
Ke esokan paginya Indra memberitahu kakaknya kalau dia sedang di bis bersama teman-temannya menuju Jawa. Namun dia tidak memberi tahu kapan dia akan pulang.
Kakaknya hanya bisa bilang hati-hati karena dia tak bisa dicegat lagi. Keinginannya bersenang-senang seperti gejolak air yang tidak bisa dikendalikan.
Selama di perjalanan, Indra sangat murah hati kepada teman-teman seperjalanannya. Dia sering meneraktir mereka namun menahan uangnya untuk keluarganya.
Karena kemurahan hatinya, banyak teman-temannya memujinya namun tak sedikit yang bermulut lemes.
*********
Di sana, dia pergi ke beberapa tempat-tempat wisata dan bersua foto. Makan makanan yang belum pernah dia makan dan benar-benar menikmati hidup sebagai laki-laki lajang.
Namun dia juga terkadang membantu temannya itu ke ladang dan mengurangi beban orangtuanya dengan membayar biaya makannya selama tinggal di sana.
Uang yang dia habiskan selama tinggal di sana, hampir sama besarnya dengan yang dia kirimkan ke ibunya.
Namun uang itu habis karena solidnya pertemanan di antara mereka.
Sementara itu, ibunya kadang berharap kalau setelah selesai melaut anaknya bisa pulang kampung membantunya bekerja di ladang. Setiap kali ibunya mengatakan hal itu, Indra selalu menolak dan bilang malas bekerja di ladangnya sendiri karena tak ada uang. Meski ibunya tidak berniat menahannya selamanya di kampung, tetap saja dia malas pulang kampung.
***********
Setelah tiga bulan berlalu, dia pun kembali lagi ke Jakarta karena panggilan melaut lagi. Maka dia dan teman-temannya itu segera berkemas-kemas dan berangkat malam harinya.
Indra yang duduk di belakang selalu memangku ranselnya sekalipun teman-temannya menyuruhnya menaruh itu di bagasi. Tapi dia tetap tidak mau karena baginya itu tidak cukup berat.
Di tengah perjalanan, bis itu berhenti karena seorang penumpang wanita. Dia juga membawa banyak barang.
Ketika bis itu berhenti, sang kernet segera memasukkan barang-barangnya ke bagasi. Orang yang duduk di sebelah Indra juga beranjak dan mengambil tas dipangkuannya.
"Hei, mau kau bawa ke mana tas ku?" Tanya Indra.
"Taruh di bagasi. Sempit tahu! Kayak orang kampung saja pangku-pangku tas." Ucap temannya.
"Tapi nggak usah! Itu bukan koper. Hanya ransel."
"Udahlah! Selagi kernetnya masukin barang, tasmu dimasukin juga ke bagasi." Ucapnya lalu turun membawa ransel itu dan memberikannya pada kernet bis.
"Bang, tas ini juga tolong masukin ke bagasi." Ucapnya sambil menyodorkan tas itu.
Tas itu pun diletakkan di atas barang-barang perempuan itu. Sedangkan satu tasnya yang lain, masuk ke bagian yang dalam.
********
__ADS_1
Ketika malam semakin larut, mereka yang ada di dalam bis tertidur pulas selain supir dan kernet. Mulut yang tadinya asyik bercerita belakangan lelah dan meminta untuk istirahat, begitupun dengan mata.
Bis itu terus melaju di sepanjang jalan yang sepi yang penuh pepohonan di sepanjang sisi jalan. Gelap karena tidak ada lampu jalan yang menerangi selain lampu bis itu sendiri.
Supir dan kernetnya duduk berjauhan. Dia tidak pindah untuk membuat sang supir tetap terjaga dengan mengajaknya bicara. Juga tak ada musik yang dimainkan untuk memecah keheningan malam itu.
Lalu ketika dini hari, perempuan itu mendadak terbangun karena menduga sebentar lagi dia sampai. Namun ketika dilihatnya ke sekitar, bis itu masih melaju di jalanan sepi dengan pohon-pohon yang lebat.
Dilihatnya ke sekitar orang-orang tertidur sangat nyenyak. Hanya mereka bertigalah yang saat itu terjaga. Dirinya, supir, dan kernetnya.
Ketika sang kernet sadar kalau perempuan itu sudah bangun, sang kernet menoleh ke belakang dan menatapnya cukup lama.
Seketika nyalinya menjadi ciut, sebab dilihatnya muka sang kernet tidak jelas karena cahaya yang remang-remang.
"Ada apa dek? Kita masih jauh dari kota." Tanya sang kernet.
