
Dengan langkah yang malas dan muka masam dia menghadap suaminya tanpa berkata apapun dan langsung duduk.
"Jangan cemberut lagi dong Sus...
Abang makin pusing nih. Lebih baik kita sarapan dulu aja. Masalah itu nanti kita bicarakan lagi. Ok!" Ujar Tono sambil memegang lembut tangan istrinya.
Merasa suaminya tak tanggap, dia pun terpaksa melempar tatapan maut padanya dan menyorotnya cukup lama. Api yang membara di matanya seolah bisa membakar mukanya seketika saat menatapnya. Seperti lampu tembak pada mobil, tatapan itu seolah bisa membutakan mata siapapun yang melihatnya. Tapi sambil berupaya mengumpulkan keberanian, dia berkata,
"Ada apa Sus? Kenapa kamu malah melototin aku sih?" Tanya suaminya.
"Nggak ada. Mendingan kamu sekarang ambil nasi deh supaya kita makan. Sayurnya udah keburu dingin nih." Jawab istrinya dengan muka bete.
Dengan sigap dia bangkit dari kursinya mengambil piring dan sendok.
Namun ketika dia membuka penutup penanak nasi itu, matanya terbelalak diikuti mulutnya dan raut kesedihan dengan cepat menyambar mukanya. Meski begitu dia diam sejenak karena takut pada istrinya.
"Gimana nih? Gawat!" Pikirnya.
Tak lama istrinya melontarkan satu pertanyaan yang menyelekitkan hatinya, "Mana nasinya?"
Dengan bibir penuh getaran seperti menggigil dia menoleh padanya dan berkata dengan mulut yang terpaksa, "Nasinya nggak ada. Kayaknya aku lupa masak deh."
"Bukan lupa! Tapi memang tidak ada! Berasnya nggak ada Tono...
Tadi malam aku udah bilang kalau beras habis. Tapi bukannya ditanggapi, kamu malah sibuk main game online. Ya sudah! Makan bayam sama telur saja. Nanti saja makan nasinya kalau sudah ada!" Balas istrinya dengan nada jengkel.
"Nggak enak dong Sus." Tutur Tono dengan muka memelas.
"Kalau enggak enak, kasih kucing! Bukannya inisiatif beli malah jawab lagi! Sudah sana beli! Dasar!" Bentak Susi.
Namun usai mendapat bentakan itu, dia bukannya pergi tapi malah menghitung sisa uang di sakunya dalam hati. "Yah.... uang tinggal seratus ribu. Kalau aku beli beras, paling dapat sekitar enam kilo. Aduh... gimana yah...? Trus ongkosku ke pelabuhan apa?"
__ADS_1
Karena berlambat-lambat, kemarahan wanita itu semakin berkobar, "Kenapa lama sekali sih? Niat makan atau nggak nih? Atau kita puasa aja? Gimana?! Aduh... lama-lama aku bisa lahiran dadakan nih!" Bentaknya. Kemudian dia berkata lagi sambil berakting kesakitan,
"Aduh! Aduh! Perutku mules.... Aduh....Cepetan...!" Teriaknya.
"Iya. Iya. Aku pergi sekarang." Jawab Tono lalu berlari ke toko kelontong.
Dengan nafas ngosngosan, dia berbicara pada wanita penjaga toko. "Bu, beli beras. 2kg aja. Buruan bu. Nanti panci di rumah meledak."
Menyaksikan nafasnya terhembus seperti nafas banteng yang sedang marah, wanita penjaga toko itu mengungkapkan kekhawatirannya dan berkomentar, "Tenang dulu atuh. Aku nggak bisa kalau lihat orang ngap-ngapan begini. Takut! Soalnya kemarin si Malik ngap-ngapan lalu meninggal karena kecape'an."
"Duh... udahlah bu nggak usah prihatin sama keadaan saya. Makin ibu berlama-lama, makin ngap-ngapan aku. Sebentar lagi nafasku nggak kaya banteng lagi bu, Tapi kaya kuda nil adu otot sama badak bercula satu. Bingung kan bu? Makanya buruan bu, biar nggak bingung-bingung." Tuturnya dengan semangat karena mengamati wanita itu dilanda kebingungan.
Maka tanpa basa-basi lagi, wanita itu segera bertindak menimbang beras itu dan menyerahkannya pada Tono.
