Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 32


__ADS_3

Lalu ketika dia membuka pintu usai mandi, ponselnya tiba-tiba saja berdering sampai beberapa kali. Cepat-cepat dia berjalan mengambilnya sebelum nadanya berakhir.


Tapi saat dia melangkah tergesa-gesa, percikan air yang jatuh dari kakinya ke lantai membuatnya tergelincir dan jatuh.


Dia terjatuh dengan pantat yang membanting lantai dengan keras "BRUK!!!." Handuk di pinggangnya bahkan nyaris lepas. Untung saja satu tangannya dengan cepat memegang kuncian handuknya dan memegangnya erat.


"Aduh.... sakitnya. Gara-gara telepon sialan itu, bokongku jadi sakit. Aduh..." Rintihnya sambil mengusap-usapnya.


Kemudian dengan susah payah dia bangkit berjalan menuju ponselnya yang terus berdering.


"Siapa sih? Sibuk banget dari tadi neleponin." Gerutunya.


Ketika dia melihat ke layar ponselnya, tertulis nama sang pujaan hati. Secepat kilat dia menyesuaikan nada suaranya dan mimik wajahnya sebelum menjawab panggilan itu.


"Ehem....


Hallo...


Kenapa beb?"


"Kalau boleh jangan panggil beb lagi deh. Aku nggak nyangka yah ternyata kau itu orangnya jorok. Aku jijik tahu nggak?"


"Maksudmu apa? Kok tiba-tiba kamu ngoceh-ngoceh nggak jelas."


"Ih! Kamu kura-kura dalam perahu yah? Pura-pura nggak tahu? Kamu itu, kalau tidur ileran. Ilernya itu banyak.... banget."


"Kok kamu tahu?"


"Kamu sendiri yang ngirim videonya ke aku? Supaya apa? Hah? Supaya aku jijik? Kamu tahu nggak sih? Aku lagi makan bakso pas lihat lendir iler kamu jatuh ke lantai memanjang. Trus otakku seketika terkontaminasi dan membayangkan kuah baksonya bercampur iler. Tahu nggak?!"


"Tunggu dulu! Kamu itu buat aku bingung. Mana mungkin aku ngirim aibku sendiri. Lagi pula tidak setiap hari aku begitu. Itu karena aku lelah dan kurang tidur. Tapi masa gara-gara itu saja kamu marah-marah."


"Yah jelas dong. Kalau pacarku jorok, nanti kan aku malu buat pamerin ke orang-orang.


Ah! Udahlah! Males ribut sama kamu! Mending kamu kebersihan dulu baru komunikasi kita lancar. Mengerti!" Tegasnya lalu menutup teleponnya.


Sejenak dia termenung memikirkan insiden yang baru saja terjadi. Berbagai rumus matematika sampai ilmu sosiologi muncul mengitari kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa bisa begini?" Matanya terbelalak seraya menatap pesan terkirim berisi videonya yang sedang tidur dengan iler mengalir kental ke lantai.


"Ah. Sudahlah! Mau apa lagi? Nasi sudah jadi bubur. Walau gigi ompong, tapi masih bisa menelan. Meski hubungan hampir kosong, tapi tetap masih terjalin. Biarkan saja dia marah-marah. Nanti juga lupa."


Kemudian dia meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil ransel hitamnya.


Tapi ketika resletingnya dibuka, matanya melongo dan tak habis pikir. Semua isinya ternyata pakaian perempuan.


"Apa? Kok bisa gini? Kemana semua baju-bajuku?" Dia mengeluarkan satu persatu isinya, dan semuanya pakaian perempuan. Rok, kemeja, sarung batik, kebaya, sampai pakaian dalam.


"Jadi aku pakai apa? Masa pakai rok dan kebaya? Nggak mungkin kan? Lagian kok bisa ketukar sih tasnya? Ini pasti tas perempuan yang naik di tengah perjalanan kemarin. Aduh... gimana ini? Kalau aku pinjam bajunya Maribet sih bisa aja. Tapi nggak mungkin juga kan aku minjam boxernya?


Aduh...


Ini semua gara-gara si Rahmat. Andai saja bibirnya nggak ngebacot, pasti tasku nggak akan tertukar.


Padahal di tas itu ada sarung pemberian emak. Kini hilanglah sudah sarungnya.


