Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 48


__ADS_3

Di warung makan yang masih cukup ramai itu, tanpa sengaja Indra bertemu dengan satu teman sekampungnya, Manto. Indra yang tadinya bersantap di meja yang lain segera pindah ke mejanya begitu melihatnya.


"Kau! Ngapain kau di sini?" Tanya Indra.


Manto menengok dan seketika kaget. "Hei! Indra! Kau rupanya! Gimana kabarmu sekarang? Udah sukses kurasa kau yah. Perutmu aja buncit, tandanya kau udah sukses." Jawab Manto.


"Ah. Biasa aja. Aku nggak sukses. Masih sama kayak dulu, mengais-ngais rejeki seperti ayam yang lagi cari makan di tanah.


"Ah... Tak usah sok merendah kau kawan. Badanmu aja tinggi besar macam algojo kutengok."


"Eh... Bentar lagi kurusnya ini. Ini tinggi besar karena masuk angin kok." Jawab Indra.


"Oh, yah. Kau kerja apa sekarang?"


"Kerja di laut bro, jadi ABK cumi."


"Bah. Mantap kali si kawan. ABK banyaknya duitnya."


"Tergantung tangkapannya itu bro. Kau sendiri kerja apa?" Tanya Indra.


"Nggak kerja. Lagi pengangguran aku. Makanya, aku udah stress kali."


"Lho. Bukannya sebelumnya kau di Kalimantan yah."


"Iya. Tapi udah satu minggu ini aku di sini cari-cari kerjaan."


"Oh gitu. Di Kalimantan kau kerja apa bro?"


"Jadi antek-anteknya debt collector. Berat bro. Menagih-nagih hutang."


"Apanya yang berat? Tinggal ditagih aja kan sesuai tempo. Kalau nggak bayar, yah... bunga hutang makin mekar beranak cucu."


"Trus kalau semuanya nggak bisa bayar hutang, kami dapat gaji dari mana? Terpaksa kami bikin cara kasar waktu nagih hutang. Apapun alasannya, hutang harus dibayar pas jatuh tempo. Kalau nggak, kami acak-acak tempat usahanya."

__ADS_1


"Astaga. Ngeri kali permainan kalian. Kalau tempat usahanya kalian rusak, macam mana dia bisa bayar hutang kalau gitu?"


"Itu bukan urusan kami. Yang penting buat kami adalah uang, uang, dan uang. Mereka itu harusnya udah siap dengan segala akibatnya kalau terlambat bayar hutang. Tapi yang jadi masalahnya bukan itu yang membuatku berhenti jadi kaki tangan debt collector."


"Apa?"


"Aku takut kalau-kalau aku diintip, dan diintai di jalan buat balas dendam setelah mengacau tempat usahanya. 'Kan bahaya! Nyawaku jadi taruhannya."


"Iya juga sih."


Mereka berbicara cukup lama bahkan setelah menghabiskan makanannya. Lalu dengan ditemani beberapa batang rokok dan secangkir kopi, mereka masih terus mengobrol sampai tengah malam.


Sesekali mereka bersua foto dan mengirimnya ke sosial media masing-masing.


Barulah ketika waktu menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit, mereka menyudahi pembicaraan mereka setelah menyadari si pemilik warung yang telah bosan menunggu hanya mereka berdua yang tersisa, sedangkan tempat itu sudah sepi pembeli.


Si pemilik warung sudah sejak tadi menahan kantuk di kelopak matanya seraya menyandarkan punggungnya di dinding.


"Ya udah. Yuk cabut!"


Mereka pun segera beranjak dan merogoh saku masing-masing. Namun saat akan membayar, tiba-tiba temannya Manto bilang, "Kau traktirlah dulu aku. Banyaknya uangmu kerja di laut. Lagi pula jarang-jarangnya kita jumpa."


"Aduh.. Nggak bisa aku. Nggak ada uangku. Belum gajian kami."


"Alah. Banyak kali alasanmu. Bilang aja kau pelit."


"Nggak bro. Memang kami belum gajian."


"Ya sudahlah. Bayar masing-masing saja. Ujarnya bete.


Namun karena perkataan temannya itu, dia merubah pikirannya dan membayar makanannya. Sisa uang yang harusnya bisa dia pakai sampai gajian, habis malam itu juga demi pertemanannya.


Sewaktu membayar makanan itu, temannya Manto bukannya mengucapkan terima kasih tapi malah meledeknya, "Tuh kan, adanya uangmu. Kau bilang belum gajian, buktinya bisa traktir. Boleh nih pinjami aku uang."

__ADS_1


"Eh.... Ada-ada aja kau ini. Sudahlah! Kita pulang aja."


Mereka pun segera berpisah usai bertukar nomor ponsel.


Lalu sesampainya di rumah, Tono dan keluarganya sudah tertidur. Karena takut mengganggu, dia pun berjalan mengendap-endap, mengambil sarung dan tidur di ruang depan.


*********


Ke esokan harinya, Indra mendapat kabar kalau mereka akan menerima upah. Cepat-cepat dia bangun dari tempat dia tidur dan pergi menghampiri Tono yang sibuk di dapur menggendong anaknya sementara istrinya memasak.


"Ton, hari ini kita gajian. Aku baru dapat kabar dari Maribet. Mendingan kamu siap-siap deh sekarang. Aku cuma cuci muka dan sikat gigi aja lalu capcus. Buruan! Jangan lama!"


Mendengar itu, muka Tono yang tadinya terlihat stress seketika tertawa sumbringah. Sembari masih menimang-nimang anaknya, dia berbicara ditemani senyum menghibur istrinya, "Sus, ntar malam kita makan di luar yah. Udah lama kita nggak makan malam di luar."


"Nggak usah! Nggak perlu buang-buang duit. Kebutuhan banyak! Hutang juga banyak! Makan di rumah saja. Nggak usah sok-sok'an gaya-gaya'an makan di luar, tapi besok pinjam sana sini."


"Ga perlu sewot begitu kali Sus jawabnya. Bicara santai aja. Nggak usah khawatir. Kita masih bisa bayar hutang kok meski sudah makan di luar. 'Kan hanya makan di luar, bukan makan di restoran ataupun di cafe."


Sejenak istrinya dilanda kebingungan saat mendengar kata-kata itu. "Maksudmu gimana sih?" Tanyanya sambil mengerutkan dahinya.


"Makan di luar 'kan bisa makan di pinggir jalan Sus. Beli dari pedangan yang jualan pakai gerobak dorong. 'Kan seru. Kayak kita pacaran dulu." Jawabnya sambil menebar senyum.


"Aku heran yah. Hidup kok nggak ada peningkatan sama sekali. Pacaran, makan di pinggir jalan, udah nikah dan punya anak, masih juga makan di pinggir jalan. Kenapa nggak sekalian aja makan di pinggir kali atau di pinggir jurang? Bisa nggak sih sekali aja merasakan kenikmatan hidup? Nggak bisa di cafe, minimal di warung makan yang sedikit lebih bagus!" Gerutu istrinya.


Karena semakin kesal, dia mematikan kompor lalu pergi meninggalkan masakannya yang masih setengah matang.


"Yah dia ngambek. Perempuan memang mudah sekali ngambek. Apa aku salah bicara atau aku yang terlalu polos?"


Tak lama, Indra memanggilnya dari ruang depan, "Ton, udah siap belum? Ayo cabut!"


Namun Tono masih menggendong anaknya. "Iya. Iya tunggu!" Serunya lalu pergi menghampiri istrinya di kamar.


"Sus. Aku pergi dulu yah. Nanti kita bicara lagi." Ujarnya lalu meletakkan anaknya di tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2