Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 47


__ADS_3

Akhirnya setelah berlayar dua puluh hari, mereka sampai di pelabuhan, pusat seluruh kapal-kapal ikan berkumpul, baik yang besar ataupun yang kecil. Orang-orang sibuk bongkar muat dan memperbaiki jala ataupun alat pancing.


Begitu mereka sampai, para ABK itu segera bongkar muat isi kapal. Usai itu, mereka pulang ke tempat masing-masing sampai akhirnya mendapat kabar dari sang kapten tentang upah yang akan mereka terima nanti.


Seperti biasa, Indra yang adalah anak rantau, tidak mempunyai tempat kos selain menumpang di rumah temannya.


Sementara temannya itu sedang berkumpul bersama istri dan anaknya melepas rindu, dia pergi menyendiri dan menelepon keluarganya di kampung.


"Hallo, Mak, Kalian sehat?" Tanyanya datar.


"Oh... kami sehat. Tapi kantung tidak."


"Ah...kantong kalian memang selalu sakit parah."


"Bagaimana kabarmu?"


"Sehat mak."


"Baguslah. Di mana kau sekarang?"


"Di rumah teman. Kami sudah pulang dari Merauke."


"Kok cepat sekali?"


"Karena tangkapan selalu sepi, jadi kapten memutuskan pulang."

__ADS_1


"Oh gitu...Jadi bagaimana tangkapanmu kali ini? Lumayannya?"


"Lumayan."


"Berapa? Bisa dapat sepuluh juta?"


"Mmm.... Mungkin bisa. Soalnya hutangku juga banyak sama kapten mak. Jadi aku nggak tahu nanti bisa dapat berapa."


"Hutang apa memangnya kau sama kaptenmu?"


"Waktu itu aku pinjam uang untuk beli baju, celana, dan pakaian dalam. Masa cuci kering terus."


"Berapa rupanya hutangmu sama kaptenmu?"


"Lima juta."


"Sebelum kami pergi, aku sudah pinjam duit. Setiap kali kami berlabuh aku juga pinjam duit. Masa aku cuma liatin orang-orang makan dan minum! Lagi pula 'kan aku yang kerja! Aku juga mengisi pulsa. Kalau lagi bersandar, aku main game. Nggak mungkin kan aku tidur melulu seharian di kapal?" Nada suaranya mulai meninggi akibat interogasi itu.


"Ya sudahlah. Jangan boros-boros kau Tet." Ibunya selalu memanggilnya Tet sekalipun itu bukan namanya. Lalu dia melanjutkan, "Pikirkan masa depanmu! Kau kan tahu hidup kita miskin. Mamak nggak punya uang untuk menikahkanmu nanti. Jadi pikirkan dan kumpulkan uang nikahmu nanti. Kalau kau terus boros bagaimana? Hah? Lima juta kau habiskan sendiri. Itu kan banyak! Kami di sini saja sering makan nasi ditemani sambal saja. Hutang banyak. Musim kemarau panjang, banyak tanaman gagal panen. Tidak ada yang bisa dijual banyak. Kalau pun ada, itu sangat pas-pasan. Untuk listrik, gas, beras, ikan-ikan pun mahal, semua sudah mahal. Ah... Sudahlah, nggak ada gunanya mamak bicara panjang lebar tentang itu. Kau nggak bakalan mengerti!"


Selama ceramah yang panjang itu, Indra serius mendengarkan tanpa memotong pembicaraannya sedikit pun.


Kemudian ibunya berkata lagi, "Jadi bagaimana tangkapan kawan-kawanmu? Banyaknya?"


"Lumayan. Ada yang lebih banyak dariku, ada juga yang sedikit. Ada temanku yang selalu aku kasih cumi setiap kali menimbang. Supaya nanti dia bisa bawa uang kalau pulang. Kasihan, tangkapannya selalu sedikit."

__ADS_1


Mendengar itu pun ibunya seketika kesal, "Kenapa kau kasih-kasih tangkapanmu sama temanmu itu? Itu bukan urusanmu. Kita kekurangan uang. Yang ngasih bantuan untuk kita saja tidak ada. Tidak ada yang peduli sama kita. Waktu kau susah, apa ada temanmu yang peduli samamu? Coba kau ingat-ingat dulu! Kau berjuang sendiri. Kau mulai melaut pun, tidak ada yang ngasih sebagian tangkapannya untukmu. Bahkan tidak ada yang mengajarimu. Kau sendiri yang bilang! Berapa kali kau kasih tangkapanmu sama dia?"


"Sepuluh kali."


"Nah itu lah kan?! Kalau ditimbang itu sudah berapa duit? Jangan kau ulangi lagi itu! Mengerti!"


"Iya. Iya. Ngomong-ngomong lagi ngapain kalian?" Tanya Indra.


"Bicara di telepon." Jawab ibunya singkat.


"Mak udah dulu yah. Aku mau ke warung cari makan. Nanti kalau gaji kami sudah cair, langsung kukabari."


"Iya. Iya." Jawabnya lalu menutup telepon.


Usai mematikan telepon genggamnya, wanita itu kembali mengeluh tentang kebaikan anaknya. "Kebaikan tanpa batas adalah kebodohan. Begitulah anak itu sekarang. Susah sekali dikasih tahu."


***********


Sementara Indra pergi, Tono disibukkan dengan tanggung jawab baru, menggendong dan menimang-nimang anaknya yang begitu dia rindukan, yang tak bisa dia lihat sewaktu lahir. Dia menggendong sambil bernyanyi supaya anaknya cepat tidur.


Namun istrinya yang tampak fokus menonton drama, merasa terganggu sehingga protes, "Bang, bisa diam nggak sih?! Nggak kedengaran nih suaranya. Kalau mau tidurin anak, tidurkan saja. Nggak usah nyanyi! Suara fals begitu pun, bangga sekali nyanyi. Yang ada dia bukannya tidur, tapi makin melotot. Lihat aja matanya, pasti melototin kamu kan?"


Seketika itu Tono langsung melihat muka anaknya dan benar, mata mereka beradu tatap. Maka dia senyum sumbringah dan bilang, "Iya Sus. Benar kamu."


"Apa kubilang. Udahlah, kalau mau tidurin anak, gendong saja, tapi mulut diam. Supaya suasananya hening dan dia cepat tidur."

__ADS_1


"M. Iya. Iya." Jawabnya bete sembari pergi ke tempat lain agar istrinya tidak terganggu menonton drama.


__ADS_2