
Sampai hari menjelang magrib, kedua pemuda itu tak kunjung bangun dari tidur. Si nenek pun mulai khawatir,
"Hei, Torang! Cepat kau bangunkan dulu teman-temanmu itu. Nenek panggilin dari tadi tidak dijawab-jawab. Entah masih hidup atau tidak. Cepat! Cepat!"
Jhony yang baru saja sampai di rumah memundak kayu bakar, segera melemparnya dan bergegas ke kamarnya.
"Hei! Hei! Bangun! Ini sudah magrib. Ayo bangun!" Dia mengguncang-guncang tubuh kedua pemuda itu dan terus membangunkannya. Tapi mereka masih tertidur. Barulah ketika dia berteriak kencang tepat di telinga mereka masing-masing, mata mereka langsung terbuka lebar. Menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong tanpa ekspresi.
Kemudian dia bertepuk tangan tepat di depan muka mereka masing-masing seperti yang sering dilakukan oleh seorang pesulap sehabis menghipnotis seseorang.
Akhirnya kedua pemuda itu pun kembali ke alam sadarnya.
"Ayo bangun. Dari tadi nenekku udah panggil-panggil kalian. Kalau kalian masih tidur, dia sendiri yang akan membangunkan kalian." Ujar Jhony.
Maka mereka segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke ruang tengah di mana si nenek sedang mengupas kacang tanah.
"Enak tidurnya yah." Tutur si nenek.
Kedua bocah itu duduk di dekat si nenek membantunya mengupas kacang tanah. Lalu si nenek berteriak lagi memanggil Jhony yang berada di luar sedang memindahkan kayu bakar.
"Torang! Torang! Di mana kau, hei! Torang!"
"Aduh... apa lagi sih tuh si nenek." Gerutunya kesal.
Dia menjatuhkan kayu yang tadinya dipundaknya untuk dipindahkan dan segera menemui si nenek.
"Apa nek?"
"Ajak kedua temanmu ini membantumu masak makan malam. Cepat!" Seru si nenek.
"Ah, nanti saja nek." Ujar Indra.
"Nanti kapan? Ini sudah sore, dan sebentar lagi malam. Kalau tidak masak sekarang, mau jam berapa nanti makan? Hah?" Balas si nenek sambil menatap Indra.
"Tapi kami belum lapar nek. Tunggulah sebentar lagi."
Kening si nenek mengerut seraya menatapnya, membuat Indra sedikit takut.
__ADS_1
"Sudahlah. Kalian bantuin saja si Torang mengangkat kayu bakar supaya kalian lapar."
Tanpa menjawabnya, mereka berdua segera beranjak mengikuti Jhony. Mereka memundak ikatan demi ikatan kayu bakar ke tempat penyimpanan.
Keringat mereka pun mulai bercucuran hingga perlahan baju mereka basah, sebab ada cukup banyak kayu bakar yang harus mereka masukkan ke tempat penyimpanan kayu.
Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 7 ketika mereka duduk menghela nafas panjang.
Tiba-tiba si nenek berteriak lagi memanggil cucunya,
"Torang! Torang! Hei, Torang!"
Cucunya segera bergegas menemui neneknya. "Aduh.... apa sih nek teriak-teriak?"
"Cepatlah kau masak. Nenek sudah lapar."
"Iya. Iya." Jawab cucunya dengan muka cemberut.
Dia pun mulai memasak layaknya koki yang handal. Pisau di tangannya digerakkan dengan begitu cepat sewaktu mencincang aneka bumbu. Aroma tumisan dan api yang menjilat permukaan dalam belanga, turut menyemarakkan attraksi memasaknya.
Walaupun di bawah tekanan waktu, dia harus bisa menghidangkan makanan itu dalam waktu singkat supaya neneknya tidak murka.
************
Tak lama ketika semua makanan hampir matang, si nenek tiba-tiba masuk dan berteriak, "Goyang! Goyang terus!" Membuat cucunya kaget setengah mati lalu memandang kesal neneknya. Bagaimana tidak? Detik-detik terakhir itu dia manfaatkan untuk bergoyang dangdut agar tidak bosan menunggu makanan itu matang sempurna.
