
"Ya sudah, kalian istirahat saja. Itu ada roti untuk kalian. Kalau mau langsung dimakan, silahkan. Nenek pergi dulu. Sebentar lagi si Torang sampai." Tutur si nenek sebelum pergi meninggalkan mereka.
Kedua pemuda itu pun langsung membuka rantang makanannya dan segera makan. Sebab sewaktu si nenek belum pergi, masih ada rasa sungkan di hati mereka.
"Alamak ikan mujahir panggang. Enak banget. Sambalnya pun harum menggoda selera. Mmmm...." Ujar Soni sambil membasuh tangannya cepat-cepat dan langsung melahap makanannya.
Genggaman nasi yang besar-besar, dapat masuk dengan leluasa ke mulutnya dan dikunyah dengan cepat namun tetap dinikmati.
"Hei, pelan-pelan makannya! Jangan sampai duri ikan itu tertancap di tenggorokanmu." Seru indra yang juga mengunyah makanannya.
"Iya. Iya. Bawel."
Mereka melahap semua makanan itu sampai yang tersisa hanyalah duri-duri halus dari ikan panggang.
Tak lama terdengarlah suara, "EGH....HHH....HHHH...." Suara sendawa yang begitu keras keluar secara bersamaan dari mulut keduanya.
Benar-benar kenyang sampai membuat mata mereka mengantuk.
Ditambah dengan sejuknya angin sepoi-sepoi, membuat kelopak mata mereka kian bertambah berat. Maka mereka mencari sandaran dan tidur bersandar di bawah pohon mangga. Begitu lelap hingga bermimpi.
**********
Ketika mereka tidur nyenyak, Torang tiba di sana beserta dengan orang-orang yang akan membeli mangganya.
"Ckckckck.... tidur udah kaya tupai yang sedang hibernasi. Hei! Bangun! Bangun!"
Klakson mobil pick up pun turut dibunyikan untuk membangunkan Indra dan Soni, sehingga mereka kaget dan langsung membuka mata.
Kemudian Torang dan orang-orang yang bersamanya segera menimbang mangga yang ada di keranjang-keranjang itu lalu mengangkatnya ke dalam pick up.
Lalu sejumlah uang lembaran berwarna merah dan biru diberikan kepada Torang. Saat itu harga mangga cukup melambung dan permintaan pasar cukup tinggi. Sehingga sesuai namanya, ekonomi keluarga mereka selalu terang. Karena setiap kali panen, harga pasaran selalu memihak padanya. Orang yang membeli mangganya berkata,
"Untung banyak kau yah Jhon. Jual mangga pas harganya lagi mahal."
"Yah... Terima kasih lah sama Tuhan karena sudah diberikan rejeki." Jawabnya ramah.
Sementara mereka bertransaksi, Indra dan Soni sudah pindah ke pohon mangga yang lain sehingga mereka tidak melihat transaksi itu.
Mereka memanjat pohon mangga itu lagi secara bergantian sampai semua keranjang-keranjang itu terisi penuh.
__ADS_1
Tapi sampai hari menuju petang, mereka tetap tidak bisa memanjat seluruh pohon mangga itu sesuai dengan target si nenek, yaitu sepuluh pohon sehari, sebab hampir seluruhnya berbuah lebat. Usai memanjat mereka berdua saling mengeluh kesakitan,
"Aduh... pahaku sakit banget. Mungkin nanti malam kakiku bisa tambah panjang nih 5cm. Tahu sendirikan? Jarak setiap dahannya berjauhan? Jadi ruas kakiku harus merenggang memanjang agar bisa berpijak di dahan yang satu." Ujar Indra.
"Sama. Tanganku juga harus direnggangkan sedikit panjang supaya bisa meraih buah mangga. Lama-lama tanganku bisa makin panjang juga." Sambung Soni.
"Tapi jangan sampai kamu dijuluki panjang tangan yah? Soalnya artinya lain."
"Apa?" Tanya Soni.
"Panjang tangan itu, pencuri tahu! Hahahaha... Itu aja nggak tahu. Kamu lulus SD nggak sih?" Jawab Indra meledek.
Ketika mereka saling memijat otot yang sakit, Jhony datang menghampiri mereka.
"Hei! Capek yah?" Tegurnya.
