Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 52


__ADS_3

Ke esokan harinya, wanita itu bersama dengan anaknya yang sulung pergi usai sarapan. Dengan mengendarai sepeda motor bututnya, mereka pergi ke bank untuk mengambil kiriman uang itu.


Sesampainya di sana, anaknya langsung mengambil selembar formulir penarikan lalu mengisinya. Setelah itu duduk di kursi antrian di bagian belakang.


Namun karena tidak punya kesabaran untuk menunggu, waktu lima menit pun terasa seperti lima tahun bagi wanita itu sehingga dia mulai menggerutu pelan sembari cemberut.


"Aduh... Bosan kali aku ini. Aku paling malas menunggu. Kenapa sih lama sekali? Pegawai bank itu kerjanya lambat sekali."


Dia tidak menyadari bahwa ternyata ucapannya itu didengar oleh pegawai bank itu. Sehingga pegawai bank itu berhenti sejenak menghitung uang di tangannya lalu melemparkan lirikan maut padanya.


Tanpa sengaja anaknya melihat reaksi petugas bank itu dan merasa tidak enak hati. Maka dia menegur ibunya, "Mak, sudahlah. Mamak ini nggak pernah bisa sabar menunggu. Sama kayak mamaknya si Leo."


"Waktu, waktu, harus dimanfaatkan dengan baik." Balasnya ketus.


"Iya. Tapi bukan cuma kita yang diladeni. Sabarlah."


Wanita itu kemudian cemberut namun tak membalas kata-kata anaknya lagi.


Akhirnya setelah menunggu selama lima belas menit, nama mereka pun dipanggil, wanita itu dan anaknya segera menghampiri si petugas bank.


"Kita hitung yah bu uangnya." Ujar si petugas bank dengan muka ramah yang dipaksakan.


"Iya bu." Jawabnya.

__ADS_1


Petugas bank itu segera meletakkan segepok uang berwarna merah ke dalam mesin penghitung lalu menekan sebuah tombol. Lembaran demi lembaran pun mulai terhitung dengan cepat sampai jumlah yang diinginkan tercapai.


"Uangnya pas yah bu, tujuh belas juta." Ujar si petugas bank lalu menyerahkannya padanya.


"Terima kasih yah bu." Jawabnya ramah lalu meninggalkannya.


"Nah! Masukkan ke tasmu uang ini." Ujar wanita itu pada anaknya seketika berbalik badan dari si petugas bank.


Uang itu pun kemudian dia masukkan ke saku bagian dalam tas itu lalu pergi.


Mereka pergi ke kota yang lamanya sekitar satu jam perjalanan. Mereka pergi dengan sepeda motor butut itu dan melaju dengan kecepatan sedang.


Sewaktu kecepatan motor itu normal, di angka 40km/jam, wanita itu duduk tenang di belakang seraya bergelut dengan pikiran, angan-angan, dan harapannya.


"Tapi supaya cepat sampai." Balasnya seolah tak memedulikan perkataannya.


Sampai tiba-tiba, seorang pengendara wanita yang terlihat seperti setengah tua, melaju kencang dari belakang dan hampir menyerempet mereka. Tapi karena jam terbang anak itu sudah cukup lama berkendara, sepeda motor yang sempat oleng itu masih bisa dikendalikannya sehingga masih melaju dengan aman di lintasannya.


Hal itu membuat wanita itu semakin marah pada anaknya, "Kan! Sudah kubilang pelan-pelan! Zaman sekarang banyak orang nggak hati-hati berkendara! Kau tengoklah si gila itu! Sudah tahu tikungan, tapi masih mendahului. Bagaimana kalau ada kendaraan dari depan? Apa nggak celaka? Kalau cuma dia yang celaka sih, nggak masalah! Tapi orang lain pun ikut celaka gara-gara dia."


"Iya mak. Pelan-pelan kok kita. Lihatlah! Kecepatan 50 kok." Jawabnya sembari mengurangi kecepatannya menjadi 40km/jam.


"Ini masih cepat. Kurangi lagi! Aku sudah trauma. Jadi jangan cepat-cepat!"

__ADS_1


Maka anaknya mengurangi lagi laju motornya menjadi 20km/jam.


Lalu, sewaktu mereka menempuh jarak 500 meter, seorang pengendara muda keluar dari persimpangan jalan dan mendahului mereka. Tapi lajunya sangat lambat dan menguji kesabaran. Bahkan jarak mereka seringkali sangat dekat, sehingga dia sesekali harus menginjak rem agar kendaraan mereka tak berbentur dan jatuh.


Maka dia mencoba mendahuluinya dengan menekan klakson agar pengendara setengah muda itu memberinya jalan.


Namun, meski diklakson sampai tiga kali, orang itu tetap tidak memberinya jalan.


"Aduh... Ini orang benar-benar menyebalkan." Gerutunya.


Dia pun bersabar melaju di belakangnya dan berharap orang itu akan berbelok di persimpangan berikutnya. Sehingga tidak ada lagi orang yang merintangi jalannya.


Sampai akhirnya, setelah menempuh jarak sekitar 600 meter, si pengendara itu menghidupkan lampu motornya ke arah kanan.


Melihat itu dia menambah sedikit kecepatan lajunya sampai jarak mereka cukup dekat.


Sampai akhirnya situasi mengejutkan pun terjadi. Si pengendara setengah muda itu ternyata berbelok ke kiri. Secara spontan rem pun diinjak mendadak agar tidak menabrak. Hal itu membuat mereka nyaris jatuh hingga memancing kemarahan wanita itu.


"Hei! Kemana sih kau berbelok? Nggak ngerti peraturan lalu lintas kau yah?!" Teriaknya seraya mereka lanjut melaju.


"Pakai SIM tembak mungkin dia mak, jadi nggak ngerti peratutan lalu lintas." Sambung anaknya.


"Entahlah. Lampu ke kanan, belok ke kiri. Memang banyak kali orang nggak hati-hati sekarang. Karena itu jangan kencang-kencang. Coba kalau tadi kita kencang, pasti akan nabrak. Tapi karena lambat, kamu masih bisa ngeremnya. Makanya dengarkan aku bicara! Banyak sekarang orang ugal-ugalan di jalan raya. Terkadang kita hati-hati supaya selamat, tapi yang lain tidak hati-hati."

__ADS_1


"Iya mak." Jawabnya singkat tanpa membantah lagi omongan ibunya.


__ADS_2