Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 21


__ADS_3

Namun selama dia menanti, matanya tak henti melihat waktu yang tertera di layar ponselnya. Bolak-balik dia melihat keluar dari kamar kosnya, tapi batang hidung ataupun jejak kaki adiknya tak kunjung terlihat.


Perasaan kesal bercampur marah pun meluap dan berkobar dalam hatinya karena selalu tak direspek. Tapi karena esok harinya dia harus bekerja, dia pun memilih tidur dan membiarkannya.


"Ah... sudahlah! Biarkan saja! Itu anak memang susah sekali diatur. Tapi awas saja nanti!" Ucapnya sambil memendam kekesalan yang dalam.


*********


Lalu sewaktu tengah malam, dia terbangun karena ingin kencing. Ketika berjalan menuju kamar mandi, dia melihat lampu kamar adiknya sudah menyala.


"Sudah pulang rupanya si sontoloyo itu. Awas saja besok pagi. Ku hajar!" Ucapnya dalam hati saat berjalan menuju kamar mandi melewati kamar Indra.


Kemudian setelah kembali ke kamarnya, dia mengambil ponselnya untuk melihat jam berapa adiknya pulang.


"Sudah jam 12 lewat. Memang bandel sekali anak ini. Katanya pulang jam 10. Tapi ini!?"


*********


Ke esokan paginya, saat dia hendak melampiaskan kekesalannya, Indra ternyata sudah tak ada di kamarnya.


Dilihatnya kamarnya sudah kosong, bau dan sangat berantakan.


"Pergi kemana itu anak? Cepat sekali perginya. Jam berapa dia pergi?"


Dia pun menutup pintu kamar itu dan berencana akan melampiaskan kekesalannya nanti sore.

__ADS_1


*********


Ketika dia sedang sibuk bekerja, tiba-tiba istri atasan adiknya itu menghubunginya.


Rasa was-was dan takut pun seketika meliputinya dan tidak bisa terelakkan.


"Hadeh... gara-gara itu anak, sekarang aku jadi tidak enak hati sama dia. Bagaimana nanti kalau bertemu dengannya di tempat ibadah? Aduh... aku nggak bisa bertanggung jawab sama kata-kataku sendiri. Aku bilang adekku rajin, penurut dan takut samaku. Padahal, direspek pun tidak. Aduh...." Tuturnya seraya terus melihat nama itu di layar ponselnya sampai bunyi panggilan itu berakhir.


Namun ternyata itu bukanlah panggilan yang terakhir. Karena setelah itu, orang itu menghubunginya lagi. Hingga pada akhirnya dia tak dapat lagi menghindar dan dengan berat hati menjawab telepon itu.


"Yah ka. Ada apa?" Jawabnya takut-takut.


"Gimana itu adik kamu? Gara-gara dia saya jadi susah lho. Urusan saya banyak! Kerjaan saya juga banyak! Suami saya pun begitu! Ini saya bela-belain ke sini karena polisi teleponin saya harus urus sepeda motor yang ditahan di kantor polisi.


Kamu tahu nggak saya sudah keluar uang berapa buat tebus itu motor? Saya sudah keluarin uang satu juta lebih lho. Saya nggak pernah dapat karyawan yang begini. Biar kamu tahu!"


"Apa? potong gaji? Mana cukup! Dia saja tidak full masuk kerja selama satu bulan. Dia jarang masuk kerja!"


"Apa kak? Tapi setiap hari dia berangkat kerja ka. Jadi dia pergi kemana?" Tanyanya kaget sekaligus marah.


"Mana saya tahu. Itu kan adikmu. Masa kau nggak tahu? Lagi pula suami saya mungkin nggak mau terima dia lagi."


"Aduh... saya minta maaf yah ka. Gara-gara adik saya kakak jadi repot. Maaf yah ka."


"Ya udah! Kamu tolong nasehati adik kamu yah."

__ADS_1


"Yah ka. Sekali lagi maaf yah ka." Ucapnya lalu menutup telepon.


Dia terus mengoceh dan geram dengan kelakuan adiknya. Ingin rasanya dia menghajarnya saat itu juga. Tapi sampai sore harinya sewaktu dia pulang ke kos, lagi-lagi Indra tak kunjung terlihat rimbanya.


Barulah sekitar jam 7 malam, Indra pulang sebentar namun pergi lagi.


Ketika dia mendengar pintu kamarnya terbuka, dia segera keluar menemui adiknya.


"Hei! Dari mana saja kau gentayangan seharian? Gara-gara kau, aku jadi kena marah. Bisa tidak kau dikasih tahu? Mengertilah sedikit. Harusnya kau bersyukur ada orang yang mau menerimamu kerja tanpa meminta izazahmu. Mana ada perusahaan yang mau begitu! Tapi kau malah sok jago dan berbuat onar. Sejak kau bergaul dengan anak-anak dipinggiran rel kereta itu, kau jadi amburadul."


"Iya. Minggirlah. Aku mau pergi. Teman-temanku udah menunggu." Tuturnya setelah mengambil sesuatu dari kamarnya dan hendak pergi lagi.


"Mau kemana lagi kau? Hah? Katanya kau udah nggak diterima lagi kerja di sana. Trus sekarang kau mau kerja apa dan makan apa nanti?"


"Hah... biarin saja nggak diterima lagi. Bosnya cerewet sekali."


"Hei! Wajar kalau kau dimarahi. Kau berulah! Jarang masuk kerja! Kemana saja kau gentayangan selama ini?"


Tapi dia tidak menjawabnya karena buru-buru pergi.


"Hei! Mau kemana lagi? Cegatnya. "Ini sudah malam. Memang nggak pernah kau renungkan masa depanmu yah. Gak boleh pergi! Awas kalau kau pergi! Ku laporkan sama emak. Kau tahu? Kau masuk penjara pun sudah kulaporkan sama emak. Memang kau selalu membuat orang stress."


Tapi dia tak peduli. Dia tetap pergi sambil mengatakan, "Nanti aku akan pulang cepat."


Maka karena sudah semakin kesal, dia turun dan mengunci gerbang begitu adiknya keluar supaya dia nggak bisa masuk, dengan maksud agar adiknya jera dan tak keluyuran lagi.

__ADS_1


"Biar nggak bisa masuk sekalian!" Ucapnya dengan geram sambil mengunci gerbang itu.


__ADS_2