Tapi Tono langsung lari begitu kantong berisi beras itu sampai ke genggamannya.
"Hei...!" Tono....! Tong kosong nyaring bunyinya...! Mana uangnya...?" Teriaknya kencang.
Wanita itu pun menggerutu setelah Tono hilang dari pandangannya, "Dasar Tong Kosong Nyaring Bunyinya! Banyak kali taktiknya jadi orang. Kerjanya sandiwara.... melulu.... Tapi ujung-ujungnya ngutang! Entah udah berapa banyak kasbonnya di sini." Ujarnya kesal.
Kemudian dia masuk dan kembali mengomel, "Tunggu aku periksa dulu sudah seberapa banyak hutangnya di sini. Jangan-jangan hutangnya sudah lebih besar daripada modalku berdagang."
Dia mengambil sebuah buku daftar hutang dan mencari nama Tono di setiap lembarannya.
"Nah, ini dia!" Lalu dia memeriksanya dan berkata lagi dengan muka yang sedikit malu, "Oh, sudah lunas rupanya hutangnya si Tono. Kemarin hutangnya totalnya tiga puluh tujuh ribu lima ratus, itu sudah diangsur dua kali. Pertama empat belas ribu lima ratus, dan terakhir dua puluh tiga ribu. Untung ku catat, kalau tidak terjadilah malapetaka kalau ku tagih lagi. Jadi buku ini nggak bisa hilang. Harus dijaga baik-baik. Sekarang kutulis saja hutangnya yang terakhir ini. Kurasa tahun depan baru bisa dia bayar. Dia kan sering begitu. Kalau ngutang, bayarnya lama.....banget. Untung aku kuat modal. Kalau tidak, bisa-bisa warungku ini tutup karena ngutangin orang mulu."
***********
Sesampainya di rumah, Tono cepat-cepat membersihkan beras itu dan memasaknya. Lalu dia duduk di depan penanak nasi itu sambil memikirkan langkahnya selanjutnya.
Tak lama istrinya datang dan mengoceh padanya, "Ada berasnya? Sudah dimasakkan?"
__ADS_1
"Iya. Tunggu aja. Beberapa menit lagi juga mateng kok." Jawab Tono ramah berharap tidak mendapatkan serangan dari istrinya.
"Berapa kilo?"
"Dua kilo saja."
"Apa? dua kilo?!" Seketika tekanan darah istrinya naik dan memuncak sampai lututnya lemah dan bergoyang. Dia hanya memegang meja sehingga tidak jatuh.
"Iya. Aku hanya bisa beli segitu. Segitu dulu yah. Tapi besok aku akan beli berkilo-kilo supaya kamu tidak susah makan dan kelaparan."
Wanita itu diam mencoba memahami situasinya, karena meskipun dia telah marah-marah, suaminya tetap bersikap lembut padanya. Kemudian dia duduk di meja makan karena tak kuat berdiri lama dan berkata tegas, "Stop! Jangan bicara sampai nasinya matang dan saya makan!"
Melihat tatapannya yang tajam seperti mata elang, laki-laki itu pergi dan berdiri di depan penanak nasi menunggu sampai itu matang.
Tak lama tiba-tiba ponselnya berdering. Ponsel itu tergeletak di atas meja makan.
"Wah... gawat! Itu pasti si Rahmat yang telepon. Duh... malah biniku lagi yang ngangkat." Gumamnya.
"Yah bu" Sapa wanita itu.
"Minggu ini arisan kita lho. Kapan mba akan bayar. Yang lain sudah pada nyetor nih. Tinggal mba yang belum.
Besok hari terakhir lho." Jawab wanita yang ada di telepon.
Mendengar istrinya berkata 'bu' hatinya lega. Tapi ketika melihat raut wajah istrinya usai berbicara di telepon, jiwanya semakin khawatir karena muka istrinya semakin merah padam dan tampak stress.
"Duh, kalau udah begini, jangan sampai salah tingkah. Bahaya! Salah bicara sedikit pun, kepalaku bisa terbang."
Lalu ketika nasi itu sudah matang, dia menyendoknya ke piring dan mengantarnya ke meja dengan mulut yang diam membisu.
Sampai mereka selesai makan, istrinya tetap membisu dan suaminya tak berani bertanya apapun.
__ADS_1