Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 36


__ADS_3

Tapi di tempat tidur, tak semenit pun dia bisa memejamkan mata dan kembali ke nyenyaknya. Dia melihat ke arah jam dinding dan sebentar lagi menunjukkan subuh.


Maka dengan berat hati dia akhirnya bangun melipat sarungnya dan menggulung tempat tidurnya.


"Gara-gara si Indra, aku jadi kurang tidur nih. Dia udah selesai bog belum sih? Lama amat. Apa jangan-jangan dia malah tidur di kamar mandi lagi?! Wah... tuh anak memang luar biasa."


Kemudian dia berjalan cepat kembali ke kamar mandi lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"'Ndra! kamu masih bog atau ketiduran?


'Ndra! Hei! Cepetan buka pintunya!" Serunya dengan suara yang ditahan karena khawatir menggangu orang lain yang masih tidur.


Selama panggilan pertama sampai ketiga, tidak ada jawaban. "Kok nggak dijawab yah. Apa dia beneran tidur? Kalau iya sih, parah! Tidur kok di WC. Ckckck...." Celotehnya lalu memanggil lagi untuk yang keempat kali. Barulah panggilan ke empat, Indra menjawabnya dengan suara lantang karena merasa terganggu dengan kehadirannya, kemudian membuka pintu.


"Apa sih mat? Bisa nggak sih mulutmu diam? Aku udah selesai. Kamu mau ngapain ke kamar mandi? Sakit perut juga? Hah?"


"Mau wudhu. Udah sana! Gara-gara kamu waktu tidurku jadi terganggu!"


Tanpa berbantah lagi, Indra segera pergi meninggalkannya dan melanjutkan tidurnya.


Namun ketika dia masuk ke kamar sepetak itu, dia melihat tempat tidurnya sudah tergulung rapi dan bersih.


"Wah! Sialan si Rahmat. Tempat tidur main digulung aja. Nggak tahu apa orang masih mau tidur?"


Karena rasa malas membuka kembali tempat tidurnya, terpaksa dia menggeletakkan dirinya langsung ke lantai, lalu tudur dan bermimpi.


***********


Ketika Rahmat sedang serius berdoa, ponselnya tiba-tiba berdering mengeluarkan bunyi yang cukup kencang sampai-sampai pikiran yang tadinya fokus memanjatkan permohonan menjadi terganggu dan doanya terhenti di tengah jalan.


"Aduh... siapa sih telepon-telepon pagi-pagi begini? Ganggu orang lagi sholat aja." Gerutunya kesal sembari mengambil ponselnya di atas meja.


"Si Tono toh! Ada apa nih? tumben!" Ucapnya lagi sewaktu melihat layar ponselnya.

__ADS_1


"Yah. Ada apa Ton?" Tanyanya.


"Mat. Tadi aku dapat kabar dari kapten kalau dua hari lagi kapal cumi berangkat." Jawab Tono. Namun mukanya menyiratkan ketidaksenangan saat menyampaikan berita itu.


"Oh yah? Baguslah! Soalnya aku udah boke banget nih."


"Tapi.... aku ragu nih mau ikut atau tidak."


"Lho kenapa? Bukannya kamu senang kalau diajak melaut lagi? Katanya mau seperti popeye si sailorman."


"Kayaknya minggu ini biniku lahiran Mat. Kalau aku pergi, ntar aku nggak bisa ngelihat anakku lahir dong."


"Oh gitu. Ya sudah. Kalau gitu kamu nggak usah ikut."


"Tapi aku butuh duit buat lahiran Mat." Ujarnya dengan muka memelas.


"Ya sudah. Kalau gitu kamu ikut melaut. Gampangkan?"


Mendengar jawabannya yang tak berisi solusi, hati Tono belakangan kesal. "Kamu gimana sih Mat! Nggak bisa diajak curhat. Kasih solusi dong! Jawaban kamu malah bikin otakku geger. Tahu!"


"Iya. Tapi apa? Aku cuma tamat SMP. Kerja di darat, uangnya paling cukup buat makan aja. Buat lahiran apa?"


"Aduh Ton... Ton...


Yah kamu kerja serabutan aja. Kerjakan apa yang kamu bisa. Kuli bangunan kek, ngangkat galon kek, mulunglah, atau jadi tukang cuci gosok. Kalau semua itu kamu kerjakan dalam sehari, kamu bisa nabung buat lahiran."


"Gundulmu! Memangnya aku robot bisa ngelakuin itu semua dalam sehari? Pikir dong!" Jawabnya semakin kesal.


