Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 11


__ADS_3

Setelah waktu istirahat itu berakhir, keduanya kembali kepada bebannya. Jarak yang harus mereka tempuh juga semakin panjang.


"Son, lama-lama betisku bisa keras kaya kayu nih.


Andai kau libaskan ranting itu ke betisku, pasti rantingnya langsung... 'KREK...!!!' Terbelah dua! Setiap hari jalan bolak-balik begini dengan beban 10 kg. Kalau diukur, mungkin sudah lebih dari 1 km jarak yang kita tempuh selama bolak-balik. Dan sampai proyek ini selesai, entah berapa kilometer jarak yang akan kita jalani nanti."


"Sama. Tangan dan kakiku juga terasa keras dan kaku kayak kaso."


"Sekarang jam berapa? Berapa jam lagi kita selesai kerja?" Tanya Indra.


"Sekarang jam setengah 6.


30 menit lagi selesai kok."


"Oh... bentar lagi yah. Ya udah! Yuk lanjut! Kurasa 3 kali angkut lagi, pas jam 6 dan kita bisa pulang.


"Eits! Jangan! 2 kali saja. Kita jalan pelan-pelan saja biar agak lama. Tangan dan kakiku udah nggak sanggup lagi. Gemetar!"


Maka sepanjang detik-detik terakhir itu, mereka memperlambat langkahnya demi mengulur waktu. Mereka juga mengurangi jumlah batu yang mereka bawa.


Saat sang mandor melihatnya, dia hanya menegur mereka pelan, "Kenapa cuma segitu yang dibawa? Udah capek yah? Sebentar lagi kita selesai kok."


Indra dan Soni hanya tersenyum salah tingkah seraya lanjut mengangkut batu-batu kerikil terakhir.


Lalu ketika waktunya sudah tepat, Indra dan Soni, juga buruh yang lain, segera menyimpan peralatan mereka di satu tempat lalu menutupnya dengan terpal. Kemudian mereka pulang dengan mengendarai sepeda motor yang kini tinggal rangka dan mesin.


Di jalan, Indra mengeluh, "Huh.... sampai di rumah masih ngangkat air lagi."


*


*


*


"Sampe sini aja yah 'ndra. Aku nggak sanggup lagi nganterin kamu sampai ke rumah."


"Iya."

__ADS_1


Dari sana, dia harus berjalan kaki sekitar 200 meter lagi untuk sampai ke rumahnya.


Indra yang penakut, selalu melihat ke belakang saat berjalan. Di kedua sisi jalan setapak yang dilewatinya itu adalah perladangan yang cukup rimbun, yang ditumbuhi dengan tanaman kopi yang sudah tua. Terdapat juga beberapa pohon-pohon besar di sisinya dan beberapa kuburan.


Pikiran buruk selalu menguasainya setiap kali melewati jalan itu saat hari mulai gelap. Maka karena sudah semakin takut, dia pun memilih lari daripada berjalan cepat.


Ketika dia sampai di kampung yang satu, seorang ibu-ibu yang kebetulan lewat bertanya padanya, "Kenapa kau lari-lari?"


"Ah, nggak apa-apa."


"Kau takut yah? Eh.... bodoh sekali kau takut di kampungmu sendiri."


"Nggak. Aku nggak takut." Balasnya sambil terus berjalan pulang.


"Badan doang yang besar, tapi penakut."


*********


"Lama sekali kalian pulang?" Tanya ibunya ketika dia baru tiba dan membuka pintu.


Maka dia segera mengambil handuk dan sabun dan cepat-cepat pergi mandi sebelum hari benar-benar gelap.


Lalu seperti yang dia keluhkan, dia harus membawa air di baskom besar yang diangkut di atas kepalanya.


"Hah... capeknya..." Keluhnya lalu membuang nafas panjang setelah menurunkan baskom besar berisi air. Kemudian dia berganti pakaian dan pergi ke dapur. Meski lauknya sangat sederhana, dia tetap menyantapnya tanpa pernah menuntut.


Sementara dia makan, ibunya datang menghampirinya.


"Sampai berapa lama nanti kalian kerja di proyek jalan itu?"


"Sampai selesailah mak."


"Iya kapan?"


"Mana aku tahu. Mungkin sekitar dua minggu atau lebih."


"Berapa gajinya sehari?"

__ADS_1


"70 ribu sehari. Dan setiap hari sabtu, upahnya baru diberikan sekaligus."


"Oh...


Yah sudah. Habis makan langsung tidur!" Tutur ibunya lalu pergi meninggalkannya.


"Iya."


Di kamar, sambil berbaring, ibunya sibuk berpikir kemana baiknya uang itu akan digunakan. Dia mengambil secarik kertas dan pulpen dan memerinci setiap hutang dan pengeluaran lain yang harus dibayar. Sejak ayahnya pergi dengan wanita lain, ladang-ladang yang tadinya mereka kerjakan, kini diambil alih oleh mertuanya yang jahat bagaikan iblis. Sehingga mata pencaharian mereka banyak berkurang. Mereka hanya mengelola dua petak kecil lahan yang tidak diambil yang hanya mampu memberikan sedikit hasil.


**********


Keesokan paginya, ketika mereka sedang sarapan, ibunya mengutarakan pendapat yang telah dirangkumnya semalaman.


"Indra, hari sabtu kalau kalian sudah terima upah, kita bayar saja hutang kita sama mamanya si bokkor dan mamanya si nuri, lalu sisanya buat beli beras."


Tapi Indra diam saja. Karena jauh dilubuk hatinya, dia juga sudah mempunyai rencana sendiri.


"Kenapa kau diam? Kau nggak setuju yah?" Tanya ibunya.


Maka dengan berat hati dia akhirnya merespon ibunya, "Padahal habis gajian, aku dan Soni mau beli jaket."


"Aduh... nanti dululah beli jaketnya. Kamu mau ditagih terus sama mamanya si bokkor? Hah? Sudah ke seluruh tetangga dia sebarkan kalau kita punya hutang sama dia. Lagi pula itu sudah lama."


"Memang berapa sih mak?"


"300 ribu."


"Yah! Kalau aku kasih, sisanya mana cukup beli jaket."


"Kan masih ada satu minggu lagi kalian kerja. Emak pusing ditagih terus. Nggak di rumah, di pasar, di jalan, di manapun setiap kali jumpa, ditagih terus."


Menyaksikan ibunya marah-marah, akhirnya dia menyerah dan terpaksa mengiyakan usulan ibunya meski sangat berat.


"Iya. Iya." Jawabnya kesal lalu pergi ke kamar setelah menghabiskan makanannya.


Wanita itu, jauh di lubuk hatinya sebenarnya tidak tega menggunakan jerih payah anaknya demi membayar hutang. Dia juga ingin anaknya bisa bergaya seperti teman-teman seusianya. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia hanya bisa berharap kelak ada rejeki yang lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2