
*******
Ketika mereka sampai di tempat kerja dan belum sempat duduk ataupun menyerahkan tanda terima juga invoice, sang atasan cepat-cepat menemui mereka dan memerintahkan mereka segera mengepack barang yang harus dikirimkan hari itu juga. Pesanan itu adalah pesanan dadakan dari pelanggan yang cukup jauh dari sebelumnya.
Saat mereka tiba, waktu sudah menunjukkan jam 3 lewat. Sementara, mereka selesai mengemas barang-barang itu sekitar jam 4 lewat. Sedangkan jam kerja selesai pada pukul 6 sore.
Menyadari mereka akan bekerja lembur, diam-diam atasannya memanggilnya tanpa karyawan yang bersamanya tahu.
Kemudian atasannya itu memberinya semacam uang lembur, yang mana karyawan baru belum berhak mendapatkan jatah uang lembur.
*********
Lalu ketika semuanya sudah selesai, mereka pun segera berangkat dan mengantarkan barang itu tepat waktu.
*********
Hari demi hari Indra melakukan pekerjaannya dengan rajin sampai akhirnya dia mulai bisa mandiri.
Hingga setelah beberapa minggu menjalani masa training, atasannya memberinya sepeda motor untuk dia pakai sehari-hari, pergi dan pulang kerja, selain mengantar barang.
Sewaktu atasannya hendak memberinya gaji di akhir bulan, dia terkadang melebihkannya sedikit. Namun itu diberikan ketika tidak ada karyawan lain yang melihatnya, agar mereka tidak cemburu.
"Om lebihkan sedikit dari gaji kamu, supaya kamu bisa beli baju untuk dipakai beribadah." Tuturnya sambil memancarkan senyuman yang tulus.
"Makasih yah om." Jawabnya tertunduk tak enak hati.
Juga sewaktu perayaan hari besar tiba, dia sering mendapatkan makanan dari atasannya.
Namun sayang seribu sayang, seraya waktu terus berlalu dan Indra mulai mengenal tempat tinggalnya, mengenal berbagai lika-liku jalanan dan mendapatkan banyak teman baru, kerajinan dan semangat kerjanya mulai pudar, sehingga kebaikan atasannya itu tidak bisa dibalas dengan baik.
Terkadang dia mulai bolos kerja. Sementara yang kakaknya selalu tahu, dia tidak pernah bolos kerja karena setiap pagi dia selalu pamit bekerja.
Hingga pada suatu malam, Indra dan teman-temannya yang tinggal di pinggiran rel kereta api, mengajaknya pergi menonton konser.
Ketika mereka sedang asyik berjoget, tanpa sadar dia menyenggol seorang anak tentara. Seketika itu anak tentara itu langsung mengamuk dan mulai berkelahi dengannya sekalipun dia sudah meminta maaf.
__ADS_1
Teman-temannya yang melihat kegaduhan itu pun ikut bertindak membelanya, begitu juga dengan orang-orang yang bersama dengan anak tentara itu, juga membela temannya. Hingga pada akhirnya perkelahian yang besar pun tak dapat terelak lagi.
Tempat itu menjadi kacau sampai akhirnya beberapa polisi datang mengamankan mereka dan menangkap mereka semua.
Indra dan teman-temannya di penjara selama beberapa hari. Namun kakaknya tidak tahu tentang hal itu. Karena sejak mendapat banyak teman, Indra sering pulang terlalu malam, bahkan tidak pulang.
Karena itulah selama 3 hari kakaknya menduga kalau Indra mungkin menginap di rumah temannya.
Atasannya pun tak memberinya kabar bahwa adiknya sudah tidak masuk kerja selama 3 hari. Karena dia menduga Indra mungkin sakit.
Tapi selama 3 hari itu, salah satu teman Indra selalu datang ke kosnya untuk menemui kakaknya, menyampaikan kabar bahwa kini Indra berada di balik jeruji besi dan tak bisa bebas tanpa jaminan.
Tapi selama berjam-jam dia menanti di luar gerbang setiap hari, dia tidak pernah berjumpa dengan kakaknya sebab selama itu dia selalu lembur.
Barulah ketika kakaknya pulang kerja lebih awal, anak remaja itu bisa menghampirinya saat dia hendak membuka gerbang kosnya.
"Kak." Sapanya ragu-ragu.
"Yah, ada apa?"
Seperti terlempar bongkahan es sebesar 20 kg, kakaknya kaget sampai mau mati rasanya sewaktu mendengarnya.
"Bagaimana mungkin? Kok bisa?" Tanyanya tak percaya.
"Iya kak. Aku nggak bohong. Mendingan kita cepat-cepat ke sana ka."
