
Malam harinya dia memasukkan semua pakaian perempuan itu ke dalam kantong plastik hitam kemudian pergi ke tempat pembuangan sampah.
"Hei 'Ndra! Mau kemana?" Tegur Rahmat yang hendak mempersiapkan diri untuk melakukan rutin ibadahnya.
"Mau buang nih baju-baju. Lagian buat apa di sini? Toh nggak ada yang bisa make. Ukurannya semua M. Mau dikasih ke bininya Jono pun, Percuma! Nggak akan muat! Ukurannya kan jumbo, xxl. Jadi dibuang ajalah."
"Yakin? Nanti kamu nyesel lho. Simpan aja dulu."
"Simpan di mana? Kamar kos sempit begini. Udah kamu nggak usah sibuk! Mending cepat-cepat ibadah geh supaya kamu jadi orang yang lebih sabar!" Gerutunya lalu pergi.
"Dasar! Dia sendiri yang nggak penyabar. Malah nasehatin orang! Tak jitak baru tahu rasa."
Tapi belakangan dia tertunduk menyesal setelah berceloteh, "Tuh kan! Kemarahanku jadi kumat nih. Jadi nambah dosa deh. Gara-gara si Indra ibadahku mengalami gangguan kesucian."
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh tangan dan kakinya sebelum beribadah.
*********
Sesampainya di tempat sampah itu, Indra langsung melempar kantong plastik hitam itu dengan sekuat tenaga karena dirinya masih dikuasai emosi.
"PLUK!!!" Namun sayang tanpa disadari, lemparan itu meleset dan mendarat di kepala seorang pemulung yang hendak pulang.
Bungkusan itu mengibas kepalanya cukup kuat sampai-sampai rambut depannya yang terhimpit topi, bergetar karena kuatnya benturan itu.
"Hei! Siapa itu? Kurang ajar yah!" Teriaknya spontan.
Tempat itu gelap sehingga sulit melihat siapa pelakunya.
Ketika mendengar suara lantang itu, Indra kaget dan menyadari kalau lemparannya meleset.
Maka karena tak ingin mendapat masalah, dia langsung mengambil langkah seribu dan masuk ke sebuah warteg pura-pura ingin makan.
Di sana dia duduk selama beberapa menit sambil menanti akankah ada orang yang mengejarnya atau tidak.
Sewaktu dia duduk, si pemilik warteg datang menyapanya, "Mau makan lagi yah dek?"
Tapi matanya memandang liar dan takut ke luar warteg, apakah ada yang mengejarnya atau tidak.
Melihat gelagatnya yang panik, si pemilik warteg pun menepuk pundaknya dengan kuat. "Hei! Lihatin apa sih? Mau makan tidak?"
"Ah! Nggak bu! Pesan es teh aja. Hehehehe..."
Dia menarik nafas panjang dan berupaya tetap tenang sambil berkata dalam hati, "Semoga orang itu tidak datang ke mari."
*********
"Nih es teh nya." Tutur si pemilik warteg sambil meletakkan gelas itu di depannya.
__ADS_1
"Esnya ibu banyakin karena air dingin habis." Tambahnya lagi.
"Makasih bu." Jawabnya lalu meneguknya segera.
Namun baru meminum satu tegukan, orang itu ternyata datang ke warteg itu dan duduk tepat di sampingnya. Dia mengusap-usap kepalanya dan membawa bungkusan di tangannya.
Orang itu mengeluh sambil mengusap-usap pelipisnya yang sakit. "Sialan!"
Lalu si pemilik warteg menghampirinya dan bertanya, "Kenapa pak? Kok kepalanya benjol?"
"Iya nih. Tadi ada orang yang ngelempar ini." Jawabnya sambil menunjukkan bungkusan yang dia letakkan di sampingnya.
"Apa tuh?" Tanya si pemilik warteg.
"Baju-baju cewek bu. Masih bagus. Lumayanlah buat si Titin."
Sewaktu bungkusan itu dibuka, Indra yang sedang meneguk minumannya tiba-tiba tersendak dan batuk-batuk.
"Ternyata orang yang kepalanya benjol ini, orang yang kena lemparan mautku tadi. Gawat! Kalau sampai ketahuan aku yang lempar gimana?" Tanya Indra dalam hati.
