
Tak lama suara notifikasi berbunyi di ponsel Indra.
"Dah sampe nih nomor rekeningnya." Gumamnya. Segera dia pergi menemui istri temannya dan memberikan nomor rekening itu, juga uang yang hendak dia setorkan.
"Ka, tolong setorkan uang ini ke nomor rekening ini yah. Terima kasih."
"Waduh... Banyak amat nih Indra. Wah... Saya harus pakai tas besar ini."
"Ah, kakak ini. Berlebihan sekali. Tas kecil juga bisa kok."
"Mmm... iya. Iya. Becanda."
Setelah itu dia pergi ke bank. Di jalan, dia berjalan sangat hati-hati dan menjaga tasnya dengan baik. Rasa cemas bergejolak dalam dirinya.
Barulah ketenangan mulai menyejukkan dirinya ketika bank itu sudah di depan mata.
"Akhirnya sampai juga."
Begitu masuk, dia mengambil formulir, mengisinya, dan mengambil nomor antrian, kemudian duduk mencari baris kursi yang kosong.
Dia hanya diam sembari menanti nomor urutnya dipanggil.
Lalu setelah tiga puluh menit menunggu, nomor urutnya pun akhirnya dipanggil. Segera dia beranjak menuju teller lalu menyetorkan uang bersama dengan formulirnya.
"Saya hitung yah bu." Ucap si teller sambil mengambil uang di depannya.
Si teller menghitung segepok uang itu dengan pergerakan jemarinya yang lincah lalu bekerja dengan komputernya.
__ADS_1
Sekitar lima menit berlalu, si teller pun menyerahkan salinan formulir setoran itu padanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama mba." Balasnya yang turut melemparkan garis senyumnya.
Setelah itu dia pergi dengan perasaan lega karena tidak ada lagi yang perlu dia jaga.
Sewaktu berjalan-jalan di pasar, tanpa sengaja matanya melihat sebuah tas cantik nan berkilau terpajang di atas etalase.
Sejenak dia terdiam berpikir, "Aku beli nggak yah? Aku sih udah punya tas. Tapi kan masih satu! Temanku bahkan sampai koleksi tas. Satu lemari isinya tas semua. Hah... Jadi istri seorang ABK, hidup kok susah-susah amat yah. Pengen bergaya pun susah. Mau eksis di media sosial pun susah. Apa yang mau dipamerin? Keranjang belanja? Popok bayi? Apa belanga hitam? Hidup kok ga ada istimewanya sekali. Hadeh... Hadeh... Nasib apes nikah sama tuh orang. Padahalkan aku dulunya primadona. Primadona di kelas, di sekolah, juga di kampung. Tapi kenapa aku bisa jadi istrinya dia sih?" Keningnya mengerut diikuti lirikan bola mata ke atas.
"Apa jangan-jangan dia pakai pelet yah memikatku waktu itu? Makanya aku bisa langsung tergoda dan jatuh cinta? Mahar saja dikasih cuma satu juta, plus setangkai bunga mawar yang tiga hari langsung layu. Malah di dalamnya ada anak lebah lagi. Untung hidungku nggak disengat waktu cium aromanya. Kalau nggak? 'Kan malu! Kecantikanku hilang di depan matanya. Mau taruh di mana harga diriku sebagai primadona? Untung saja lebahnya keburu terbang waktu aku bersin-bersin. Memanglah, itu orang nggak pernah tulus mencintai. Selalu saja membahayakan. Tak seperti suami temanku, dia dikasih mahar puluhan juta! Kan aku minder dong kalau dicap sebagai cewek yang murah!" Gumamnya lagi dalam hati.
Karena diam cukup lama, si penjaga toko yang sejak tadi melihatnya akhirnya menegurnya, "Mba, kalau bengong jangan di jalan. Gangnya sempit. Dari tadi orang-orang jadi susah lewat."
"Ha?! Apa?" Tanyanya planga plongo lalu melihat ke sekitarnya. Mukanya tersipu malu. Namun untuk menutupinya, dia masuk ke toko itu lalu melihat-lihat tas-tas yang dipajang.
"Nggak juga mba. Harganya relatif kok. Masih amanlah di kantong. Ini kan pasar mba. Kalau saya jual tas yang harganya sampai jutaan, siapa yang beli nanti? Wong pelangggan saya kebanyakan ibu-ibu rumahan kok. Bukan ibu-ibu sosialita."
"Oh, begitu yah bang." Kemudian dia mengambil tas cantik di atas etalase itu dan menanyakan harganya. "Kalau ini bang berapa harganya?"
"Dua ratus lima puluh ribu rupiah saja mba."
"Hah?! Apa? Mahal amat!" Jawabnya kaget.
"Itu udah murah mba. Itu produk dalam negeri lho. Buatan tangan. Kualitas terjamin. Talinya kokoh. Bahannya semi kulit gitu mba. Pokoknya mba nggak kalah gaya deh kalau pakai tas ini ke arisan ataupun kondangan."
"Idih. Pintar amat abang ini dagang lho. Meyakinkan sekali kata-katanya supaya barangnya dibeli." Ledeknya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi memang bagus sih tasnya." Sambungnya lagi.
"Itu limited edition mba. Percaya deh. Hanya diproduksi sedikit. Itupun dikirim ke luar kota. Mba nggak perlu takut kalau tasnya akan sama dengan ibu-ibu yang lain."
Seketika pendiriannya mulai terganggu, dan otaknya mulai menghitung uang belanja yang dibawanya.
"Beneran bang itu limited edition dan tersisa satu?" Tanya menginginkan kepastian.
"Iya mba."
"Boleh juga tuh aku ambil. Biar gayaan dikit di kumpulan arisan. Masa aku doang yang nggak ganti-ganti tas!
Udahlah, ambil aja deh. Nanti aku tekan uang belanja yang lain untuk menutupi ini." Pikirnya.
"Jadi gimana mba?" Tanya si pemilik toko.
"Nggak kurang lagi itu bang harganya? Diskonlah. Barang terakhir biasanya ada diskon."
"Ya udeh deh. Kurangin lima ribu aja mba. Harga modal aja lah, supaya ada perputaran uang."
"Cuma lima ribu?" Tanyanya tak percaya.
"Itu harga modal mba. Aku nggak bisa kurangi lagi. Nanti ga ada untung aku."
"Mmm... Ya uda deh. Bungkus aja bang."
Si pemilik toko sangat senang barangnya laku setelah seharian berjaga.
__ADS_1
Lalu setelah membungkus tas itu ke dalam plastik, si pemilik toko mengibas-ngibaskan lembaran uang yang diperolehnya itu ke barang dagangannya yang lain sambil berkata, "Laris! Laris! Laris!"