Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 62


__ADS_3

Dia pergi bersama pemuda itu. Dia memundaknya dengan santai karena telah terbiasa dengan beban yang berat.


"Bang turunin di sini aja galonnya." Ucap pemuda itu begitu sampai di tempat sambil menahan rasa sakit.


Kemudian dia memanggil si penjaga warung dan tak lama dia keluar. Seorang pria yang sedang memegang pisau cukur. "Ada apa dek?" Tanya datar.


"Ini pak galon airnya."


"Oh... tunggu yah." Dia pergi mengambil uang di dalam sebuah kaleng yang dia taruh di atas TV tabungnya.


Setelah mengambil uang recehnya, dia kembali untuk membayar.


"Ini dek." Ucapnya sambil meyodorkan uang recehan itu.


Tiba-tiba, meskipun dalam menahan rasa sakit, otak pemuda itu masih dapat fokus. Tanpa sengaja matanya tertuju pada pisau cukur yang ada di tangannya. Terdapat beberapa helai bulu yang tebal dan keriting terimpit di antara pisau cukur itu.


"Maaf pak, mau nanya, bapak habis cukur kumis yah? Tapi kok kumisnya nggak ada." Tanyanya sedikit ragu.


"Ah. Kau ini. Jeli saja matanya. Tadi saya habis cukur bulu ketiak. Bulunya udah lebat banget. Gara-gara banyak kerjaan, saya nggak sempat-sempat cukur. Udah sampai hutan belantara begini."


"Oh... Bulu ketiak rupanya."


"Iya. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu meliuk-liuk kaya ular begini sih?"


Pemuda itu meliuk-liuk seperti cacing sesekali karena rasa sakit dan gatal pada duburnya.


"Ah, nggak papa pak. Saya cuma sesak buang air besar aja pak."


"Oh gitu. Yah udah. Buruan geh pulang. Nanti kamu berak di celana pula. Saya mau masih lanjut cukuran."


Mendengar itu, Jack tak kuasa menahan tawa sampai akhirnya tawanya pecah membelah udara.


Tapi pemuda itu tak tersinggung dan mengabaikannya. Kemudian mereka pamit pergi.


Di jalan Jack menyuruhnya untuk istirahat dan menutup warungnya sementara. Tapi pemuda itu menolak.

__ADS_1


"Tidak bisa. Kalau aku tutup warung, aku nggak akan dapat uang."


"Tapi kamu kan lagi kurang sehat. Ini aja saya yang bantuin. Coba kalau kami tidak lewat sini. Kamu mau ususmu keluar memanjang sampai menyentuh tanah atau menjadi ekor? Hah?"


"Emang gitu?"


"Nggak!"


"Hei, saya itu nggak bisa tutup warung. Soalnya saya perlu uang."


"Hei, semua orang juga perlu uang. Orang gila aja butuh. Tapi kesehatan juga penting."


"Aku tahu. Tapi beban hidupku banyak sekali."


"Semua orang juga punya beban hidup. Tapi jaga kesehatan juga penting. Memangnya apa sih beban hidupmu?"


"Hah... Biasalah bang. Tanggung jawab kepala keluarga. Anak, bini ada di kampung. Jadi aku harus kerja keras supaya bisa kirim uang tiap bulan ke mereka."


"Tapi kesehatan juga penting."


"Ah! Terserah kau ajalah. Toh yang kesakitan kau sendiri. Kok jadi aku yang repot."


Belakangan keduanya akhirnya sampai dan menghampiri Indra yang sejak tadi menunggu. Lalu mereka berpisah mengambil jalan masing-masing.


Indra dan Jack langsung memutar haluan menuju pasar.


"Kita ngapain ke pasar 'Ndra?" Tanya Jack.


"Beli pakaian dalam. Tadi malam aku baru ingat kalau pakaian dalamku sudah minim."


"Oh gitu. Tapi jangan lama yah. Soalnya ntar sore aku mau jualan."


"Jualan? Jualan apa?"


"Dagang gorengan."

__ADS_1


"Gorengan? Sejak kapan kau pintar goreng-menggoreng?"


"Sejak hidup semakin sulit karena meningkatnya kebutuhan. Sebagai seorang pria, aku harus bertanggung jawab penuh untuk keluarga. Ntar kamu juga gitu kalau sudah berkeluarga."


"Halah... Halah.... Sejak kapan si kawan ini mulai dewasa. Tapi baguslah. Patut diacungi jempol. Tenang aja. Kita nggak bakalan lama. Lagipula cuma itu doang yang mau kubeli."


"Baguslah." Jawabnya singkat lalu menambah kecepatan laju motornya.


************


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba di pasar. Lalu dengan langkah cepat, usai memarkirkan motornya, mereka segera menjejaki penjual pakaian pria.


"Bang, ada ****** *****?" Tanya Indra.


"Oh ada. Beli berapa?"


"Lihat modelnya dulu bang."


Lalu beberapa model ****** ***** pun diperlihatkan padanya. Mulai dari model biasa sampai yang luar biasa.


"Wah ini kayaknya cocok nih." Ujar Indra.


"Yang ini satu berapa bang?" Sambungnya.


"Satunya dua puluh ribu bang."


"Beli enam yah bang."


"Setengah lusin yah. Aku kasih bonus satu yah."


"Wah. Baik banget. Makasih yah bang."


Si penjual pun segera membungkus pesanannya dan memasukkan satu bonus ****** ***** yang berbahan murah meriah ke dalam kantong plastik.


Lalu mereka pun bertransaksi.

__ADS_1


__ADS_2