
"Udah selesai kan 'Ndra? Kamu gak beli apa-apa lagi kan? Soalnya bentar lagi sore nih. Aku harus siapin daganganku ." Ujar Jack.
"Iya. Udah selesai kok. Tadi kan aku udah bilang cuma beli pakaian dalam doang. Ya udah kita pulang aja yuk. Ntar binimu ngoceh-ngoceh lagi."
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu lalu menuju tempat parkir.
Sewaktu hendak mengeluarkan sepeda motornya, si tukang parkir dengan gerak sigap langsung menghampiri mereka dan menagih uang parkir. "Bang, uang parkir dua ribu!" Dengan nada membentak dan mata melotot dia mengatakan hal itu. Membuat kedua remaja itu kaget. Muka yang terlihat marah dan nada suara yang sedikit meninggi memberi kesan seolah mereka hendak kabur tanpa membayar.
"Pak, biasa aja kali pak. Kami nggak akan kabur kok." Ujar Jack sembari mengeluarkan uang receh dari sakunya.
"Bapak cuma takut nanti kalian nggak bayar."
"Nggak mungkinlah pak. Memang ada yang begitu?"
"Ada. Tadi dua anak ingusan kabur begitu saja dan nggak bayar uang parkir. Bapak nggak sempat lagi mengejarnya karena bapak lagi makan tadi. Udah itu, mereka malah mengejek saya. Yang satu bilang, 'Eh... kasihan. Kena tipu. Hahahaha....' Saya mau lempar kepalanya pakai kayu. Tapi gara-gara ada CCTV, saya tidak jadi melemparnya. Saya takut menimbulkan masalah. Jadi saya biarkan saja."
"Astaga. Uang parkir aja dibawa kabur. Yah udahlah pak. Ikhlaskan saja. Ini uang parkirnya."
Dia memberikan selembar uang senilai lima ribu.
__ADS_1
"Nih kembaliannya dek." Sambil memberikan selembar uang kertas dan dua uang logam.
"Udah pak. Buat bapak ajalah kembaliannya. Anggap aja itu uang parkir bocah nakal itu tadi.
Dia mengatakan hal itu karena malas menyimpan uang logam di sakunya.
"Oh, makasih yah dek." Jawabnya sambil tersenyum.
Dia tersenyum balik membalasnya lalu pergi.
***********
Setelah berkendara sekitar satu jam, Mereka pun akhirnya tiba di tempat tinggal Indra sementara. Sedangkan Jack segera pergi setelah dia mengantarnya.
"Duh, gimana nih. Pasti si Siti udah naik pitam nih gara-gara aku pulangnya lama. Kalau lima belas menit lagi aku nggak sampai, bisa-bisa tabung gas 3kg melayang dilempar ke kepalaku nanti. Bocor berdarah dan pingsan aku dibuatnya. Si Siti kan parah kalau lagi ngamuk. Matanya aja nggak bisa dilihat lagi. Makanya dia sering gelap mata padaku. Kemarin saja aku dilempar garpu sama dia gara-gara uang kembalian nggak aku kasih. Sekarang, aku telat. Bisa bayangkan apa yang bakal dia lempar ke mukaku? Kotoran ayam cui! Bayangkan! Hah... Punya istri galaknya minta ampun. Harus kujawab apa kalau aku telat? Apa kubilang saja ban motorku bocor? Atau tadi ada pohon tumbang? Atau gimana? Kalau aku jujur, nanti dia bilang, 'Tuh kan, berarti temanmu lebih penting daripapa aku.' Bisa-bisa tidur di luar aku nanti. Aduh... Aku semakin bingung."
Dia terus bertanya jawab seraya jaraknya semakin dekat.
Lalu ketika gerobak dagangnya mulai tampak dari kejauhan, mukanya pun sekejap berubah menjadi pucat pasi. Aliran darah dari jantung menuju muka berhenti. Namun apa daya. Dia tidak bisa mengelak murka istrinya. Namun jauh di lubuk hati terdalam, terdapat sebutir permohonan agar sang dewi fortuna berpihak padanya saat itu juga.
__ADS_1
Setelah memarkirkan sepeda motornya sedikit jauh, dia kemudian menghampiri istrinya yang sedang sibuk berbenah. Semua hampir beres dan siap berdagang.
Biasanya pekerjaan itu dilakukan oleh mereka berdua. Tapi kini itu dilakukan oleh istrinya seorang.
"Sit, kamu pasti udah capek beres-beres sendiri. Duduk geh sana. Biar sisanya aku yang lanjutin." Ujarnya gugup setelah mengumpulkan keberanian.
"Sit. Kamu bilang sit? Sit artinya duduk. Kamu suruh saya duduk? Begitu?"
"Maksudku bukan arti namamu lho yang saya bahas sit." Jawabnya ragu sebab sorot mata istrinya semakin mengarah tajam padanya seperti sorot mata burung elang yang siap menerkam mangsa.
Lalu dia berkata lagi, "Kalau kau tahu aku capek, kenapa jam segini baru datang? Darimana saja dari tadi? Hah? Menghilang? Iya?"
"Maaf Sit. Tadi ada gangguan teknis. Tidak sengaja kok. Baru kali ini. Selama ini kan nggak pernah."
Wajahnya memohon iba seperti orang yang divonis hukuman mati.
"Aduh! Udahlah! Jangan kau buat muka menyedihkan itu di depanku. Kau pikir itu mempan? Hah? Sekarang mulailah menggoreng sebelum kompor gas ini meledak kubuat."
"Iya. Iya. Baiklah." Senyum kaku pun muncul di bibirnya seraya bergerak mengambil alat masaknya.
__ADS_1
Kedua pasangan suami istri ini pun mengambil pekerjaannya masing-masing tanpa saling berkomunikasi.
Sementara itu, Indra yang telah sampai di kediamannya, segera menghubungi orangtuanya dan mengatakan waktu keberangkatannya besok.