"Udah jelas capek, malah ditanya." Balas Soni dengan muka bete. Kemudian dia bertanya lagi,
"Trus ini mangganya gimana?"
"Pembelinya sebentar lagi datang." Jawab Jhony. Namun saat dia mengatakannya, pembeli itu segera tiba dengan mobil pick up yang lain.
Lalu mereka segera menimbang dan mengangkut semua buah mangga itu ke dalam pick up.
"Wah... enak juga yah punya banyak pohon mangga. Sekalinya panen, 1 unit motor bisa beli." Tutur Indra dalam hati seraya menyaksikan transaksi itu.
Lalu setelah semuanya selesai, mereka segera pulang untuk melaporkan hasilnya pada si nenek.
*********
Di sepanjang jalan, Indra dan Soni meratapi nasibnya yang hanya buruh upahan, yang tidak punya lahan yang luas untuk dibanggakan sebagai penopang hidup.
"Enak sekali hidup si Jhony ini." Kalimat itu selalu mereka sebutkan saat menatapnya ketika berboncengan di motor.
Lalu ketika mereka sampai di rumah, si nenek langsung menghampiri Jhony cucunya, sementara Indra dan Soni pergi membasuh diri.
"Berapa kilo semua mangga kita? Selesai kan sepuluh pohon mangga itu dipanjat hari ini?"
"Nggak nek. Tapi dari 4 pohon, ada 1 ton lebih."
__ADS_1
"Oh yah?
Kali berapa sekilo mereka buat?" Tanya si nenek takjub.
"Sepuluh ribu per kilo nek. Ini uangnya." Tuturnya sambil menyerahkan sejumlah uang itu ke tangan si nenek.
Si nenek pun semakin takjub karena mendapatkan hasil yang melimpah hanya dari empat pohon mangga. Sehingga yang tadinya si nenek hendak murka karena target gagal, namun sekejap suasana hatinya berubah menjadi sejuk karena uang.
Malam itu si nenek begitu ceria. Dia menyapa Indra dan Soni dengan sangat hangat dan ramah, lebih dari yang sebelumnya.
"Wah... pasti kalian udah capek sekali yah satu hari ini?"
"Iya nek."
"Ayo, ayo kita makan. Soni, lebarkan tikar itu nak, cepat." Ujar si nenek.
Setelah mereka duduk di tikar, si nenek segera mengeluarkan makanan dari kantong plastik dan menghidangkannya.
"Ayo dimakan. Karena si Torang tidak sempat masak, jadi nenek pesan lauk di warung. Ini daging anjing sama supnya. Makanlah mumpung masih hangat. Ada juga daging ular kalau kalian mau. Ini, ayo makan! Nenek suka daging ular. Daging dan supnya bikin tubuh hangat."
Karena lapar bergejolak telah menguasai perut mereka, mereka semua pun makan dengan lahap. Tak ada rasa sungkan lagi di hati Indra dan Soni. Si nenek yang menyaksikannya itu heran,
"Wah... ternyata kalian suka juga makan daging ular yah." Ujar si nenek.
"Iya nek. Makanan apapun asalkan halal, kami makan nek." Jawab Indra dan Soni.
********
Kemudian ketika mereka selesai makan, si nenek bertanya pada kedua pemuda itu, "Bagaimana upah kalian hari ini? Apa langsung nenek kasih?"
"Nggak usah nek. Nanti saja kalau semuanya sudah selesai." Jawab Soni.
"Iya nek. Lagi pula besok kan kami masih manjat." Sambung Indra.
"Ya sudahlah kalau begitu." Lalu si nenek bicara lagi.
"Kalian langsung tidur sana! Biar si Torang yang bersihkan ini semua dan cuci piring kotor."
"Iya nek." Jawab keduanya dengan bersemangat.
__ADS_1
Lalu mereka berdua segera beranjak ke kamar sambil meledeknya, "Dadah Jhony.... Kami tidur dulu yah. Cuci piringnya yang bersih yah. Jangan terlalu banyak sabun, nanti jadi bau."
"Ih...! Awas yah kalian berdua!" Balas Jhony kesal sembari melayangkan tangannya siap mengepret Indra dan Soni. Namun mereka malah menjulurkan lidahnya mengejeknya hingga Jhony semakin kesal.