"Ton, kepalaku nggak gundul lho. Rambutku hitam lebat. Aku bahkan bisa direkrut jadi duta shampo lain lho." Balas Rahmat dengan nada ramah.


"Mat! Tolong deh jangan becanda. Aku pusing tahu!"


Karena Tono semakin kesal, Rahmat mulai khawatir kalau tekanan darahnya akan naik sehingga bisa memicu struk ringan. Maka dia mencoba serius dan memberinya sedikit saran.

__ADS_1


"Ton, saranku sih mending kamu ikut melaut aja. Pikirkan anak dan istrimu. Yah... aku mengerti itu tidak mudah. Kamu pasti ingin menyaksikan sendiri anak pertamamu lahir. Tapi kalau kamu nggak punya uang bagaimana? Kamu pasti tidak bisa membawa pulang anakmu dari puskesmas kalau kamu nggak bisa lunasi tagihannya. Iya kan? Tapi kalau kamu pergi melaut, kamu bisa pinjam duit ke kapten untuk biaya lahiran binimu. Lagi pula, bapak dan ibu mertuamu kan bisa nemenin istrimu lahiran. Jadi dia nggak akan kesepian. Percaya deh sama aku. Bagi wanita, percuma juga kalau kamu ada di sisinya tapi boke. Mendingan kamu tidak ada, tapi kiriman uang lancar. Coba saja jelaskan sama binimu semua kata-kataku ini, pasti dia setuju. Kalau nggak, kamu bisa makan gurita mentah sebagai taruhannya."


"Lho! Kok jadi aku sih?" Protes Tono.


"Lha iya! Masa aku! Kan yang doyan makan mentah itu kan kamu. Baiklah, daripada kita bicara panjang lebar, coba kasih tahu binimu semua yang kusampaikan tadi. Aku mau siap-siap dulu. Oh yah? Jadi jam berapa kita akan kumpul di pelabuhan?"


"Yah... nanti sekitar jam 10. Ya sudah. Aku coba cerita ke biniku deh." Jawab Tono lalu memutuskan telepon.


Tapi ketika dia berbalik badan, istrinya ternyata telah berdiri di belakangnya dan mendengar percakapannya sejak tadi. Dia berdiri kaku sambil memegang perutnya yang besar. Wajahnya muram dan matanya menahan tangis. Namun bibirnya sulit berkata sehingga dia pergi meninggalkannya dan kembali ke kamarnya.


Suaminya yang mengikutinya dari belakang tak sanggup berbicara dan hanya membiarkannya menyendiri sampai hatinya tenang.


Tak lama dia pergi menuju dapur dan memasak makanan yang dia bisa.


Dia membuka kulkas dan melihat isinya hanya ada dua butir telur dan seikat bayam. Dia termenung di depan kulkas yang sedang terbuka itu sambil bicara pada dirinya sendiri.


"Nggak ada isinya lagi.


Oh iya, terakhir kali aku kasih uang belanja seminggu yang lalu. Itu pun cuma seratus ribu.


Hah... sudah tiga bulan berlalu sejak keluar melaut. Semakin hari uang semakin habis karena tak ada uang masuk."


Setelah termenung beberapa saat, dia akhirnya mengambil telur dan bayam itu dan mulai mengolahnya.


Lalu ketika hendak menumis, dia kaget lagi saat melihat keranjang tempat bumbu juga kosong.


"Apa'an ini? Tidak ada bawang, cabai, ataupun tomat. Jadi gimana nih bayam?" Celotehnya.


Namun seolah tak habis akal, dia terpaksa merebus bayam itu tanpa irisan bawang sama sekali.


Usai itu, dia menggoreng telur yang telah dikocoknya dengan sedikit garam.


Lalu sewaktu semuanya sudah siap, dia mengambil piring dan bersiap-siap makan. Dia juga memanggil istrinya untuk sarapan bersama.

__ADS_1


"Susi....! Sus...! Ayo kemari kita makan! Sudah jangan sedih terus. Nggak baik buat calon anak kita. Susi...! Ayo buruan mumpung masih hangat nih."


Namun di dalam kamar, istrinya malah mengeluh saat mendengarkan perkataan suaminya. "Makan? Makan apa? Beras aja sudah habis. Mau makan sebutir nasih yang tersisa di penanak nasi? Tadi malam aku udah ngomong kalau beras habis. Tapi dia lupa. Apa mendadak dia terkena Amnesia?


__ADS_2