Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 51


__ADS_3

Usai meninggalkan toko itu, dia cepat-cepat beralih ke toko sembako tak jauh dari situ.


"Karena uang untuk beli sembako tinggal sedikit, karena sudah aku pakai beli tas, jadi belanja untuk keperluan dapur harus aku kurangi." Tuturnya dalam hati.


Lalu dia mengeluarkan daftar belanjaannya. Tertera beberapa bahan makanan yang harus dia beli. Ikan, cabai, tomat, bawang merah, yang masing-masing jumlahnya satu kilo, dan beberapa macam sayuran.


"Karena uang udah nggak cukup, terpaksa aku beli setengah-setengah kilo aja dan sayur satu macam aja." Tuturnya pelan.


Kemudian dia mulai memasukkan sedikit demi sedikit bahan-bahan itu ke dalam kantong plastik dan memberinya kepada penjual untuk ditimbang.


"Berapa semuanya bu?" Tanyanya sembari membuka resleting dompetnya.


"Seratus ribu bu." Jawab si pedagang.


Dia pun mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru lalu menyerahkannya pada si pedagang.


"Makasih yah bu." Tuturnya sembari menerima kantong belanjaannya dari si pedagang.


Usai membeli semuanya, dia segera pulang karena telah pergi cukup lama. Dia pulang dengan rasa senang sambil berkata dalam hati, "Kalau si Tono coba-coba komplain tentang tas ini, kukarate dan kusuruh tidur di luar dia! Akhirnya, bisa juga aku pamer di kelompok arisan. Jangan cuma si Marta aja yang bisa pamer! Bosan mata ini ng'lihatnya. Mentang-mentang istrinya camat, dia pikir cuma dia aja yang bisa pamer? Nih... Susi... Istri seorang pelaut, nggak boleh ketinggalan. Satu minggu ini makan hemat aja. Uang belanja untuk satu minggu udah aku pakai untuk beli tas."


Sesampainya di rumah, dia disambut baik oleh suaminya di depan pintu walaupun dia telah pulang terlambat dan membuatnya suaminya sejak tadi sibuk menenangkan anaknya dari tangis yang parah karena membutuhkan susu.


"Kok lama amat Sus setor uangnya? Sekalian belanja yah?" Tanyanya ramah.


"Iya. Anak kita mana?"


"Sudah tidur."


"Oh gitu, baguslah. Aku simpan ini dulu yah." Dia meletakkan kantong besar berisi sembako di atas meja lalu pergi ke kamar dan menyimpan tas barunya di dalam lemari.


"Tasku yang cantik, lucu, dan imut, kamu baik-baik yah di dalam sini. Besok baru mami pakai ke arisan." Ujarnya ramah sambil tersenyum-senyum.


Tanpa dia sadari, rupanya Tono menyusulnya dari belakang dan tanya barang apa yang dibelinya.


"Itu apa Sus?"

__ADS_1


"Astaga! Kamu ngagetin aja! Hampir aja jantungku copot. Kalau sampai copot, kan bahaya!


Itu tas. Bagus banget lho. Aku suka... banget. Aku senang banget bisa beli tas itu. Sudah lama banget aku mengidam-idamkannya dan baru kali ini aku bisa beli."


"Oh gitu. Boleh aku lihat?'


"Oh, tentu."


Dia pun segera mengambilnya dan memperlihatkannya. "Nih... Lihat deh. Bagus kan? Tas ini lucu banget lho. Buktinya mulutku senyum-senyum terus sejak pertama kali lihat tas ini sampai sekarang."


"Biasa aja. Apanya yang bagus? Apa gara-gara itu kamu lama? Tanya Tono datar.


"Nggak juga. Kamu kan tahu, antrian di bank panjang. Makanya aku lama."


"Oh gitu."


"Indra mana?"


"Keluar, makan."


"Nanti kalau Indra udah pulang, tolong kasih bukti setoran ini yah. Aku capek, mau tidur."


"Ya udah, keluar deh sana. Aku mau tidur." Dia mengusir suaminya supaya tidurnya tidak terganggu lalu menutup pintu kamar.


"Sialan si Susi. Main usir-usir aja. Aku kan juga mau tidur. Dasar!" Mulutnya ngedumel disertai tatapan maut ke arah pintu yang tertutup.


Namun baru beberapa detik dia menyandarkan punggungnya, anaknya bangun dan langsung menangis.


"Aduh... Anak ini sama aja kayak bapaknya. Ngeselin.... Mulu!" Ucapnya seraya terpaksa bangun.


Tono yang masih berdiri di depan pintu, seketika nyeletuk, "Dia kehausan tuh. Pergi dari subuh, pulangnya besok." Cletuknya kesal lalu pergi.


Susi pun mengambil anaknya dan memberi kebutuhannya sampai dia tertidur.


*********

__ADS_1


Sementara itu, Indra yang baru kembali dari warteg segera menghampiri Tono. "Gimana Ton, kenapa mukamu bete kayak pepes ikan? Melempem kayak kerupuk keluar angin!"


"Biasalah, masalah rumah tangga. Oh yah, ini bukti setoran duitmu."


"Oh, udah disetor rupanya. Makasih yah. Tapi di mana istrimu?"


"Ngambek dan menenangkan diri di kamar."


"Kenapa?"


"Biasalah. Udalah, nggak usah dibahas lagi. Mending kamu telepon emakmu sekarang, bilang kalau uangnya udah disetor. Siapa tahu mereka dari tadi nungguin."


"Iya. Bener juga kamu."


Segera dia mengeluarkan ponsel di sakunya dan menghubungi ibunya.


"Tut... Tut.. Tut..." Bunyi dering yang membosankan baru berakhir setelah panggilan ke sepuluh dilaksanakan.


"Hallo mak!"


"Oh, hallo! Ada apa Tet?"


"Kalian dari mana aja dari tadi? Udah sepuluh kali aku teleponin nggak diangkat-angkat."


"Aduh... kami di ladang Tet. Biasalah mencangkul."


"Udah kukirim yah mak uangnya. Besok ambil saja."


"Oh... Terima kasih yah. Tapi kamu nggak kurangi jumlahnya kan Tet?"


"Nggak mak."


"Aduh... Baik kali anak mamak ini. Makasih yah. Besok mamak bisalah bayar hutang."


"Iya. Udah dulu yah mak. Aku ada urusan sebentar."

__ADS_1


"Ok. Ok. Makasih yah."


"Yah." Jawabnya lalu menutup teleponnya.


__ADS_2