Namun sewaktu dia tersendak dan batuk-batuk, orang itu memberinya bantuan dengan menepuk-nepuk pundaknya, "Nggak papa kan dek?" Tanyanya cemas.
"Ah, nggak papa kok pak." Balasnya sambil memaksakan senyum.
"Pelan-pelan minumnya dek."
Indra sesekali melirik ke bungkusan itu sambil berkata dalam hati, "Gara-gara baju sialan itu, aku hampir mati nelan es batu. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini."
Dia pun menghabiskan minumannya dan menyisakan bongkahan es yang belum mencair.
"Bu? Es tehnya Berapa?" Dia beranjak dan merogoh sakunya.
"Ga usah dek. Biar bapak saja yang bayar. Es teh saja kan?" Orang itu bertanya sambil melempar senyum padanya.
"Ah, nggak usah pak. Terima kasih." Dia menolaknya halus sambil tersenyum.
"Nggak apa. Ini hadiah karena bapak dapat rejeki di tempat pembuangan sampah tadi. Titin anak bapak pasti senang lihat baju-baju ini."
"Oh, begitu yah..." Jawabnya tersenyum paksa. Namun di dalam hatinya dia berkata, "Kalau dia tahu yang sebenarnya..., Ah! Nggak bisa kusimpulkan. Tapi baguslah. Aku jadi tak keluar duit deh."
Lalu dia berkata lagi, "Makasih yah pak udah dibayarin."
Orang itu hanya menunduk sambil tersenyum meresponnya.
Kemudian Indra kembali ke kosnya dan menghubungi keluarganya.
"Hallo mak. Gimana kabarnya? Sehat kan?"
__ADS_1
"Iya. Emak sehat terus. Tapi kantung sering sakit. Kamu sendiri bagaimana?"
"Saya sehat mak. Jasmani dan rohani sehat."
"Baguslah. Udah makan belum?"
"Udah tadi di warteg."
"Baguslah. Jangan telat-telat makan! Ingat! Jaga terus kesehatan! Jangan merokok dan jangan suka begadang! Ngomong-ngomong kamu tidak merokok kan?"
"Nggak mak." Jawabnya berat hati karena berbohong.
"Bagus! Jangan kau bakar uangmu dengan membeli rokok! Hargai kesehatan! Daripada kau bakar, lebih baik kirim uangnya ke kampung."
"Iya."
"Tapi dari suaramu, emak dengar sepertinya kau sudah merokok. Jangan kau bohongi emak! Emak tahu karena emak sudah lebih dulu hidup daripada kamu."
"Enggak mak. Aku nggak merokok."
"Ya sudah! Ada apa kau telepon emak? Mau kirim duit yah?"
"Ih! Dikit-dikit uang yang dipikirkan. Memangnya aku pabrik uang? Aku cuma tanya kabar kalian."
"Oh... seperti yang emak bilang tadi, kami sehat tapi kantung tidak.
Oh yah? Kapan kau pulang dari Jawa?" Tanya emaknya lagi.
"Tadi pagi. Tapi sial! Bajuku tertukar!"
"Tertukar? Kok bisa?" Tanya emaknya yang mulai bingung.
Indra pun menceritakan kejadiannya serta pakaian yang baru saja dia buang ke tempat pembuangan sampah.
Tapi mendengar itu, ibunya bukannya kasihan namun malah memarahinya.
"Kenapa kau buang? Kan kau bisa kirim ke kampung.
Aduh... Aduh... dimananya otak anakku ini. Ada baju yang bagus-bagus malah dibuang. Kan adikmu bisa memakainya di sini."
"Aku nggak kepikiran mak. Soalnya aku udah terlanjur kesal. Gara-gara itu aku jadi nggak punya baju, bahkan CD pun minjam."
"Makanya bijak kau nak. Tas kecil saja kau masukin ke bagasi. Dipangku 'kan bisa!"
"Temanku yang maksa buat taruh itu di bagasi."
"Kenapa kau mau? Kan bisa kau tolak! Makanya bijak kau nak."
__ADS_1
Ibunya terus menceramahinya panjang lebar sampai akhirnya mukanya tidak kuat menanggung, dan belakangan kesal karena semakin tersudutkan.