Itu perempuan juga main ambil tas aja. Masa dia nggak kenalin barangnya sih? Hadeh..."


Dia terus saja mengeluh seraya memikirkan pakaian dalam yang akan dia pakai.


Ketika melihat Indra berdiri bertolak pinggang, mukanya menjadi takut dan terus berjalan melewatinya.


Tapi tiba-tiba saja seruan lantang dikumandangkan, ketika dia berjalan mengendap-endap membuatnya kaget hingga bahunya terangkat cukup tinggi.


"Hei! Sarjoni! Tunggu!" Seru Indra.


Langkahnya langsung terhenti dan dia berbalik badan. "Yah! Kenapa?"


"Pinjami aku boxer! Kau kan orangnya bersih, jadi boxermu pun pasti higienis. Buruan! Aku udah kedinginan nih. Sekalian sama baju dan celananya juga."


"Memangnya punyamu kemana?"


"Jangan banyak tanya. Buruan!"


Tanpa banyak bertanya dia pergi ke kamar mengambil pakaiannya. "Begitu aku kasih baju sama celananya, aku harus pergi lagi. Kalau tidak, dia pasti akan tanya tentang video itu. Ini masih kurang dari 3 jam setelah aku mengerjainya." Tuturnya dalam hati.

__ADS_1


Ketika dia masih sibuk memilih-milih pakaian, dia tidak menyadari kalau Indra ternyata telah berdiri di dekat pintu yang dibiarkan terbuka dan melihat dia memilih-milih pakaian yang kurang bagus untuknya.


"Aku kasih dia baju yang jelek-jelek ajalah. Kalau kotor kan nggak masalah. Tapi kalau baju yang bagus, bisa jadi masalah!"


Kemudian dia mengangkat satu kaos berwarna hitam yang sudah cukup usang dan ketiaknya sudah robek.


"Nah, ini cocok nih untuknya. Nggak usah dipinjam deh. Aku kasih sekalian."


Setelah itu dia juga mengangkat dan melebarkan satu celana berwarna hitam yang bagian bokongnya sedikit bolong. Lalu berkata, "Celana yang ini juga cocok buat dia. Ini kemarin bolong gara-gara aku kentut terlalu kuat. Hantaman anginnya membuat jalinan benang-benangnya terpisah dan bolong.


Cocok nih buat dia. Dia kan suka kentut kalau malam. Jadi celana ini pas. Anginnya nggak ketahan lagi, dan langsung keluar. Pus.. Pus... bablas angine....


Hahahahaha...."


Indra berusaha sekuat tenaga menutup mulutnya dari tawa yang sulit ditahan selama mendengar Sarjoni bicara.


Kemudian dia mengambil satu boxer berwarna hitam lalu menerawangnya. "Nih boxer kayaknya udah tipis banget. Tapi nggak papalah. Kalau aku kasih yang bagus, kan sayang. Mana mungkin aku pakai bekasnya lagi walau sudah dicuci bersih."


Setelah itu dia menyisihkan semuanya ke sampingnya dan merapikan pakaiannya yang lain sebelum memberikannya pada Indra.


Namun saat hendak memberikannya, mendadak dia termenung lagi,


"Eh. Tapi kok warna hitam semua yah?


Tapi...


Ah! Sudah biarkan sajalah! Warna hitam memang cocok untuknya."


Tapi ketika dia berbalik badan hendak memberikan semua pakaian itu, dia kaget setegah mati dan hampir jatuh melihat Indra berdiri tegap sambil memberinya tatapan maut.


"Oh, jadi begini persahabatanmu yah? Tipis macam boxermu! Kau kasih aku baju yang ketiaknya robek dan celana yang pantatnya bolong. Ckckck.... Luar biasa."


Dengan sangat gugup dia menjawabnya, "Tahu dari mana kamu?"


"Aku sudah berdiri di sini sejak satu tahun yang lalu. Disuruh ngambil baju cepat-cepat, tapi lamanya minta ampun. Kamu pikir aku nggak kedinginan? Masuk angin nih!


Lihat aja ntar malam! Celanamu itu pasti robek parah karena kentut sepanjang malam. Aku akan tidur di sampingmu, biar kau tahu rasa!"

__ADS_1


Setelah itu Indra mendekat dan merampas pakaian itu dari tangannya. "Sini! Ngasi baju jelek ini aja lamanya sampai tikus beranak cucu."


__ADS_2