Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 10


__ADS_3

Ke esokan paginya, meski kelopak mata masih terasa berat, dan seluruh badan masih ingin berbaring, wanita itu rela bangun lebih pagi dari biasanya demi menyiapkan bekal untuk Indra. Dengan bahan-bahan seadanya, dia berusaha menyulap itu menjadi makanan enak.


Kemudian setelah semuanya beres, dia pergi membangunkan anaknya,


"Hei! Bangun! Bangun! Ayo makan! Jam 7 kalian harus segera pergi."


"Hah...." Ujar indra sambil memiringkan posisi tidurnya, lalu berkata lagi,


"Aduh... tunggu sebentar lagi mak."


Saat mengatakannya, nafasnya yang panas menguap ke muka ibunya saat ibunya menarik selimutnya.


"Alamak! Nafasmu bau sekali! Nggak sikat gigi kau tadi malam yah? Hah? Ckckckck... Kau ini sudah besar! Jaga kebersihanmu! Bangun! Ayo bangun!"


Kemudian wanita itu pergi ke dapur sambil mengoceh lagi, "Tidur cepat saja masih susah bangun, apalagi tidur larut malam. Makanya kalau dinaseheti jangan melawan!"


Indra yang mengikutinya di belakang, langsung mengambil piring dari raknya bersiap hendak makan. Namun seperti kilat memancar di langit, tangan ibunya dengan sangat cepat merampas piring itu dari tangannya.


"Makan setelah kau cuci muka dan sikat gigi!" Tutur ibunya dengan nada yang sengit.


Maka dia pergi ke halaman belakang dan membasuh muka juga giginya. Sementara dia membasuh wajah dan giginya, ibunya mempersiapkan bekal juga air minum untuknya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.


"Makananmu ada di meja yah. Ibu mau pergi menyuci piring." Teriaknya dari dapur.

__ADS_1


Setumpuk piring kotor di dalam baskom besar dibawa di atas kepalanya ke tempat pemandian umum, di mana orang-orang di sana biasa mandi dan menyuci.


***********


Indra yang selesai membasuh muka dan giginya, segera menyantap makanannya cepat-cepat, karena Soni menghubunginya agar jangan sampai terlambat. Setelah itu dia segera pergi ke rumah Soni sambil menenteng kantung bekal makanannya.


Dari jalan setapak dia berseru berpamitan dengan ibunya yang masih membasuh piring-piring kotor. Tempat pemandian umum itu berada di sisi jalan. Sehingga jika seseorang berseru, suaranya bisa terdengar jelas.


Sesampainya di kediaman Soni, tanpa mengulur waktu, mereka segera pergi ke proyek pembangunan jalan itu. Setelah menghadap mandor mengisi daftar hadir, mereka langsung disuruh mengangkati batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk membangun jalan. Mereka mengisi batu-batu itu ke dalam ember dan membawanya, menyebarkannya sampai ke seluruh batas jalan yang akan dibangun.


Proyek pembangunan itu sangat panjang sekitar 1 kilometer lebih.


Waktu masih pagi, semangat mereka masih menyala. Tenaga mereka masih full sehingga batu-batu kerikil itu bisa diangkat dan diserakkan cukup banyak ke tanah. Tapi ketika matahari mulai terik, dan kelelahan melanda, lutut mereka pun mulai goyah dan gemetar saat berjalan di jarak yang semakin jauh. Beban yang mereka angkut di dalam ember sekitar 10 kg, dan mereka sudah berjalan bolak-balik sebanyak 20 kali sejak pagi.


"Capek yah?" Seru sang mandor yang memperhatikan jalan mereka mulai lemas."


Kalimat itu terdengar begitu menyejukkan hati, karena itulah yang mereka inginkan sejak tadi tapi takut.


Mereka pun langsung meletakkan kedua ember berisi batu di tangannya dan duduk di tepi jalan. Melepas peluh sambil mengipas-ngipas muka mereka dengan baju yang mereka lepas karena angin tak bertiup.


Kemudian mereka berdiri untuk merenggangkan otot-otot tangan mereka yang kebas.


Namun meski seluruh otot dan sendi belum sepenuhnya baik, mereka harus kembali bekerja sampai waktu makan siang tiba, dan mereka memiliki kesempatan mengistirahatkan diri kembali.

__ADS_1


Sampai saat itu tiba, mereka mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka sampai ke titik akhir agar mereka sanggup mengangkat batu-batu itu dan menyebarkannya ke tanah sampai waktu istirahat itu tiba. Beban yang semakin lama semakin bertambah berat.


********


Lalu saat waktu istirahat itu akhirnya tiba, tanpa diduga sang mandor memanggil mereka dan memberikan mereka gorengan. "Nah, ini makan!" Tutur sang mandor sambil menyerahkan sekantong plastik kecil gorengan.


Mereka sangat senang karena mendapat perhatian spesial dari sang mandor. Tapi tak lama setelah mengambil gorengan itu, sekelompok buruh yang lain datang mengucapkan terima kasih pada si mandor. Rupanya gorengan itu sudah dia bagi-bagikan sebelumnya ke semua buruh hingga yang tersisa hanya 3 gorengan. Lalu itu dia masukkan ke dalam kantong kecil dan berikan pada Indra dan Soni.


"Kupikir kita spesial. Nggak tahunya, yang dikasih cuma gorengan sisa." Keluh Indra.


"Yah... namanya juga buruh. Mana ada yang spesial." Sambung Soni.


Namun meski demikian mereka membagi gorengan itu satu-persatu. Tapi pada satu bagian terakhir, Indra meminta, "Untukku saja yah. Kau kan nggak suka gorengan."


"Eits! Siapa bilang? Belah dan bagi dua!" Ujar Soni.


"Iya. Iya. Sama teman sendiri pelit amat." Balasnya dengan muka bete. Tapi Indra justru tak adil saat membagi. Dia mendapat bagian yang besar, sementara bagian yang kecil dia berikan pada Soni. Namun agar Soni tak meminta lagi, Indra langsung memasukkan semuanya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan rakus.


"Dasar rakus!" Ungkap Soni kesal.


*********


Setelah mereka bersantap, mereka merebahkan diri di atas kerikil-kerikil di tanah itu, berharap itu bisa memijat punggung mereka yang sakit dan ngilu. Tapi yang terjadi punggung mereka justru semakin sakit dan ngilu. Maka mereka pindah ke tempat yang berumput dan rebahan sejenak di situ.

__ADS_1


"Ah... enaknya." Tutur Soni. Dinginnya rumput yang tumbuh di bawah pohon ditambah sejuknya angin yang berhembus, membuat rasa sakit di tulang punggungnya perlahan-lahan hilang.


"Iya enak banget." Sambung Indra yang juga merasakan kelegaan di punggungnya.


__ADS_2