
Selama satu minggu dia bekerja di ladang membantu ibunya meski terkadang bermalas-malasan. Karena selama satu minggu itu, dia tidak pernah punya sepeser uang pun, karena semua hasil ladangnya habis untuk biaya hidup sehari-hari. Setiap kali Indra meminta uang saku dari ibunya, Ibunya akan selalu bilang, "Masih untung kau bisa kukasih makan. Tapi coba lihat bapakmu! Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali. Jangan ikuti haluan teman-temanmu yang suka gentayangan itu. Kalau kau mau uang saku, kerja!"
Lalu tiba-tiba saja ponselnya berdering saat dia sedang mendaki sambil memundak sekarung biji-biji kopi hasil dari ladangnya. Cepat-cepat dia menurunkan karung itu dari pundaknya karena buru-buru menjawab telepon itu. Namun karena dia menghempaskan karung itu terlalu kuat ke tanah, karung itu pun robek dan isinya keluar berserakan di tanah.
Ibunya yang berjalan di belakangnya langsung memarahinya,
"Lihat! Biji-biji kopinya sudah berhamburan semua! Apa nggak bisa kau turunkan karungnya pelan? Hah? Siapa yang menelepon itu?"
"Si Soni."
"Mau bilang apa dia?"
"Mana kutahu! Dari tadi pengen jawab, emak terus mengomel."
"Ya sudah jawablah!"
Sementara dia menjawab telepon itu, ibunya memunguti biji-biji kopi yang berserakan di tanah sambil terus mengoceh, "Entah apa yang bisa dikerjakan anak ini. Meletakkan ini saja tidak becus! Tapi kalau kerja di ladang orang, rajinnya..... minta ampun."
"Apa katanya?" Tanya wanita itu.
"Dia bilang ada kerjaan pembangunan jalan mak."
"Dimana?"
"Pembangunan jalan ke sawah."
"Kapan?"
__ADS_1
"Mulai besok mak."
"Ya sudah. Cepat punguti biji kopi ini. Hari sudah hampir gelap. Kamu masih harus mengangkat air."
"Iya. Iya." Jawabnya kesal dengan muka bete.
"Cerewet banget." Gerutunya pelan.
*********
Malam harinya, saat dia dan ibunya sedang bersantai menonton TV, tiba-tiba muncul sebuah iklan film hollywood tentang alien.
"Wah, kayanya filmnya seru. Nanti aku tonton dulu ah!"
Namun sewaktu mengatakannya, ibunya protes secepat kilat, "Tidurlah! Besokkan kerja!"
"Besok kau mau kerja. Film itu tayang jam 10 malam. Mau jam berapa lagi matamu tidur? Hah?"
Tapi anak itu tetap ngeyel dan menyembunyikan remote TV agar salurannya tidak bisa diganti.
Namun seperti tak mengenal watak ibunya, dia tetap tidak mengaku meskipun ibunya telah berkali-kali menanyainya.
Akhirnya karena kesal, ibunya pun mencabut kabelnya dan TV pun mati. Lalu dia pergi ke kamar dan di sana dia tertawa cekikikan. "Hahahahhaha.... Nggak bisa nonton kan jadinya? Emak dilawan sih. Awas! Kalau sampai aku mendengar suara TV, akan kujitak kepalanya sampai mengepul."
Indra yang kesal pun segera pergi ke kamarnya dan tidur. Tapi di ponselnya dia telah menyetel alaram agar dia bangun di jam itu. Dia yakin ibunya pasti sudah tidur pada jam itu.
Sampai waktu akhirnya menunjukkan pukul 10, Indra berjuang mempertahankan kesadarannya, menahan matanya agar jangan terlelap. Mulai dari melakukan olahraga mata, bermain game, sampai mendengarkan musik berat menggunakan headset.
__ADS_1
Lalu ketika waktu yang ditunggu-tunggu tiba, dia segera bangun, menyibakkan selimutnya dan beranjak. Melangkah pelan-pelan, dan menyalakan TV.
Namun sayang, saat TV itu menyala, suara iklan yang menggelora seketika menggemparkan keheningan malam. Dia lupa menyetel volumenya sebelum kabelnya dicabut.
Maka ibunya yang tadinya hampir terlelap, seketika tersadar dan membuka matanya lebar-lebar lalu menegurnya dengan keras dari dalam kamar.
"Hei! Apa itu Indra? Siapa yang menyuruhmu menyalakan TV?"
Karena terlanjur ketahuan, dia tidak bisa lagi mengelak mencari alasan.
"Tunggu bentar mak." Ucap Indra yang telah mengambil posisi duduk terbaik sambil memfokuskan mata dan otaknya pada film yang sedang tayang.
"Memang susah sekali kau dikasih tahu yah!? Terserah kau sajalah! Menonton saja sampai puas supaya tagihan listrik kita bengkak macam kepalamu!"
Karena hal itu, ibunya jadi sulit memejamkan mata. Sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam, mata wanita itu masih segar seperti di pagi hari karena suara TV.
Wanita itu pun akhirnya bangun untuk mematikan TV karena selama dia mengoceh dari dalam kamar, Indra tak sedikit pun mengubrisnya.
Tapi ketika sampai di situ, dia malah melihat Indra tengah tertidur pulas sampai mulutnya menganga lebar seperti sumur yang dalam. Seketika itu tekanan darahnya naik dan ingin segera ditumpahkan. Dia ingin marah dan menjitak kepalanya. Tapi karena sudah tengah malam, dia mengerem nada suaranya dan berbicara dengan penuh tekanan,
"Inilah yang buat darah tinggiku kumat. Bukannya kau yang menonton TV, malah TV yang menontonmu. Pembayaran listrik bisa bengkak kalau begini terus.
Hei, bangun. Bangun. Pindah ke kamar sana!"
Sementara dia berjalan sempoyongan ke kamarnya, ibunya terus mengoceh tiada henti sampai akhirnya capek sendiri dan tidur.
"Sudah tahu besok mau kerja, tapi matanya masih dipaksa nonton TV. Taruh saja korek api di kelopak matamu supaya tetap melek. Tak ditonton pun nggak rugi kan? Tapi kalau matamu kurang tidur, kesehatanmu pun terganggu. Sudah besar tapi susah dikasih tahu. Jangan jadi acara TV yang menguasaimu. Jelas-jelas matamu sudah ngantuk, tapi masih kau tahan-tahan demi film itu. Ah! Susah sekali dikasih tahu. Pusing! Pusing aku kalian buat!"
__ADS_1
**********