergi. Kalau SIMnya tidak jadi, bagaimana. Tiketnya sudah dibeli pak. Jadi dia tidak bisa datang lagi besok. Tolonglah pak. Lagipula, anakku yang masih balita, kutinggalkan di rumah. Rumah kami juga sangat jauh dari sini pak. Ongkos ke mari pun kami utang pak karena sangat penting. Tolonglah pak."
Melihat mukanya yang memelas, si petugas pun merasa iba dan bertanya di mana tempat tinggalnya.
Setelah memberitahu di mana mereka tinggal, si petugas pun tampak mempertimbangkannya lagi. Kemudian dia memberi kode ke satu petugas yang lain dan memberitahukan masalah itu. Maka si petugas itu membawanya ke satu ruangan, dan di situ petugas itu bilang, "Ya sudah. Karena kau sangat butuh, kami akan buat SIM tembak. Tapi jangan beritahu siapapun. Oke!"
"Ya pak!" Jawab Indra sambil menundukkan kepalanya.
Maka si petugas itu pun segera membuat SIM itu kemudian meminta bayarannya.
__ADS_1
Lalu sejumlah uang berwarna merah sebanyak 4 lembar dengan lima angka nol diberikan pada si petugas setelah SIM itu selesai dan diberikan padanya.
"Terima kasih yah pak." Tutur wanita itu dan anaknya dengan sopan lalu pamit pergi.