"Oh, begitu yah bang. Aku pikir sebentar lagi sampai." Jawabnya sambil memaksakan senyum meskipun itu tak akan terlihat jelas.
Lalu dia duduk meringkuk karena rasa takut yang tiba-tiba melandanya. Selain itu, mendadak air kencingnya ingin segera keluar dari penampungannya.
"Aduh... mendadak sesak pipis lagi. Kan nggak mungkin aku pipis di tempat gelap kayak gini. Kalau ada ular gimana?
Aduh... ayo tahan dong sampai di loket."
Dia sangat gelisah dan mulai berkeringat. Kerongkongannya juga kering namun dia takut untuk minum.
Maka karena dia terus gelisah, orang yang tidur di sampingnya pun bangun. Dia mengucek matanya dan mengatur fokus matanya.
"Ada apa?"
"Ah... nggak ada. Hanya banyak nyamuk." Jawabnya tak enak hati. Sebab orang yang duduk di sampingnya itu adalah laki-laki.
"Oh gitu." Balasnya lalu melanjutkan tidurnya.
Namun baru beberapa detik dia memejamkan matanya, Dia merasa terganggu lagi karena perempuan itu selalu gelisah.
"Aduh... berapa lama lagi sih sampai di kota. Aku udah nggak tahan nih." Keluhnya dalam hati.
Namun dengan daya pengamatan yang tinggi, orang itu pun sadar kalau perempuan itu sedang menahan sesuatu. Maka tanpa ragu dia bertanya, "Kamu mau kencing yah?"
Tak ada rasa malu lagi baginya, dan dia langsung menjawab, "Ya. Tapi kita masih lama sampai di kota."
"Bilang saja sama supirnya agar berhenti. Kau boleh cari tempat yang sepi dan kencinglah di situ."
__ADS_1
"Ah. nggak usah. Aku tahan saja. Bentar lagi nyampe kok."
"Kita masih jauh. Masih satu jam lagi. Bilang saja sama supirnya supaya berhenti."
"Nggak usah. Nggak papa kok."
Karena dia selalu menolak, akhirnya laki-laki itu pun bersuara dan meminta sang supir berhenti.
"Pak tolong berhenti sebentar. Ada yang mau kencing."
Mendengar ucapan satu orang itu, satu-persatu orang yang tidur itu pun bangun karena merasakan hal yang sama namun sungkan mengatakannya.
Beramai-ramai mereka menyuarakan agar sang supir berhenti dan mengizinkan mereka turun membuang limbahnya ke tempat yang sepi.
Hampir seluruh penumpang bis itu turun tergesa-gesa dan lari mencari tempat yang sepi untuk kencing. Laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan dengan perempuan di setiap semaknya.
"Aduh... leganya." Ucap Indra sambil merapikan celanannya usai buang air kecil. Kemudian dia berkata, "Hei, buruan! Ntar kita ditinggalin lho." Ucapnya pada teman sebangkunya yang belum selesai memancarkan limbahnya ke tanah.
"Ih.... sabar dong. Mana mungkin kita ditinggalin."
"Kencing lu banyak amat sih. Ada kali yah itu 5 liter?"
"Apa'an sih!"
"Buktinya airnya tak berhenti memancar."
Di sisi lain, perempuan itu bersama dengan satu ibu-ibu juga mempercepat pembuangan limbah cairnya karena takut ditinggal, juga karena takut ular. Mereka membayangkan ada ular yang tiba-tiba merayap di kaki mereka seraya mereka kencing.
"Aduh... jangan sampai kita ditinggal." Ucap perempuan itu.
"Dan jangan sampai ada ular. Ntar tiba-tiba matuk gimana? Kan mati." Jawab wanita paruh baya itu.
Lalu perempuan itu cepat-cepat merapikan dirinya usai membuang limbah cairnya lalu bertanya, "Udah belum bu? Ayo buruan. Nanti kita ditinggal."
"Iya neng. Tunggu yah sebentar lagi."
Lalu dalam hati dia berkata, "Ternyata bukan cuma aku saja yang sesak kencing dari tadi. Tapi mereka juga. Untungnya mereka bisa nahan dan bisa tidur, sedangkan aku nggak."
Kemudian setelah keduanya selesai, mereka segera kembali ke bis.
Sesampainya di sana, mereka kaget karena semua penumpang sudah duduk dan menunggu mereka.
Hanya mereka berdualah yang sejak tadi ditunggu dengan lama.
__ADS_1
Melihat tatapan dan reaksi penumpang lain, mereka berdua pun masuk dengan muka tertunduk karena tidak enak hati.