Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 33


__ADS_3

Namun sewaktu boxer itu terangkat hendak menutupi dua gunung belakangnya, jahitan boxer itu mendadak koyak terbelah dua karena tak mampu membendung daging jumbo itu.


"Yah.... apes banget..." Keluhnya. Lalu dia melihat ke belakangnya dan melihat robekannya cukup lebar.


"Nih, gimana makenya? Apanya yang mau dibungkus kalo gini? Sial banget!"


Namun dia terpaksa tetap memakainya karena baginya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Daripada resleting celananya secara langsung menyentuh bagian intimnya.


Kemudian setelah memakai baju, tak sengaja dia melihat kotak benang milik istri temannya tergeletak di samping TV.


"Kebetulan ada benang dan jarum nih. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba."


Segera dia memasukkan selembar benang ke lubang jarum lalu melepas kaosnya dan mulai menjahit.


Seraya jahitan demi jahitan terjalin, mulutnya terus mengoceh. "Kalau aku emosian, bibirnya si Sarjoni sama si Rahmat pasti udah ku jahit! Gara-gara mereka aku kehilangan tasku dan pakai baju jelek ini!"


Namun dia hanya menjahit ketiak bajunya yang robek dan membiarkan celananya tetap bolong.


Usai menjahit dan menyimpan benang dan jarum itu ke kotaknya, dia pergi ke luar mencari makan.


Tak jauh dari tempat kosnya ada warteg yang selalu ramai pengunjung. Perempuan, laki-laki, dari yang muda sampai yang tua sering makan di sana karena makanannya enak dan murah meriah.


Ketika Indra berdiri di depan etalase memilih-milih lauk yang akan dia cerna, beberapa orang yang duduk di belakangnya sambil bersantap menertawakannya serentak.


Dengan insting dan naluri yang terlatih, dia langsung menutup bokongnya yang bolong dengan kedua tangannya dan berjalan meminggir seperti kepiting.


"Mba. Aku pesan ikan goreng pakai sambel terasi dan sayur asem yah." Tuturnya seraya berjalan meminggir menuju kursi lalu duduk.


Sambil menahan malu, dia mencoba tetap tenang sambil membalas mereka yang tertawa dengan senyum.


Lalu tiba-tiba aja ada yang nyeletuk, "Bang, itu gaya yang terbaru yah?"

__ADS_1


"Hahahaha.... tadi celanaku terkait tiang besi jemuran." Balasnya sambil tertawa malu.


"Oh gitu. Kirain."


Tak lama si mba warteg datang membawa sepiring makanan untuknya. Cepat-cepat dia menyantapnya supaya bisa cepat pergi dari sana dan menjahit celananya.


Kemudian usai bersantap, dia beranjak segera dan membayar lalu berjalan terburu-buru kembali ke kosan.


Sesampainya di sana, dia mengambil kotak benang itu lagi, memasukkan benang ke lubang jarum lalu pergi mengambil handuk.


Setelah itu dia melepas celananya dan melilitkan handuk itu dipingganya dan mulai menjahit. Bagian yang bolong lebar itu, dijahitnya sedemikian rupa sampai itu tertutup sempurna.


"Hah.... kelar sudah.


Sekalian aja nih boxer aku jahit."


Dia juga melepasnya lalu menjahitnya dan memastikan jahitan itu mengikat kuat.


Dia mengeluarkan ponselnya, memasukkan earphone ke kupingnya dan mulai menyetel lagu rock.


Menutup matanya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya menikmati alunan musik.


Tak lama Rahmat, laki-laki si penceramah dan bawel pulang. Dia kaget melihat pakaian perempuan berserakan di lantai.


"Baju-baju siapa nih? Kok ada ****** ***** cewek dan bra sih? Kebaya, rok batik, jeans, kaos, baju siapa nih?"


Dia memungut semuanya dari lantai dan menaruhnya di atas tempat tidur.


Kemudian dia pergi ke kamar yang lain dan melihat Indra sedang bersantai. Sarjoni dan Maribet sudah pergi sewaktu Indra keluar mencari makan.


"'Ndra! Hei Ndra!" Dia menepuknya sewaktu menegurnya.

__ADS_1


"Itu baju-baju siapa?" Tanyanya lagi.


"Mana?" Jawabnya sambil melepas headset di kupingnya.


"Itu. Baju-baju perempuan. Itu baju siapa? Cewekmu?!"


"Nggak! Tapi itu baju perempuan yang naik bis tengah malam kemarin. Kamu ingat nggak? Pasti kamu udah mendengkurkan? Jadi tidak lihat dia naik?"


"Bibirmu yang mendengkur! Aku lihat dia naik.


Jadi maksudmu tasmu ketukar sama tasnya dia? Begitu? Hahahahah...


Jangan-jangan tar kalian jodoh lagi."


"Jodoh kepalamu! Jodoh! Jodoh! Kenal aja nggak! Gimana bisa jodoh!? Gara-gara dia salah ngambil tas, aku jadi sengsara. Lihat nih! Aku sampai minjam bajunya si Sarjoni yang tak tahu terima kasih itu.


Dia kasih baju robek, celana bolong, bahkan boxer pun koyak sangkin tipisnya. Padahal waktu di kapal, aku sering ngasih tangkapan cumiku buat dia, satu kilo, dua kilo, supaya dia semangat saat menimbang. Semangat nanti kalau pulang, bawa uang banyak! Tapi giliran teman susah begini, nggak ada ketulusan menolong di hatinya. Dasar teman tak tahu terima kasih."


"Sudahlah. Yang sabar. Sesama manusia kita harus bersabar satu sama lain. Rela mengampuni meski itu sulit. Maklumlah, si Sarjoni masih ABG labil. Masih kasmaran."


"Memang apa hubungannya dengan kasmaran?"


"Lho, ada dong! Orang yang lagi kasmaran biasanya kurang fokus membantu sesama temannya. Biasanya perhitungan, supaya kalau kencan sama gebetannya, punya duit."


"Kok kamu ngomongnya nggak nyambung?! Yang dikasih itu baju bekas, jelek! Aku nggak minta duitnya buat beli baju.


Hah! Sudahlah! Makin nggak nyambung ngomong sama kamu. Udahlah! Pergi aja!"


"Trus itu baju-baju cewek mau kamu taruh mana?"


"Aku buang! Puas!"

__ADS_1


Karena suasana hatinya semakin panas, Rahmat pun meninggalkannya karena tak ingin perselisihan meledak.


__ADS_2