Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 28


__ADS_3

Sesampainya di sana, Indra segera menghubungi kakaknya, memberitahu kalau dia telah kembali dengan selamat dan tiba di pelabuhan Jakarta. Dia juga mengajaknya untuk bertemu malam harinya.


Setelah Indra dan para ABK lainnya selesai menurunkan semua barang, mereka segera pulang. Indra menumpang di rumah temannya sampai seluruh perhitungan gaji mereka selesai.


Lalu sewaktu kakaknya telah pulang kerja, Indra dan satu temannya sesama ABK, menemui kakaknya di tempat kosnya.


Dia senang karena adiknya baik-baik saja. Namun dia masih belum percaya kapal tempatnya menangkap cumi adalah legal. Maka dia meminta adiknya menunjukkan identitasnya bekerja sebagai ABK.


"Ini semua buku dan surat-surat keberangkatanku sebagai ABK. Nama PT nya pun lengkap, dan pelabuhannya ada di Jakarta Utara, di sana kapal-kapal cumi berlabuh." Ujar Indra seraya menyerahkan buku identitas dan berkas-berkas tugasnya.


Meski kakaknya telah melihat semua buku identitasnya, tetap saja hatinya masih belum yakin sepenuhnya.


Kemudian Indra mengeluarkan segepok uang pada kakaknya.


"Tolong simpan." Ucapnya.


"Banyak sekali. Apa ini gajimu seluruhnya?" Tanya kakaknya seraya mengambil uang itu sekaligus heran adiknya menghasilkan uang banyak.


"Tidak. Itu hanya sebagian dari hasil tangkapanku. Sebagian sudah kupakai, dan sebagain lagi dipotong hutang ke kantor."


"Jadi berapa upahmu seluruhnya selama 8 bulan?" Tanya kakaknya.


"Tergantung besarnya hasil tangkapan. Kalau banyak, duitnya banyak. Tapi kalau sedikit, yah sedikit."


"Iya. Jadi hasil tangkapanmu berapa?"

__ADS_1


"Yah... lebihlah 30 juta."


"30 juta lebih? Hanya 8 bulan?" Tanyanya heran. Kemudian dia diam sejenak sekaligus berpikir, "Satu tahun saja belum tentu aku bisa menabung sebanyak itu. Seandainya pun aku menabung satu juta setiap bulan, satu tahun masih dua belas juta. Itu pun aku sudah berjuang melilit perut dan leherku karena gaji kecil. Menahan selerai dan keinginan mata agar bisa berhemat.


Tapi dia bisa menabung lebih dari sepuluh juta hanya dalam delapan bulan.


Andai setiap kali dia melaut dan bisa menabung dua puluh juta, pasti sudah bisa membangun gubuk kecil di kampung. Kalau perempuan diterima nggak yah jadi ABK?"


Melihat kakaknya bengong, Indra menepuknya dan bilang, "Hei! Kenapa malah berangan-angan? Kau heran yah karena uangku banyak?" Lalu dia tertawa membanggakan diri, "Hehehehe..."


"Nggak juga. Jadi aku hanya menyimpan sepuluh juta saja? Tanpa embel-embel salam tempel? Bagi-bagi dong sedikit hasilmu selama melaut."


Maka Indra mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan memberikannya pada kakaknya. "Nah! Ini uang jajanmu."


"Kok cuma segini? Pelit banget sih."


"Ngapain?"


"Biasalah. Jalan-jalan."


"Aduh... mending tidak usah. Boros sekali. Lebih baik uangnya disimpan. Kau di sini saja." Cegat kakaknya.


"Nggak bisa. Aku udah janji."


Mendengar itu, kakaknya bertanya pada teman adiknya yang duduk di sebelahnya, "Memangnya kalian mau ngapain ke Jawa?"

__ADS_1


"Ini ka. Katanya si Indra pengen jalan-jalan saja. Dia yang maksa pengen ikut."


"Ke mana? Ke rumahmu?" Tanya kakaknya.


"Iya."


"Aduh.... nggak! Nggak usah! Kau ini macam banyak duit saja. Ongkos kesana sudah berapa? Belum lagi uang makan selama di perjalanan. Trus uang makanmu selama di Jawa gimana? Mau gratis? Makan nasinya? Jangan membebani orang. Dia juga pergi melaut untuk membantu ekonomi bapak emaknya. Kalau kau numpang makan di rumahnya lagi, kan pengeluaran mereka bertambah. Pokoknya nggak bisa! Jangan susah kau diatur!"


"Ah... pokoknya kami pergi. Besok kami akan pergi. Lagi pula kan aku nggak minta uang darimu untuk ongkos. Jadi kenapa kau yang keberatan?"


"Tapi! Lebih baik uang itu dikirim ke kampung."


"Uang yang sepuluh juta itu saja kirim ke kampung."


Lalu tak lama kemudian dia beranjak dan bilang, "Baiklah. Aku mau pergi. Teman kami sudah menunggu. Kami masih ada urusan lain yang harus diselesaikan."


"Hei! Nggak usah pergi!" Cegat kakaknya.


"Kasih tahu ke emak kalau aku kirim duit. Atau kirim saja besok uangnya ke kampung." Ujar Indra kemudian berjalan ke luar.


Kakaknya tak dapat mencegahnya lagi, dan hanya berguman, "Dasar! Memang susah sekali anak ini dibilangin."


Segera setelah Indra pergi, dia langsung menghubungi ibunya dan memberitahu tentang kepulangan Indra dan uang yang telah diberikannya.


Ibunya senang dan takjub, tak menyangka anaknya bisa mengirimnya uang banyak. Karena takjub dengan jumlahnya, ibunya tak menanyakan berapa sebenarnya penghasilan anaknya selama delapan bulan melaut. Dia hanya bertanya apakah dia bekerja di kapal legal atau tidak. Sehingga hatinya bisa tenang dan tidak berprasangka buruk lagi, mengingat dia sering mendengar kapal-kapal asing penangkap ikan diledakkkan ataupun ditenggelamkan di laut.

__ADS_1


Sementara dia berbicara dengan ibunya di telepon, Indra telah berkumpul dan bersenang-senang di rumah salah satu temannya di pinggiran rel kereta api.


Setelah itu dia menyimpan uang itu dengan begitu tersembunyi sebelum dikirim esok harinya.


__ADS_2