Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 27


__ADS_3

Di perjalanan Indra sering mengasingkan diri untuk memikirkan hasil tangkapannya, menghitung setiap pundi-pundi rupiah yang telah didapatnya selama delapan bulan dan dibanggakan.


"Lebih dari sepuluh juta amanlah untuk disimpan. Selebihnya dikirim ke kampung dan sisanya buat senang-senang." Ucapnya dalam hati.


Ada satu benda yang sangat ingin sekali dia beli dan telah lama diidam-idamkan.


Seraya memandang ke lautan lepas, sesekali dia tersenyum membayangkan dirinya menaiki sepeda motor besar seperti anggota geng motor.


Aura kelaki-lakiannya pastilah semakin lengkap jika dibelakangnya kekasihnya duduk sambil memegang erat pinggangnya.


Dia menginginkan sebuah pengakuan dari teman-teman di kampungnya bahwa dia sudah jadi pelaut yang sukses.


Sewaktu dia sedang bahagia, seorang ABK lewat dan menepuk pundaknya membuatnya kaget. "Hei! Kamu kenapa cengengesan kaya orang gila? Senyam-senyum tanpa alasan. Kamu menghayal sesuatu yang jorok yah? Ngaku!"


"Ih! Apa'an sih? Iya! Tadi aku ngebayangin kamu boker nggak cebok. Puas!" Balasnya kesal.


Namun menanggapi kekesalannya, orang itu malah bernyanyi dangdut sambil mengoyangkan pinggulnya patah-patah.


"Lho Begitu Saja Kok Marah


Lho Begitu Saja Kok Keki


Padahal Cuma Bercanda


Mengapa Diambil Hati


Lho Begitu Saja Kok Marah


Lho Begitu Saja Kok Keki


Sungguh Ku Tidak Menyangka


Kalau Kau Jadi Emosi...." Senandungnya sambil mempercepat goyang patah-patahnya.


"Awas tuh pinggang! Ntar patah beneran tau rasa!" Balasnya kesal.


Tapi orang itu semakin menjadi-jadi dan menambah kecepatan goyang patah-patahnya sampai akhirnya keseimbangan tubuhnya hilang dan jatuh.

__ADS_1


"BRUK!" Pantatnya terhempas ke lantai kapal.


"Hahahaha...


Makanya jangan banyak gaya!" Ucap Indra meledeknya lalu pergi meninggalkannya.


"Dasar! Teman celaka bukannya ditolongin. Makanya kepalamu makin hari makin gundul! Tiap hari tegang mulu!" Celotehnya kesal.


Sewaktu mereka mendekati laut Maluku, sang kapten mendapat telepon dari salah satu kapten kapal cumi yang lain bahwa salah satu ABKnya telah mati.


Kapten itu tidak tega melemparnya ke laut dan tidak bisa juga kembali ke daratan untuk mengantarkan ABK yang mati itu. Sebab kapal itu baru dua bulan menjala laut Maluku, sedangkan pada bulan ke tiga, barulah kapal mereka akan ke daratan membawa hasil tangkapan.


Ketika kapal yang Indra naiki sampai di sana, kaptennya segera merapatkan kapalnya agar ABK yang mati itu bisa dipindahkan ke kapalnya.


Para ABK itu pun bersama-sama mengangkat jasad itu dan membaringkannya di tempat tidur salah satu ABK.


Setelah itu mereka meninggalkan tempat itu menuju Jakarta.


Selama beberapa hari, tidak ada masalah yang mereka dapatkan selama tidur bersama mayat. Sebab suasana laut cukup tenang sehingga jasad ABK itu tidak bergeser dan tetap di tempatnya.


Melihat jasad itu terlempar tak berharga ke sana kemari, sang kapten memerintahkan para ABK memegangi jasad itu secara bergantian.


Ada yang memegangi kakinya dan ada yang memegang tangannya. Selama kapal itu terus berguncang, mereka memperkuat pegangannya agar jasad itu tetap di posisinya.


Mereka tidur bersama dengan ABK yang mati itu.


Jasadnya tidak bisa masuk ke tempat penyimpanan ikan, sebab masih ada banyak cumi di sana.


Seraya waktu berganti, jasad itu semakin berbau, meski demikian para ABK tidak berani protes dan terus menahan bau, tidur bersama mayat bahkan terus memeganginya agar tidak terlempar jika kapal diguncang ombak.


"Hah... banyak sekali penderitaan jadi ABK." Keluh Indra dalam hati.


"Tin, gantian dong. Aku pengen ke kemar kecil nih. Pegangin kakinya." Ujar Indra yang sedari tadi menahan kencingnya.


"Nggak ah! Aku nggak berani. Tinggalin aja, dia nggak akan jatuh kok." Balas Tino yang menahan rasa takut dan jijik.


"Buruan! Ntar kalau kakinya patah karena guncangan hebat gimana? Mau kamu tanggung jawab?"

__ADS_1


"Nggak akan patah. Tinggalin aja." Elaknya.


"Ini kakinya udah semakin lembek lho. Ini gampang patah. Kamu nggak cium udah bau busuk? Buruan! Aku laporin kapten mau?"


"IHHHH! Iya! Iya!" Dengan terpaksa dia memegangi kaki mayat itu sambil menahan muntah.


Indra pun segera pergi dan dalam hati dia berencana berlama-lama di kamar kecil supaya dia tidak memegangi mayat itu lagi.


Di sana dia bermain game namun mematikan suara ponselnya agar tidak ketahuan.


"Duh... si Indra lama banget sih. Aku dah nggak tahan pengen muntah nih." Keluh Tino.


"Hahaha... biar tau rasa itu si Tino aku kerjai. Aku bilang aja nanti perutku mules.


Eh! Tapi jangan! Gimana kalau nanti aku mules beneran? Nggak! Nggak!


Hah..... terpaksa balik lagi deh."


Indra pun kembali dengan berjalan lemas dan memegangi kaki mayat itu lagi.


"Lama banget sih! Sengaja yah!" Bentak Tino.


"Minggir sana!"


Tino segera menyingkir ke pinggir kapal dan mencurahkan semua muntahannya yang sejak tadi tertahan.


Masih beberapa hari lagi sebelum mereka akhirnya berlabuh. Untuk mengurangi bau, mereka memandikan jasad itu secara bergantian.


************


Selama hampir dua puluh hari mereka berlayar dan akhirnya sampai di pelabuhan Jakarta.


Semua ABK pun sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Sedangkan keluarga dari ABK yang mati itu, tangisannya pecah ketika jasadnya dikeluarkan dari dalam kapal.


ABK itu mati karena overdosis. ABK itu selalu mengeluh sakit kepala dan selalu meminum obat karena sakit kepalanya tak kunjung sembuh.

__ADS_1


__ADS_2