Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 12


__ADS_3

Setelah mengambil ponselnya, Indra langsung kembali ke dapur mengambil bekalnya dan pergi bekerja. Namun di situ dia melihat ibunya sibuk menulis-nulis anggaran pengeluaran. Tampak di kertas itu tercoret nama 'Mama bokkor'. Namun indra tidak melihat jelas tulisan itu sebab dia pergi terburu-buru.


Ketika bertemu dengan Soni dia mengatakan, "Son, kayaknya beli jaketnya ditunda dulu. Gajiku dipakai buat bayar hutang."


"Oh, gitu. Nggak papa. Lain kali juga bisa kok."


Setelah mereka sampai di tempat kerja dan hendak mengangkut batu, tiba-tiba sang mandor memanggil Soni, "Hei! Kau, kemarilah!"


Segera dia meletakkan embernya dan menghampiri sang mandor sementara Indra terus mengangkut batu. "Yah pak." Ujar Soni.


"Kau bantu mereka mengaduk semen kemudian tuang itu ke atas batu-batu ini." Perintah sang mandor.


Tampak dua orang buruh sedang mengaduk-aduk semen dan pasir namun tidak ada yang membantu menuangkan air ke dalamnya.


Maka Soni pun menimba air dari dalam tong dan menuangkannya ke dalam adukan semen itu kemudian mengangkut dan menuangkannya ke atas batu-batu yang telah tersusun rata.


Hari itu pekerjaannya dua kali lebih berat dari hari sebelumnya. Yaitu mengangkat air, adukan semen, dan menuangkannya ke atas batu-batu krikil sementara yang lain meratakannya.


*********


Hari demi hari Indra dan Soni terus bekerja keras dengan bersemangat di bawah terik matahari.


Hingga akhirnya tibalah saat mereka akan menerima upah.


Semua buruh pun dipanggil berdasarkan daftar absen lalu diberi upah. Mereka mendapat upah yang full karena tak pernah absen sehari pun.


Ketika uang itu sampai di tangan para buruh, mereka sangat senang. Tapi Indra karena tahu uangnya akan dipakai, mimik wajahnya datar saja.

__ADS_1


Sore itu ketika dia sampai di rumah, dia langsung menyerahkan uang itu kepada ibunya,


"Mak, ini upahku selama satu minggu."


Namun wanita itu hanya mengambil 300 ribu dan menyerahkan sisanya kembali kepada Indra. "Ini, peganglah untuk uang sakumu. Tidak baik anak laki-laki jalan tak punya uang."


"Nggak usah. Pegang saja. Atau buat beli beras saja." Balasnya dengan muka ditekuk kemudian pergi mengambil ember, sabun, dan handuk. Tapi saat kakinya mencapai pintu, ibunya dengan cepat mencegatnya, "Kau ikhlas kan?" Tanya ibunya.


"Iya." Jawabnya lalu meneruskan langkahnya.


**********


Hasil keringatnya selama satu minggu tak bisa puas dia nikmati.


Uang itu terpaksa dia berikan semuanya pada ibunya.


Hatinya sungguh lega luar biasa seperti orang yang baru saja bebas dari tangan penjajah.


"Trima kasihlah untuk anakku si Indra. Karena dia hutangku bisa terbayar." Tuturnya dalam hati seraya berjalan pulang.


Setelah itu dia singgah di rumah salah satu tetangga dan membeli beras darinya.


**********


Hari demi hari Indra terus bekerja keras dan bersemangat meskipun tidak menikmati hasil jerih lelahnya. Sampai pembangunan jalan itu selesai sekitar dua setengah minggu, hanya luma puluh ribu rupiahlah yang masuk ke sakunya. Karena semuanya dipakai untuk membayar hutang.


*********

__ADS_1


Beberapa hari setelahnya, dia kembali menjadi pengangguran yang hanya bisa membantu ibunya di ladang.


Hidupnya mulai terasa membosankan karena tak memegang uang. Akhirnya dia bilang ke ibunya, "Mak, besok aku bekerja memukul batu saja."


Tapi ibunya sangat melarangnya karena pekerjaan itu begitu berat. Baru beberapa minggu yang lalu mereka mendengar kabar, seorang pemuda mati di ladang batu karena kepalanya tertimpa batu yang besar. Ketika dia sedang mengorek, mengeluarkan batu dari dalam tebing di hadapannya, tebing itu tiba-tiba longsor sehingga batu-batu di atasnya jatuh menimpa kepalanya dan dia terkubur di dalamnya.


Beberapa orang yang ada di situ bisa meluputkan diri meski menderita luka.


Karena kejadian itu, ibunya melarangnya dengan keras sebab dia anak laki-laki satu-satunya.


Untuk mendapatkan batu-batu itu, mereka harus memukul-mukul batu yang lebih besar di tebing batu yang luas, atau di bukit-bukit batu. Dengan linggis dan palu yang besar mereka akan mengungkit dan memecahkan batu-batu yang sangat besar menjadi lebih kecil, mengungkitnya dan mengeluarkannya dari dalam tanah menggunakan linggis. Batu-batu itu akan dijual ke toko bangunan karena biasanya dipakai untuk membuat fundasi bangunan.


Namun meski seharian bermandikan keringat dibawah terik matahari, dia tetap tidak bisa mengumpulkan sampai satu truk batu. Sementara harga satu truknya itu hanya dihargai seratus lima puluh ribu rupiah.


Dia bisa mendapatkannya setelah bekerja tiga hari dari pagi hingga petang hari. Karena melihat keadaannya yang menyedihkan, ibunya berulangkali melarangnya namun dia selalu bersikeras.


**********


Maka ke esokan harinya karena sudah tak tahan lagi, ibunya mencoba menghubungi anak sulungnya berharap mendapatkan solusi. Anak sulungnya itu baru bekerja tiga bulan di ibukota. Itu pun juga karena belaskasihan seseorang, sebab dia juga tidak menyelesaikan sekolahnya.


"Aku tidak tahu mak kemana aku harus cari kerja untuk Indra. Aku tidak kenal banyak orang di sini. Biarkan saja dulu dia di kampung." Tutur anak sulungnya.


"Tapi di kampung tidak ada pekerjaan yang jelas. Apa kau tega melihat adikmu bekerja memukul, mengungkit dan mengumpulkan batu? Lagipula dia sering keluyuran setiap malam. Meski sudah capek bekerja, tapi dia selalu mengiayakan ajakan teman-temannya setiap kali diajak keluyuran. Mak pusing setiap hari dibuatnya."


"Tapi kerja apa? Dia hanya lulus SMP. Izazah pun sudah tak punya karena sudah hilang."


"Mak juga tidak tahu. Tapi coba pikir-pikirkan dululah. Mudah-mudahan ada solusi." Balasnya lalu menutup telepon.

__ADS_1


__ADS_2