
"Hallo mak." Sapa Indra.
"Apa kabar?"
"Hallo. Kami semua baik."
"Mak, besok aku pulang yah. Aku sudah beli tiketnya."
"Oh. Jadinya naik apa besok?"
"Bis. Ongkosnya lima ratus ribu. Besok sore bisnya berangkat."
"Oh. Hati-hati yah. Jangan lupa taruh uangmu di tempat yang aman. Ingat! Sekarang banyak copet. Modus kejahatan macam-macam. Jadi, simpan uangmu di tempat yang paling dalam yang sulit dijangkau. Tapi sisakan di sakumu untuk beli cemilan kalau perlu."
"Iya. Kalian mau ole-ole apa mak?"
"Sudahlah. Nggak perlu repot-repot. Di sini juga banyak makanan. Yang ada di sana juga ada di sini. Yang penting sekarang adalah kau bisa sampai dengan selamat nanti."
"Iya mak. Tapi kan beda. Itu emak yang beli. Kalau ini aku yang beli."
"Aduh... memangnya kau nggak malu nanti bawa-bawa itu?"
"Nggaklah mak. Ngapain harus malu. Itu kan hal biasa. Jadi mau dibeliin ole-ole apa nanti?"
"Mmm... begini saja. Supaya kau tidak repot karena perjalanan jauh. Ole-olenya beli dari kota terdekat saja nanti. Sewaktu kamu sudah sampai di terminal. Terserah mau ole-ole apa saja."
"Oh gitu. Baiklah. Oh yah mak, sudah dulu yah. Aku masih harus berberes nih."
"Ya. Besok kalau bisnya sudah jalan, jangan lupa kasih kabar yah. Ingat! Selalu kasih kabar."
"Iya. Udah dulu yah mak." Lalu dia mematikan ponselnya.
Dia kemudian memasukkan pakaian dalam yang dibelinya itu ke dalam tas ranselnya setelah memisahkan satu untuk dipakainya besok.
__ADS_1
Kemudian dia menerawangnya untuk memastikan seberapa tipis dan nyaman bahannya. Tapi tiba-tiba saja Tono masuk ke kamarnya dan sengaja mengagetkannya sewaktu dia sedang fokus menerawang.
"Hei! Ngapain tuh dalaman diterawang-terawang segala? Takut tembus pandang yah?" Cletuk Tono.
"Ah! Kamu ngagetin aja. Ketuk pintu dulu dong kalau mau masuk. Atau kasih kode-kode gitu."
"Kode. Kode. Kode rahasia?"
"Kamu mau ngapain sih?"
"Gimana? Udah dapat tiketnya?"
"Iya. Besok sore aku berangkat."
"Oh gitu."
"Oh yah, besok tolong antarin aku ke terminal yah."
"Iya. Jangan khawatir. Pasti aku antar. Oh yah, ntar malam kita makan bareng yuk. Yah sekalian nongkrong. Aku pusing nih di rumah terus, diomelin mulu sama bini."
"Di warung bu Minah aja. Yah sekalian cuci mata nikmati kecantikan wajahnya si janda muda."
"Wah parah. Hati-hati Ton. Jangan sampai binimu dengar. Dikarate tahu rasa kamu. Lagi pula kau sudah berkeluarga. Jaga tuh mata dari keranjang bola."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kamu jangan jadi mata keranjang!"
"Hei, cintaku itu untuk Susi seorang dan nggak akan berpaling sampai akhir hayat. Itu cuma hiburan mata saja."
"Dari mata turun ke hati Ton. Jangan coba-coba bermain api. Nanti kamu terbakar lho. Mau?"
"Iya. Iya. Kalau begitu kita kumpul di warung pak Sudin aja. Sekalian kita makan jagung bakar di sana."
__ADS_1
"Ok. Kabari yang lainnya juga yah. Aku mau mandi dulu. Udah bau daki ketiak nih."
"Ok." Lalu dia meninggalkannya dan pergi ke dapur untuk minum.
Namun tanpa sepengetahuannya, Susi istrinya tak sengaja mendengar percakapannya sewaktu dia lewat dari depan kamar itu. Hatinya sedih dan kesal. Namun dia berniat tak ingin mengungkapkannya tapi memendamnya dalam hati. Dia mengubah mimik wajahnya ketika suaminya memanggilnya saat ke dapur.
"Sus, ntar malam aku keluar sebentar yah kumpul bareng sama teman. Sekalian buat perpisahan sama si Indra."
"Yah." Jawabnya lesu tak bersemangat.
"Ntar, pulang aku bawain jagung bakar deh."
"Iya."
"Kok kamu lemas amat si Sus? Kaya orang yang kehilangan semangat hidup. Kamu sakit?"
"Nggak. Cuma capek aja."
"Oh..." Jawabnya singkat setelah meneguk segelas air lalu pergi ke luar.
Namun begitu dia pergi, Susi meluapkan kekesalannya dengan membanting cangkir bekas Tono ke meja.
"Sialan kamu yah Ton! Nggak ada perhatiannya sedikit pun. Tanya dong aku capek gara-gara apa. Aku capek gara-gara kamu! Tahu nggak?"
********
Tono pergi menemui beberapa teman-temannya yang tak jauh dari rumahnya. Dia mengutarakan rencana kumpul-kumpul itu pada mereka semua.
"Oh bagus itu. Aku juga udah bosan di rumah terus." Sahut yang lain.
"Iya. Nanti aku kabari yang lainnya juga yah." Jawab yang satu.
Begitulah Tono menyampaikan rencana itu lalu pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, dia langsung menuju kamar mandi setelah menegur istrinya singkat. Seolah tak peduli dengan kerepotannya, dengan santai dia mengambil handuk lalu mandi sambil bersenandung lagu metal.
"Memang sialan si Tono ini yah! Lama-lama semakin ngelunjak tingkahnya. Lihat aja nanti! Malam ini aku suruh tidur di luar dia!" Gerutu istrinya di depan pintu kamar mandi. Namun meski dia mengatakannya dengan geram, suara air dan teriakan metalnya mampu mengalahkan suaranya sehingga luapan emosinya tampak sia-sia.