Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 59


__ADS_3

Di kursi itu, dia menatap ke langit malam dan mengeluh,


"Aduh... beginilah rasanya kalau mata udah kabur. Mau lihat bintang saja susah. Udah kayak penampakan ketombe aja."


Dia menyandarkan kepalanya ke dinding dan terus menatap bintang hingga semakin lama angin malam membuat matanya lelah sampai akhirnya tertidur.


Udara malam yang hangat seolah membius matanya, membuatnya tidur nyenyak sampai membuat kulitnya mati rasa dari gigitan si penghisap darah.


Si pemburu darah terbang saling bergantian menghisap mangsa yang tak ada perlawanan itu. Merdeka dan puas!


Barulah saat waktu hampir subuh, Tono yang terbangun karena hendak kencing, tak sengaja melihat pintu terbuka.


Perasaannya seketika terguncang melihat apa yang terjadi. "Apa rumahku dimasuki maling?" Tanyanya dalam hati.


Pelan-pelan dia kemudian berjalan mendekati pintu sambil memegang sapu. Tangan dan bahunya tampak sangat waspada dan siap melemparkan pukulan kapan saja diperlukan.


Tapi saat dia mencapai pintu, tangan yang tadinya kuat seketika menjadi lemas.


"Oalah.... Rupanya si Indra. Ngapain nih bocah tidur di sini? Kayak nggak punya kamar aja." Celotehnya.


Dia pun menjatuhkan sapu yang dipegangnya itu ke lantai lalu berbalik dengan muka kesal. "Ada-ada aja nih bocah. Bikin jantung copot aja."


Namun karena dia melihatnya tidur dengan mulut sedikit terbuka, pikiran jahil pun seketika terlintas dibenaknya. "Kerjain ah... Momen langka begini nggak boleh terlewat begitu saja."


Maka dia pergi ke dapur, mengambil sejumput garam dan kaldu bubuk lalu kembali. Dia berjalan mengendap-endap agar sasarannya tidak bangun.

__ADS_1


"Satu...., dua..., ti...."


Tapi... pada hitungan ke tiga seekor nyamuk tiba-tiba saja terbang ke arahnya dan berdengung hebat di sekitar telinganya.


Spontan tangannya pun sibuk mengusir menghalaunya hingga tanpa sengaja serbuk gurih di tangannya jatuh ke atas muka Indra dan membuatnya bangun.


"Apa'an nih?" Gerutunya sambil menepis-nepis mukanya.


Lalu dia mengambil serbuk yang tersisa di mukanya itu dan memperhatikannya dengan cermat. "Kok bentuknya kayak garam yah?" Tanyanya sementara Tono hening dan nampak bodoh.


Kemudian dia mencicipinya dan kaget begitu tahu rasanya. "Mm! Asin!" Tatapan maut seketika membara menghantam Tono selama dua puluh detik. Mengintimidasinya lalu bertanya dengan tegas, "Kau mau coba-coba ngerjai aku yah?"


Namun meski sudah tertangkap basah, Tono tetap berupaya mengelak. "Nggaklah. Aku bangun tuh gara-gara mau kencing. Bukan buat ngerjai kamu."


"Aku serius 'Ndra."


"Trus ngapain kamu di sini? Toilet kan di sana. Bukan di sini. Bilang aja kau mau jahilin aku. Iya kan? Kamu pasti mau masukin garam ini ke mulutku kan?"


"Nggak 'Ndra. Nggak mungkinlah aku begitu. Aku kan temanmu yang paling baik. Mana ada teman baik yang begitu."


"Tono... Tini... Nggak usah banyak alasan. Sudahlah! Aku mau lanjut tidur." Lalu pergi meninggalkannya dan kembali ke tempat tidurnya. Dia menarik selimut lalu tidur.


Sedangkan Tono yang tertangkap basah meneruskan tujuannya semula ke kamar mandi.


**********

__ADS_1


Lalu saat hari mulai terang, Tono yang sudah bangun dari tadi itu mulai sibuk menjaga anaknya selama istrinya memasak. Namun meski dengan seribu jurus andalan, bocah yang digendongnya itu tak bisa diam dan terus rewel membuat kemarahan istrinya meledak ditambah cipratan minyak panas yang mengenai tangannya saat menenggelamkan ikan ke dalam belanga panas.


"Bisa nggak sih ngurusin anak? Diemin anak aja susahnya setengah mati." Bentak istrinya.


"Astaga Susi...galak amat sama ayang." Jawabnya lembut.


"Coba lihat! Jangan-jangan tuh anak ngeluarin formula T."


"Formula T apa'an maksudnya Sus?"


"Formula E. Formula berwarna kuning dengan aroma belerang yang kuat. Coba perhatikan popoknya. Mengerti kan maksudku?"


Tono pun sadar apa yang dia maksud dan segera membuka popok anaknya.


Namun sewaktu itu dibuka dengan hati-hati, salah satu kaki anaknya tiba-tiba menendang mukanya. Tendangan satu arah itu tanpa sengaja mengikutsertakan sebagian partikel formula T itu menciprat di mukanya tepat di atas batang hidungnya dan dahinya.


Suara teriakan pun spontan terlepas bercampur suara tawa dari Susi yang pecah. Kedua suara yang berbunyi secara bersamaan itu membuat Indra bangun dari mimpi indahnya.


Dengan kepala yang masih terasa berat dia bangun sambil mengatur fokus matanya sambil sesekali menguceknya. "Jam berapa sekarang?" Ucapnya dengan suara yang masih berat.


Dia pun mengambil ponselnya dan melihat. "Astaga! Sudah hampir jam 9. Aduh gawat nih." Ucapnya kalang kabut.


Dia pun bergegas beranjak lalu berlari ke kamar mandi dan mandi terburu-buru.


Lalu setelah melilitkan handuk di pinggangnya dia keluar sambil mengoceh, "Gara-gara mimpi ketemu bidadari dari negeri imajinasi, aku sampai telat bangun. Bisa-bisa si Jack marah nih gara-gara aku telat."

__ADS_1


__ADS_2