Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 3


__ADS_3

Hari demi hari anak itu bekerja dengan kerja keras di bawah tekanan. Setiap sore, uang hasilnya memulung, juga tak pernah jatuh ke sakunya walau satu koin saja. Dia bekerja lebih banyak di bengkel daripada teman-temannya yang lain. Juga untuk makan malam di rumah pun, dia harus menyuci piring kotor dan bersih-bersih dapur lebih dulu.


**********


Akhirnya waktu satu bulan itu pun tiba. Saat itu ketika paman dan bibinya duduk santai di teras rumah, dia memberanikan diri bicara pada mereka kalau dia ingin pulang.


"Paman, bibi, aku mau bilang kalau aku tidak akan kerja di sini lagi. Aku mau pulang kampung untuk bantuin ibu di ladang."


"Lho, kenapa? Kenapa mendadak gini?" Sahut bibinya.


"Iya, soalnya ibu kurang sehat."


"Jadi kapan kamu pulang kampung?" Tanya pamannya.


"Kalau bisa besok paman."


"Oh, sudah beli tiket?"


"Belum. Makanya aku kemari mau minta gajiku paman untuk beli tiket."


"Oh, minta saja sama bibimu." Jawab pamannya.


Bibinya pun beranjak dan mengajaknya.


"Tunggu di sini. Bibi ambilkan uang dulu." Ujar bibinya sebelum masuk ke kamarnya mengambil uang, sementara dia berdiri di depan pintu.


Tak lama bibinya keluar dan menyerahkan sedikit lembaran uang padanya. "Nah, ini gaji kamu."


Dilihatnya lembaran uang itu begitu sedikit jumlahnya.


"Kok cuma segini bi?"


"Yah..., gaji kamu dipotong uang makan, kos, dan air."


Mendengar itu, hatinya terpukul, 'Bagaimana bisa bibinya memperlakukannya seperti orang asing?' Pikirnya.

__ADS_1


Waktu paman dan bibinya berkunjung ke kampung, mereka begitu bermulut manis. Meyakinkan ibunya kalau dia akan diperlakukan seperti anaknya sendiri, dan diajar seperti anaknya sendiri. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Gajinya dipotong dengan perhitungan uang makan tiga kali sehari. Namun nyatanya, dia hanya makan sekali, jarang sarapan, dan makan siang dia beli di kantin dengan sisa uang saku yang ibunya berikan sewaktu dia pergi.


Bibinya merincikan semua pengeluaran yang harus dibayarkan selama tinggal di rumahnya satu bulan. Berapa uang kos, dan berapa tarif air yang harus dibayar setiap kali mandi dan menyuci pakaiannya. Hingga gaji yang dia terima pada akhirnya tidak cukup untuk dikirimkan ke kampung. Gajinya hanya cukup untuk ongkosnya pulang dan makannya di jalan.


Merasa tak adil, dia juga menyinggung tentang uang hasil memulung selama satu bulan.


"Uang hasil memulungku selama satu bulan mana bi?" Tanyanya dengan pedih hati.


"Oh, itu juga dipotong biaya bensin ke tempat kerja setiap hari."


"Apa?" Kaget bukan main seolah tak percaya.


"Jadi uang bensin juga aku yang tanggung sendiri? Padahal yang pergi ke tempat kerja bukan hanya aku saja. Kenapa hanya aku? Kenapa paman tidak?" Tanyanya dalam hati.


Namun bibinya segera pergi setelah tak ada reaksi lagi.


Lalu anak itu pun segera pergi ke loket membeli tiket. Seusai itu, dia mencari tempat yang sepi dan menghubungi ibunya.


Di sana dia bercerita sambil menangis karena tak menyangka orang asing jauh lebih baik daripada keluarga sendiri. Dia juga bilang kalau dia tidak bisa mengirimkan gajinya pada ibunya karena yang tersisa hanya selembar uang senilai seratus ribu. Uang yang bahkan pas-pasan selama menempuh perjalanan pulang sehari semalam.


***********


Lalu esok harinya ketika dia akan pulang, dia lupa meminta izazahnya yang pamannya tahan sebelumnya sebagai jaminan. Karena pamannya berpikir, 'Keponakanku tidak akan bisa macam-macam karena aku menyimpan Ijazahnya. Andaikan dia berulah dan membawa uangku pergi, aku punya identitasnya untuk ku lapor ke polisi.'


Paman dan bibinya selalu berpikiran buruk padanya dan curiga hanya karena keluarganya miskin.


Sewaktu bis yang dia tumpangi telah jauh berjalan, barulah dia ingat kalau ijazahnya tertinggal pada pamannya. Seketika itu juga dia menghubungi pamannya dan minta tolong agar itu dikirimkan ke kampung halamannya.


Namun sampai tahun-tahun berlalu, ijazah itu tidak pernah sampai karena mereka membuangnya ke tempat sampah.


Setiap kali ibunya bertanya, paman dan bibinya bilang kalau itu telah dikirim melalui seorang supir yang kendaraannya menuju ke situ. Tapi selama dia bertanya pada setiap supir di terminal, tak ada satu orang pun yang mengaku.


Tapi karena tak ingin berdebat, ibunya membiarkan hal itu dan menyesali semua keadaan, menyesali keputusan yang telah dia buat kepada anaknya.


Kini anak itu tidak punya ijazah untuk dia gunakan mencari pekerjaan di negri orang.

__ADS_1


***********


Dua hari setelah dia sampai dan berdiam di kampung, tiba-tiba teman sekolahnya menghubunginya, menawarkan pekerjaan. Tapi karena hati sudah terlanjur patah semangat, dia menjawab, "Ah, kamu saja. Aku nggak punya ijazah."


Mendengar itu, temannya tertawa terpingkal-pingkal.


"Hei, mana ada orang manjat pohon mangga pakai ijazah. Manjat pohon mangga itu perlu tangan dan kaki."


"Hahahaha...." Dia tertawa malu lalu melanjutkan, "Memangnya mau manjat pohon mangga dimana?"


"Di pulau wisata. Gajinya lumayan, 70 ribu sehari. Makan, minum udah ditanggung. Gimana? Mau nggak?"


"Tapi berapa lama?"


"Yah... nggak tahu pasti. Mungkin satu minggu. Habis itu kita pergi ke tempat lain. Gimana?"


"Yah boleh lah. Nanti aku izin sama ibuku dulu."


"Ok!" Balasnya lalu menutup telepon.


Indra pun segera melapor pada ibunya dan bilang kalau besok pagi dia akan pergi. Namun ibunya awalnya menolak.


"Aduh... jauh sekali manjat pohon mangga sampai ke pulau lain indra. Di sini juga kan banyak pohon mangga."


"Iya bu. Tapi mangga di kampung ini kan nggak ada yang berbuah karena tak pernah diurus.


"Di kampung sebelah kan banyak yang punya pohon mangga."


"Iya tapi gajinya hanya 50 ribu. Panjat pohon mangga di sini paling sampai 3 hari aja. Habis itu?"


"Ya udah terserah kau aja."


*********


Maka esok harinya, dia bersiap pagi-pagi sekali pergi ke rumah temannya, juga karena kendaraan ke kota berangkat cukup pagi.

__ADS_1


Untuk menghemat uang, mereka menumpangi truk yang bermuatan batu. Mereka duduk di atas batu itu. Agar tidak kedinginan, mereka memakai jaket tebal dan menutup kepala mereka dengan kerudung.


__ADS_2