
Ke esokan paginya, Indra dan teman-temannya berkemas-kemas lalu pergi membeli tiket bis. Mereka akan berangkat esok harinya.
Indra menghubungi kakaknya lagi, mengingatkannya agar tidak lupa mengirimkan uang tersebut.
"Iya tenang aja. Aku pasti akan kirim. Cerewet banget." Gerutu kakaknya.
Maka pada waktu jam makan siang, dia mengunyah dan menelan makanannya dengan cepat agar bisa segera pergi ke bank. Bahkan sesekali dia hanya mengunyah dua kali lalu meneguk air untuk mengalirkan makanan itu masuk ke lambungnya dengan cepat.
Namun sesampainya di sana, ternyata sudah banyak orang yang mengantri dan telah mengambil nomor urutnya.
Dilihatnya kertas nomor urutnya nomor 10, sementara jam makan siang sebentar lagi berakhir. Tidak mungkin baginya tetap di sana sementara dia punya bos yang sangat galak.
Maka dia pergi lagi setelah duduk mengantri beberapa saat.
"Lho ke mana bu? Nggak jadi setor yah?" Tanya security yang berjaga di depan pintu.
"Nggak jadi pak. Besok saja." Balasnya sedikit melempar senyum.
Dia berjalan cepat-cepat agar jangan sampai terlambat.
Dan benar saja, baru satu menit dia duduk, dia langsung mendapat email dari bosnya untuk melakukan pembayaran tagihan ke luar negeri.
Itu seperti pertolongan baginya karena dia akan pergi lagi ke bank.
Lalu dia cepat-cepat menuliskan formulir pembayaran itu dan segera pergi ke bank.
Tak lupa dia membawa kembali uangnya untuk disetorkan kembali.
"Tau aja kalau aku butuh ke bank." Ucapnya dalam hati.
Kemudian dia mengambil nomor urut yang baru dan duduk di bagian belakang.
Selama dia menanti nomor antriannya, dia melihat ke layar TV di mana tertera kurs valuta asing.
Dalam hati dia berkata, "Andaikan aku punya uang yang cukup, pasti enak yah bisa beli dollar? Nanti kalau harganya naik, dijual deh. Kan lumayan untungnya. Walaupun sedikit, tapi kalau dikumpul-kumpulin kan lumayan. Ini, jangankan beli dollar, buat memenuhi kebutuhan hidup saja pas-pas an.
__ADS_1
Hah.... sabarlah. Segala sesuatu pasti indah pada waktunya. Tapi kalaupun suatu saat juga tidak bisa, ya sudah. Nggak usah dipaksakan. Yang ada nanti mencret."
Namun saat dia sibuk bicara dengan dirinya sendiri, sang teller ternyata telah menyebut nomor urutnya beberapa kali.
Karena begitu fokus, pendengarannya menjadi tidak sinkron dengan otaknya.
Barulah ketika orang-orang di sekitarnya berdesas-desus dan melihatnya, dia sadar dan malu. Cepat-cepat dia pergi ke teller dan menyetorkan pembayarannya.
Orang-orang di sekitarnya terus berbisik-bisik, "Gimana sih. Dari tadi sibuk menghayal kali yah."
"Panjang banget khayalannya sepanjang sungai Nil."
Seraya menahan malu, dia berusaha fokus pada setorannya. Kemudian dia mengeluarkan uang segepok itu dan menyetorkannya kepada ibunya.
Setelah menyetorkan semua itu, dia segera keluar sambil tertunduk malu.
Lalu di ruangannya dia menelepon ibunya kalau dia sudah mengirimkan uang itu.
**********
Ke esokan paginya, ibunya segera bersiap-siap merapikan diri dan memberi makan anak perempuannya yang masih kecil lalu pergi. Dengan sepeda motor jadulnya yang telah dipermak sedemikian rupa, dia pergi ke pasar.
"Yah. Aneh! Mungkin dia lagi kasmaran kali yah."
"Atau mungkin menang togel."
"Ah. Bukan! Mungkin dia dapat kiriman kali dari anaknya. Lihat dia baru keluar dari ATM."
Dia berjalan menuju toko emas dan melihat-lihat berbagai jenis perhiasan yang indah.
Kemudian dia bertanya-tanya tentang harga barang yang dia tunjuk sambil menghitung uangnya dalam hati.
"Kalau aku beli kalung mas, uangku masih sisa untuk belanja ke dapur. Tapi aku juga ingin cincin. Aduh... yang mana yah?" Pikirnya.
Karena tak mau membuat si penjaga menunggu lama, dia langsung keluar dari lamunannya dan bilang, "Ka, aku mau kalung yang itu." Tunjuknya.
__ADS_1
Si penjaga toko emas pun segera mengambil dan menimbang beratnya dan mengatakan, "5 gram bu. 24 karat."
"Yah. Yang itu bu."
Maka dia mengeluarkan uangnya, menghitungnya, dan menyerahkannya. Kalung emas itu pun diserahkan ke tangannya setelah dimasukkan ke dalam sebuah dompet kecil bersama dengan kwitansinya.
Wajahnya sangat bahagia karena keinginannya yang telah lama akhirnya tersampaikan.
Setelah itu dia pergi membeli banyak sembako untuk bekalnya bersama anaknya selama dua minggu. Banyak buah, sayuran, beras, juga ikan-ikan segar yang selama ini sulit dia beli karena ekonominya yang sulit, kini dia beli dengan jumlah yang banyak.
Dia menitipkan semua itu pada satu angkot yang menuju kampungnya sementara dia pulang dengan sepeda motor legendanya.
**********
Sesampainya di rumah dia cepat-cepat meletakkan semua belanjaannya dan pergi menghadap cermin. Diambilnya kalung emasnya dan langsung digantungkan di lehernya, lalu sibuk berpose.
Seraya sibuk berpose, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. "Ya ampun... kulit leherku jadi berkilau karena kalung emas ini. Makin bersinar! Cantik sekali! Kalau aku bisa beli cincin, pasti jari jemariku juga cantik berkilau dan lentik. Terima kasih lah untuk anakku yang telah kirim uang untuk emaknya. Emaknya jadi cantik dan terlihat awet muda." Tuturnya selama dia memandang dirinya di cermin.
Setelah puas, dia pergi berjalan kaki sekitar seratus meter untuk mengambil belanjaannya pada angkot yang dia titipi.
Orang-orang yang duduk di warung berbisik-bisik karena melihat kalung yang dia pakai. "Tumben pakai kalung. Di rumah saja pakai kalung. Pakai kalung itu harusnya mau ke pesta, biar dilihat orang."
"Iya. Mungkin baru beli tuh tadi. Makanya dia langsung pakai, biar pamer."
"Mungkin kiriman anaknya datang. Jadi dia bisa beli kalung."
"Enak dia yah, anaknya sudah bekerja dan bisa kirim duit."
"Hah.... sebentar lagi anakmu juga lulus SMA. Setelah tamat, langsung suru kerja saja. Biar kau dikirimin uang setiap bulan."
"Aduh.... mau kerja apa lulus SMA? Tamatan sarjana saja banyak yang pengangguran."
"Itu buktinya. Anaknya saja tidak lulus sekolah bisa kirim duit. Rejeki tidak ada yang tahu. Iya kan?"
"Iya lah."
__ADS_1
Namun meski dia mendengar orang berbisik-bisik tentangnya, dia tidak peduli. Sebab kepuasan hatinyalah yang lebih penting daripada pendapat orang.
Mengenakan kalung emas yang telah lama diimpikan membuat hatinya kebal terhadap bisik-bisik tetangga.