Kemudian si nenek berkata lagi, "Udah siap makanannya Torang?"
"Iya, udah nek."
"Mmm. Cepat bawa ke depan dan panggil teman-temanmu."
"Iya. Iya." Jawabnya kesal.
Lalu sementara dia menuangkan makanan itu ke berbagai wadah, si nenek pergi memanggil teman-temannya.
"Hei, kalian! Ayo masuk! Ayo makan! Seru si nenek dari depan pintu.
__ADS_1
"Iya nek."
Mereka segera masuk dan makan sampai kenyang seperti sebelumnya. Hanya Jhony lah yang selalu membersihkan tikar dan menyuci piring kotor usai makan.
**********
Ke esokan paginya setelah sarapan dan minum kopi, mereka segera pergi ke ladang di mana banyak pohon mangga yang hampir seluruh buahnya siap dipanen.
"Kalau bisa semua pohon mangga ini harus selesai kalian panen hari ini. Ada sepuluh pohon mangga di sini. Setelah itu, kita pergi ke ladang lain." Tutur si nenek.
Namun mendengar itu, kedua pemuda itu komplein. "Sepuluh pohon mangga sehari? Memangnya kami monyet? Pohon mangganya tinggi sampai ke langit begini. Ada-ada aja. Kalau nyuruh pakai perasaan sedikit dong nek."
Namun rupanya si nenek mendengar keluhan mereka meski diungkapkan dengan suara rendah. Mereka pun dibentak si nenek. "Tidak sopan kalian yah. Ngata-ngatain orangtua. Kalian pikir nenek tuli? Hah?"
Mereka berdua pun terdiam dan tak berani menjawab. Barulah setelah si nenek pergi keduanya bicara lagi, "Suara kencang nggak dengar, harus teriak-teriak kalau bicara. Eh..., giliran suara pelan, dengar. Ada-ada aja."
"Benar-benar aneh." Sambung Indra
Setelah itu mereka pun mulai memanjat satu persatu pohon mangga itu secara bergantian. Sebelum memanjat, Soni mengambil tas plastik dan menyelempangkannya di tubuhnya lalu dia melilitkan tali tambang di pinggangnya.
Ketika dia sampai di atas, dia meminta galah pemetik buah. Sehingga buahnya tidak akan jatuh ke tanah dan pecah saat diambil.
Satu demi satu mangga itu pun diambil dan dimasukkan ke dalam tas plastiknya.
Lalu ketika tas itu sudah penuh, dia akan menurunkannya dengan tali, dan orang yang ada di bawah akan mengambilnya. Begitulah mereka secara bergantian mengambil buah mangga dari pohonnya sampai keranjang-keranjang besar si nenek penuh.
Tapi sampai jam makan siang tiba, saat si nenek datang membawakan mereka makanan, mereka hanya memanjat dua pohon mangga saja. Sebab pohon itu berbuah cukup lebat.
Namun karena melihat hasilnya banyak, si nenek tidak jadi mengomel, malah dia memuji mereka karena sudah lelah.
"Pasti kalian sudah capek sekali yah. Ayo, ayo istirahat minum kopi dulu."
Mereka pun meneguk sedikit demi sedikit kopi panas itu sambil membuang nafas lelah.
Tapi tanpa sadar, nafas yang mereka hembuskan terlalu panjang, sehingga rambut uban si nenek sampai terbang bergoyang tertiup angin yang berasal dari lubang hidung mereka. Si nenek pun protes dan bilang, "Kalian ini masih muda, tapi kerja begitu saja sudah ngos-ngosan. Kalian macam bapaknya si Torang saja. Jangan kalian tiru dia! Kalau uban nenek sampai terbang ke kopi ini, macam mana? Hah?"
__ADS_1
Sontak keduanya memberi respon jijik dan duduk menjauh dari si nenek.