
Lalu dua hari setelah itu, sekitar jam 7 pagi dia dan ibunya berangkat dari rumahnya menuju pinggir jalan di mana kendaraan melintas. Jarak dari rumahnya ke jalan raya sekitar 400 meter dengan kondisi jalan setapak yang naik turun, dan mereka berjalan kaki ke sana. Dia tinggal di rumah yang paling ujung di kampungnya.
Di situ mereka duduk menanti kendaraan ke kota.
Lalu setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, angkutan itu pun akhirnya tiba. Perjalanan yang mereka tempuh cukup lama, yaitu sekitar 6 jam lebih.
Selama waktu yang lama itu, dia tidak ingin ataupun tertarik untuk makan.
Selama singgah di beberapa tempat makan, dia sulit memakan apapun meski ibunya telah memaksanya berkali-kali. Kekhawatirannya yang dalam membuat nafsu makannya menjadi hilang.
"Ini. Ayo makan! Tadi pagi kau hanya makan sedikit. Ini sudah siang. Kau tidak lapar? Hah? Ayo makan!" Ucap ibunya seraya terus mendesaknya makan.
"Ah! Aku tidak lapar."
"Jangan bohong. Jangan kau tahan-tahan rasa laparmu. Apa kau takut nanti di perjalanan sesak buang air besar? Dari rumah kau sudah buang air besar kan? Kalau kau mau buang air, di bandara ada toilet kok."
Wanita itu berbicara kuat seperti mengesampingkan rasa malu sementara banyak orang sudah melihatnya dan tak sedikit yang menahan tawa.
Namun seperti tubuh tanpa kepala, Indra sama sekali tidak menghiraukan omongan ibunya ataupun merasa malu. Karena seluruh pikirannya bertumpu pada masa yang akan dijalaninya nanti dan seperti apa rasanya naik pesawat. Membayangkan jika pesawatnya mungkin jatuh dan membayangkan bagaimana caranya masuk ke dalamnya.
Namun seolah pantang menyerah, ibunya menawarinya air kemasan botol, "Nah, ini minumlah!"
Tapi itu juga sama sulitnya untuk ditelan.
Maka wanita itu menjadi jengkel dan bilang, "Makan nggak mau. Minum pun tidak. Apa yang akan mengisi perutmu itu nanti selain angin? Nanti kau kentut-kentut. Ayo makan! Sedikit saja untuk cuci mulut biar nggak bau nafasmu. Rilekslah. Jangan tegang. Apa kau stress karena mau pergi ke tempat yang jauh?"
Karena ibunya terus mengoceh, dia pun akhirnya memakan sedikit makanan yang ibunya tawarkan sejak tadi padanya. Itu pun sangat sedikit.
**********
Perjalanan dengan pesawat adalah yang pertama kali baginya. Sehingga dia ingin ditemani ibunya karena tak berani.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di loket. Di situ, wanita itu bertanya pada seseorang yang duduk di loket,
"Pak, dari sini ke bandara naik apa yah pak?"
"Oh, nanti ada bis khusus yang akan ke bandara bu. Tunggu saja. Mungkin 3 jam lagi sampai."
Maka mereka mengambil tempat duduk di situ dan menunggu bis itu datang.
Selama itu, Indra terlihat sangat cemas. Mukanya tampak seperti muka orang yang mempunyai hutang besar namun tidak sanggup membayarnya.
Mendadak wanita itu ingat kalau anaknya berteman baik dengan Soni. Maka dia bertanya apakah dia memberitahu tahu Soni tentang kepergiannya atau tidak.
Lalu ketika dia hendak menghubungi Soni, tiba-tiba saja namanya muncul lebih dulu di layar ponselnya.
"Hallo! Kau di mana?" Tanya Soni.
"Aku di loket KBT di Medan. Dan sebentar lagi pergi ke bandara."
"Oh gitu. Tunggu yah. Aku akan ke sana."
"Iya. Pokoknya tunggu aja. Lima belas menit lagi aku sampai."
Setelah menutup telepon, Soni bergegas menyalakan motornya dan tancap gas.
**********
Ketika dia sampai di sana, mereka bersalaman dengan muka yang haru karena akan berpisah.
"Kok tiba-tiba kau bisa ada di sini? Kapan kau datang kemari?" Tanya Indra yang masih tak percaya dengan keberadaan Soni.
"Aku sudah dua hari di sini. Aku kerja di sini."
__ADS_1
"Kerja apa?"
"Macam-macamlah. Serabutan. Yang penting ada uang. Supaya jangan kau saja yang anak kota. Iya kan?"
Ketika mereka sedang berbicara, seorang pedagang keliling lewat di depan mereka dan menawarkan barang dagangannya seperti dompet pria dan tali pinggang pria.
Ada satu barang yang ingin dia beli. Maka dia bilang ke ibunya, "Mak, belilah dompet yang itu. Aku nggak punya dompet." Dia menunjuk ke salah satu dompet yang dipegang oleh si pedagang.
"Aduh... nggak ada uang. Di sana saja beli kalau kau sudah kerja nanti." Keluh ibunya.
Melihat dia begitu menginginkannya, Soni berniat membelikan dompet itu untuknya.
"Kau suka? Ambil saja. Aku yang bayar."
Tapi ibunya tidak enak hati dan berupaya menolak. "Aduh... nggak usah repot-repot. Dari mana uangmu. Baru dua hari kau kerja di sini. Nanti di sana dia bisa beli kok. Tidak usah."
"Nggak papa tante. Anggap saja ini hadiah kenang-kenangan dariku untuk si Indra."
Saat mereka saling menolak, si pedagang menjadi bingung karena memikirkan antara laku atau tidak barang dagangannya. Maka karena tak ingin membuat si pedagang menunggu, Soni pun segera mengambil dompet itu dan membayarnya.
Lalu si pedagang cepat-cepat pergi sebelum ada perubahan pikiran di antara mereka.
"Makasih yah Son." Ucap Indra sambil tersenyum. Lalu dia segera memindahkan uang di sakunya ke dalam dompet barunya.
Lalu mereka pergi sedikit menjauh dari wanita itu dan berbicara serius mencurahkan isi hati. Sedangkan wanita itu, dia hanya duduk diam berkutat pada kebosanan menanti bis itu datang.
******
Tak lama kemudian bis itu pun akhirnya tiba. Indra dan Soni pun saling mengucapkan salam perpisahan yang haru seperti dua orang kekasih.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Indra dan ibunya segera masuk ke dalam bis lalu meninggalkan Soni.
__ADS_1
Indra terus melihat dari jendela bis ke arah Soni yang masih berdiri di pinggir jalan menyaksikan bis itu perlahan menjauh.
Barulah setelah bis itu tak tampak lagi, dia kembali ke bengkel dan meneruskan pekerjaannya.