"Tapi sudah berapa lama dia dipenjara? Gara-gara apa?" Tanyanya lagi.
Maka anak remaja itu pun menjelaskan semuanya selama mereka pergi ke kantor polisi berjalan kaki.
Seraya mendengarkan cerita anak remaja itu, perasaannya campur aduk. Sedih, takut, juga marah. Namun yang lebih besar adalah marah bercampur geram.
Maka sepanjang jalan, dalam hati dia sudah merangkai kata-kata kemarahan yang bagaimana yang akan dia tumpahkan nanti.
********
__ADS_1
Ketika sampai di sana, dia segera melapor kepada petugas polisi. Lalu tak lama, dia pun dibawa menemui adiknya.
Dia melihat penampilan adiknya kini tampak seperti gembel yang yatim piatu.
Di situ Indra menangis seperti menyesali perbuatannya. Tapi karena kemarahan sudah terlanjur berkobar dan tak bisa lagi ditahan, kakaknya memukul kepalanya sampai empat kali dengan tangannya dan bilang, "Kenapa kau bandal sekali? Kenapa susah sekali kau diatur? Hah? Siapa yang mau kau andalkan makanya sok jagoan seperti ini? Hah? Tahu diri! Kau itu anak orang susah! Makan pun susah! Jadi jangan buat onar! Kalau dinasehati, mulutmu ini jangan melawan! Bikin malu kau tahu!"
Selama dia memarahinya, tangannya tak berhenti memukul kepalanya. Bahkan meski teman-teman satu selnya membelanya dan bilang kalau dia tidak bersalah, tetap saja kakaknya memukulnya dan bilang, "Kalau dia nggak keluar-keluar malam, nggak begini jadinya! Sudah! Mendingan kau di penjara saja! Nggak usah dibebaskan! Biar tahu rasa!"
Tapi Indra selalu menangis memohon. Akhirnya dia meninggalkannya dan menemui petugas untuk menyelesaikan masalah itu. Petugas itu juga menjelaskan padanya kronologi kejadiannya juga tentang si anak tentara yang mau memaafkannya.
Juga karena Indra masih di bawah umur, dia pun bisa dibebaskan setelah dijamin. Tapi sebelum meninggalkan tempat itu, petugas memberinya banyak nasehat agar dia menjadi anak yang baik dan tak keluyuran malam-malam. Sebab banyak hantu penggoda biasanya bergentayangan di saat malam.
Waktu itu, karena sangat marah, kakaknya tidak menyadari kalau teman-teman adiknya yang lain ikut menanti kebebasannya di luar. Dua di antaranya adalah remaja perempuan.
Mereka juga ikut berjalan pulang bersamanya.
Lalu sewaktu sampai di persimpangan gang menuju kos nya, tiba-tiba adiknya mengatakan kalau dia ingin pergi ke suatu tempat untuk buang sial bersama teman-temannya.
Mendengar itu, emosi kakaknya pun memuncak lagi.
"Apa? Ini sudah jam 9 malam dan kau baru saja bebas! Sudah lupa apa yang dikatakan polisi itu? Hah?"
"Sebentar saja. Jam 10 aku 'kan langsung pulang."
"Perjalanan ke sana saja sudah sekian menit. Belum lagi perjalan pulang. Mau berapa lama kalian mandi di laut? Ini sudah malam. Pokoknya nggak bisa! Nanti kau hanyut. Malam-malam ombaknya besar. Kalau dikasih tahu jangan melawan!"
"Sebentar saja. Kalau kau izinkan dari tadi, kami mungkin sudah sampai. Selama kau mengoceh, sudah berapa menit yang terbuang?" Ucap Indra.
Tak lama teman-temannya juga turut mendukungnya. "Iya kak. Sebentar saja. Kami janji akan pulang cepat."
Dia pun semakin terdesak dan tak habis pikir melihat kelakuan anak-anak remaja itu khususnya remaja perempuan yang tidak ada takut sama sekali.
Maka karena terus-menerus didesak, akhirnya dia pun dibiarkan pergi bersama teman-temannya meski menahan perasaan kesal. Karena sebagai kakak, kata-katanya jarang sekali direspek.
"Awas! Kalau sampai lewat jam 10 tidak pulang, akan kuhajar! Dan kalau sampai tertangkap polisi karena berulah lagi, akan kubiarkan! Bukan cuma kau yang harus diurus! Gara-gara kau, aku sampai malu di depan temanku." Tuturnya dalam hati seraya menahan amarah dan mencoba melembutkan mukanya di depan teman kosnya yang juga ikut menemaninya ke kantor polisi.
__ADS_1