
Ketika dia mendekat, dia melihat Tono mengeluarkan lendir kental dari mulutnya saat itu menganga.
"Ckckckck.... astaga...
Tidur udah kayak beruang kutub."
"Ton! Tono! Ayo bangun. Ngapain kamu tidur di sini? Di atas 'kan ada kamar. Ton! Ton! Bangun Ton! Sadar!" Ujarnya sambil menepuk-nepuk kakinya.
Rahmat terus menepuk-nepuk kakinya bahkan menggelitikinya sampai akhirnya Tono membuka mata meski kelopak matanya berat untuk diangkat. Dia bangun sambil mengusap iler yang memanjang sekaligus membasahi sekitar mulutnya.
Namun otak dan tubuhnya masih belum sepenuhnya sinkron sehingga dia menatap Rahmat dengan tatapan yang seolah-olah hampa namun menyimpan segudang arti.
Belakangan dia membuka mulutnya dan mengumandangkan, "Bidadariku.... " Kedua alisnya ikut terangkat seraya suara merdu disenandungkan.
"Hei! Kamu lagi mimpi ketemu bidadari yah?" Tanya Rahmat.
Namun Tono malah mulai bertingkah aneh seperti sedang dimabuk asmara lalu beranjak merangkul pipa besar di hadapannya di bagian mesin sambil berkata, "Bidadariku yang cantik...."
Rahmat yang menyaksikan tingkahnya yang gila, geleng-geleng kepala.
"Ckckck....otaknya si Tono benar-benar sudah sengklek. Pipa dipanggil bidadari. Makanya kalau tidur jangan di bagian mesin, otaknya jadi panas dan kelewat encer sampai tumpah ruah begini. Bisa-bisanya bangun tidur, sampai tak sadar begini. Kalau tidur itu di kamar, yang suhunya normal, supaya otaknya pun normal meski mimpi buruk sekalipun." Celotehnya yang berdiri sedikit menjauh darinya karena merasa geli.
Meski begitu, seolah tak kehabisan ide, dia mencoba menari-nari bak bidadari di depan Tono sambil memanggil-manggil namanya, "Tono... abang Tono yang tamvan.... ayo bangun. Ayo kita menari bersama."
Dia memanfaatkan ketidaksadarannya dengan menghipnotisnya lewat tarian yang gemulai. Kedua tangan dan pinggangnya meliuk-liuk seperti ular berbisa seraya dia membawanya naik ke atas kapal.
__ADS_1
Tono yang masih tak sadar sepenuhnya itu tampak seperti orang bodoh sampai akhirnya dia berada di hadapan para ABK yang lain.
Saat para ABK yang belum tidur melihat tingkah aneh mereka berdua, mereka langsung beranjak dari tempat tidurnya dan ikut menari-nari meski tidak ada musik yang diputar selain nyanyian sumbang yang terus diteriakkan.
Belakangan sang kapten yang mendengar keributan itu langsung turun menemui mereka. Dia membanting pintu dengan telapak tangannya sambil membentak mereka.
"Hei! Apa-apa'an ini?"
Seketika semua langsung diam dan menunduk. Tapi Tono yang masih belum sadar, terus berlenggak sambil bersenandung, "Bidadari.... Bidadari..."
Keinginan untuk tertawa harus ditahan oleh para ABK itu seraya menyaksikan Tono bertingkah aneh di depan sang kapten sambil memutar-mutar pinggulnya.
Karena sang kapten sedikit temperamen, dia pun memukul kepala Tono sampai dia terjatuh.
Wajahnya mulai menahan malu sekaligus takut. Namun dia tak berani bicara.
Kemudian sang kapten berbicara dengan nada membentak, "Siapa itu bidadari? Hah?!"
Tapi Tono tak berani menjawab sampai akhirnya sang kapten pergi meninggalkan mereka.
Lalu setelah sang kapten pergi, Indra yang belakangan datang menanyai mereka. "Kalian ngapain ngumpul-ngumpul di sini?"
"Si Tono ketemu bidadari 'Ndra." Jawab Rahmat.
"Apa? Bidadari? Ketemu di mana Bidadari? Ikan duyung kali Mat!" Jawabnya skeptis.
__ADS_1
"Iya. Dia malah joged-joged sama bidadarinya. Kalau nggak percaya, noh! Tanya aja langsung ke orangnya!"
"Trus bidadarinya mana?" Tanya Indra.
"Hilang setelah si Tono digampar sama kapten. Hahahaha...."
Tono yang mulai kesal segera pergi meninggalkan mereka semua dan pergi menyendiri. Dia merasa tidak ada satu ABK pun yang memahami perasaannya.
*********
Di tempat kesendiriannya itu dia bersedih lagi hingga mengeluarkan airmata.
Maribet yang diam-diam mengikutinya, pelan-pelan mendekatinya. Setelah duduk di sampingnya, dia merangkul pundaknya sambil bilang, "Sudah Ton. Jangan sedih lagi. Doakan saja tangkapanmu melimpah. Kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Aku tahu, kamu sedih gara-gara memikirkan istri dan calon anakmu 'kan? Jangan khawatirkan istri dan anakmu dulu. 'Ntar kamu jadi nggak fokus memancing dan kerja kerasmu ataupun pengorbananmu jadi sia-sia."
"Yah... aku rasa kau benar Bet. Aku terus-terusan galau dan selalu terbawa perasaan." Jawabnya tertunduk sedih.
"Yah. Sampai kebawa mimpi." Sambungnya dengan nada meledek.
"Udahlah... Kau ini buat aku malu aja. Jangan diungkit-ungkit lagi dong." Tono berbicara sambil menepuk paha Maribet.
"Mmm... Iya. Iya. Ya sudah. Aku balik ke kamar yah. Lanjut tidur lagi. Mumpung masih siang nih. Kamu juga tidur deh. 'Ntar malam kita harus bertempur melawan angin malam demi tiap ekor cumi. Ayo! Semangat!"
Mereka berdua pun beranjak dan kembali ke kamar masing-masing.
Di tempat tidur Tono mengatur lagi suasana hatinya dan pikirannya supaya berfokus menatap apa yang ada di depannya. Membulatkan tekadnya dalam hati seperti tekad seorang pahlawan yang siap bertempur hingga titik darah penghabisan.
__ADS_1