Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 54


__ADS_3

Di perjalanan pulang, wanita itu kembali merenungkan lagi betapa beruntungnya dia bisa menebus gelang warisan itu. Di atas sepeda motor yang sedang melaju sedang, dia berbicara pada anaknya yang sedang fokus menyetir,


"Terima kasihlah sama anakku si Indra. Aku senang gelang itu sudah kembali ke tanganku. Setiap malam aku selalu kepikiran dan terbebani bahkan sampai terbawa mimpi gara-gara sudah menggadaikan gelang itu."


"Mmm... Iya." Jawabnya singkat sembari mempertahankan fokusnya pada jalan raya yang sibuk.


Wanita itu tidak bicara lagi namun hanya memandangi setiap rumah-rumah yang telah dilaluinya selama perjalanan pulang. Dalam hati dia berkata, "Bisa tidak yah kami suatu saat bangun rumah? Kecil dan sederhana saja. Asalkan tidak menumpang lagi di rumah keluarga."


Matanya tertuju fokus pada setiap rumah yang berlalu. Sampai mereka tiba di rumah, barulah dia mengungkapkan isi hatinya pada anaknya.


"Tadi aku lihat di sepanjang jalan banyak rumah yang bagus-bagus. Bisa tidak yah kita bangun rumah nanti?"


"Mana mungkin." Jawab anaknya singkat seraya mengeluarkan barang-barang dari kantong belanjanya lalu menyeduh secangkir kopi.


"Kenapa nggak mungkin?" Tanya wanita itu sambil menatapnya.


"Aduh..." Ucapnya lalu menarik kursi kecil di bawah meja dan duduk. Di tangannya sudah ada secangkir kopi panas lengkap dengan sendoknya dan mulai dia minum sedikit demi sedikit menggunakan sendok.


Setelah sendokan yang ke tiga, barulah dia melanjutkan perkataannya, "Hutang kita aja banyak. Mulai dari yang kecil-kecil, sampai sebesar pasak. Duit dari mana lagi untuk bangun rumah? Makan saja sering terancam."

__ADS_1


"Kadang-kadang aku kecil hati. Orang-orang di bawah umurku sudah punya rumah sendiri. Baru dua tahun menikah, sudah bisa bangun rumah. Sedangkan aku, sudah bertahun-tahun masih numpang." Balas ibunya.


"Itu karena mereka diberikan fasilitas hidup sama mertua ataupun orangtuanya. Sedangkan kita? Mertua atau orang yang dipanggil kakek atau nenek, tabiatnya persis seperti setan. Mereka tidak memberikan apapun untuk anaknya. Tidak ada ladang, malah semua yang pernah kalian miliki diambil semua sampai tak bersisa. Kita masih mulai dari dasar mak."


"Kau benar." Usai menjawabnya wanita itu termangu beberapa saat meratapi nasibnya yang dirasa cukup malang. Ditinggal suaminya dan menikah dengan janda lain, menghidupi 3 orang anak hanya dengan sepetak ladang.


Lalu tak lama datang salah seorang tetangga masuk dan menagih janji wanita itu.


Dengan muka dan nada sedikit galak dia menagih hutang wanita itu, "Mak Indra, jadi kan kau bayar hutangmu hari ini? Aku butuh sekali lho! Besok dua orang pekerja masuk ke ladangku untuk membajak, jadi aku harus siapkan upahnya."


"Iya. Maaf yah telat bayarnya. Sebernarnya aku pun tidak enak hati. Tapi apalah dayaku? Aku pun tidak punya uang."


"Aduh... Itu baju-baju bekas kok, murah meriahnya. Baru kemarin datang kiriman anakku, makanya kami bisa sedikit berbelanja."


"Wah... Enak kau yah. Pasti banyak kiriman anakmu itu yah?"


"Ah... Tidak. Seadanya kok. Yah... ngertilah anak laki-laki. Kalau pun punya uang, kebanyakan dia habiskan sendiri kok. Kalau dikasih, syukur. Tidak dikasih juga tidak apa-apa."


"Aku dengar kerja di kapal gajinya besar. "

__ADS_1


"Aduh.... Tidak. Gaji besar itu kalau bekerja di kapal pesiar. Sedangkan ini kerja di kapal cumi. Kalau banyak tangkapan, uang pun banyak. Tapi kalau sedikit, cuma dapat gaji pokok, itu pun beberapa ratus ribu saja."


"Oh gitu."


Kemudian wanita itu beranjak mengambil dompetnya dan memberikan dua lembar uang berwarna merah padanya. "Ini, hutangku lunas yah. Makasih." Ujarnya sambil menyerahkan uang itu padanya.


"Makasih juga lah. Oh yah, aku langsung pergi aja yah." Jawabnya.


Setelah orang itu pergi, Wanita itu kemudian mengambil buku hariannya, buku yang berisi daftar hutang. Lalu dia mencoret nama orang itu dari daftar dan memberi centang karena hutang itu sudah lunas.


Setelah itu dia mengeluarkan seluruh sisa uang di dompetnya dan memisah-misahkannya sesuai dengan jumlah yang tertulis pada daftar.


Dia melipat uang sebanyak dua ratus ribu, memisahkannya, lalu tujuh puluh lima ribu, tiga ratus enam puluh lima ribu, empat ratus ribu, seratus tiga puluh lima ribu, sampai ke jumlah yang paling kecil sebesar dua puluh ribu. Semuanya dia lipat rapi dan dipisah-pisahkan untuk dia bayarkan esoknya atau jika berjumpa dengan yang bersangkutan.


Karena lelah setelah mengerjakan semua itu, wanita itu pun mulai mengantuk, maka dia beranjak dan menyeduh secangkir kopi panas untuk menguatkan otot matanya mengingat masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


Kopi itu pun selesai diseduhnya dan ditaruh di dekatnya. Sambil menunggu itu dingin, dia membuka kembali buku hariannya dan menulis daftar belanjanya.


Namun, baru tiga nama barang yang selesai dia tuliskan, rasa kantuk itu semakin berat dan susah dihindarkan lagi, wanita itu pun memilih berbaring di lantai dapur itu berbantalkan buku hariannya yang ditaruh di bawah kepalanya sebelum berbaring.

__ADS_1


Kopi yang telah diseduhnya itu pun menjadi terabaikan, dibiarkan terbuka dan mendingin. Tak lama cicak yang sedang bertengger di langit-langit rumah menjatuhkan kotorannya masuk dan bercampur ke dalam kopi.


__ADS_2