Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 4


__ADS_3

Perjalanan ke sana hanya memakan waktu setengah jam.


*********


Akhirnya setelah menahan dinginnya angin di pagi hari, mereka sampai di pelabuhan lalu membeli tiket. Setelah itu mereka duduk di ruang tunggu sementara menunggu penumpang penuh dan kapal siap jalan.


Dua puluh menit waktu pun berlalu dan klakson bersuara besar pun dibunyikan agar semua penumpang bersiap-siap. Kedua pemuda itu segera menenteng tas mereka dan memasuki kapal lalu duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya.


Itu adalah pertama kali baginya mengarungi luasnya danau demi mencari uang receh. Perasaannya begitu campur aduk dan susah diartikan. Tapi agar itu tidak kentara di mata temannya, dia beranjak dari kursinya dan naik ke atas kapal.


Di situ pandangannya semakin luas. Pelabuhan dan pemandangan yang tadinya tampak jelas, perlahan memudar dan tak terlihat lagi seraya kapal menjauh.


Tak ada mimpi khusus yang terlintas di kepalanya selain hanya melihat pemandangan di sekitarnya dan air yang bergelora yang ditimbulkan oleh mesin kapal.


Namun karena udaranya semakin dingin dan angin semakin kencang, dia kembali ke dalam dan duduk di bangkunya, meletakkan ranselnya di pangkuannya lalu bermain game di ponselnya. Sedangkan temannya tertidur pulas akibat tidak bisa tidur semalaman memikirkan masa depannya yang sebentar lagi hendak menikah.


**********


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kapal itu pun berlabuh di satu pelabuhan kecil. Mereka segera turun dan pergi ke salah satu warung kopi. Di sana mereka menunggu seseorang yang akan menjemput mereka.


Lalu tak lama setelah orang itu diberi kabar, orang itu pun tiba dengan mengendarai sepeda motor. Dia langsung menghampiri dua pemuda yang tengah meneguk kopinya.


"Hei, cepat juga yang sampainya."


"Yah. Kenalkan, ini temanku, Indra. Kami satu kampung."


"Oh. Aku Jhony." Ujarnya seraya saling bersalaman.


"Ngopi dulu geh!" Seru Indra berupaya mengakrabkan diri.

__ADS_1


"Ah, tidak. Aku barusan ngopi di rumah." Jawab Jhony.


"Oh yah, kayanya mau hujan. Gimana kalau kita langsung cabut?" Ucap Indra seraya dia melihat ke langit yang tiba-tiba mendung.


"Ah, benar!" Mereka juga turut melihat ke langit.


"Ya udah, ayo pergi!" Mereka segera beranjak, membayar kopinya dan pergi, berbonceng tiga.


Dari pelabuhan, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit.


Pemandangan yang terlihat di sepanjang jalan amatlah biasa dan tak jauh berbeda dengan keadaan kampungnya.


"Katanya pulau wisata, tapi tempatnya biasa aja dan nggak menarik." Ujar Indra dalam hati.


*********


Akhirnya mereka pun sampai di tujuan. Begitu mereka turun, mereka langsung disambut oleh seorang nenek yang sedang mengunyah sirih sampai mulutnya berwarna merah.


"Oh ya? Ayo masuk! Masuk!" Sambut si nenek dengan hangat.


Mereka pun masuk dan duduk di kursi tamu. Lalu si nenek berseru pada cucunya, "Hei Torang! Bikinkan kopi untuk kawan-kawanmu ini." Neneknya berseru dengan suara yang sedikit kencang karena sistem pendengarannya sudah menurun.


"Udah minum kopi tadi mereka nek." Jawab Jhony dengan suara keras. Neneknya memanggilnya Torang karena sejak cucunya lahir, ekonomi keluarga mereka menjadi terang bersinar. Uang masuk lancar mengalir dari hasil bumi yang diberkati. Namun mendengar dia dipanggil Torang, teman-temannya malah tertawa mengejeknya.


"Hahaha... Kau si Torang? Nanti nama istrimu, si Tiur. Lalu kalau anakmu lahir, kau kasihlah namanya si Patar. Supaya kalian jadi keluarga yang tampak jelas dan tak bisa tersembunyi. Tiur + Torang \= Terang kuadrat. Maka anak kalian pun tampak jelas, dan nyata. Alias PATAR! hahahah...."


"Itu jauh lebih baik. Daripada kalian? GELAP GULITA!" Tegas Jhony kesal.


Tiba-tiba si nenek maju membentak mereka bertiga. Ludah berwarna merah terjiprat dan meninggalkan noda di muka mereka seraya si nenek terus mengomel.

__ADS_1


"Hei Hei! Jangan ribut di sini! Kau juga Torang! Temanmu baru datang bukannya kau sambut, malah ribut. Itu biasa, becanda. Langsung tegangnya kau macam bapakmu. Jangan kau tiru-tiru sikap bapakmu yang jelek itu."


Mereka bertiga tak henti menghapus setiap noda merah yang menempel di kulit muka mereka selama si nenek terus mengoceh. Entah sudah seberapa banyak butiran noda merah yang telah mereka usap sejak tadi dengan jari.


Setelah itu si nenek berseru lagi, "Torang! Cepat siapkan makanan untuk dua kawanmu ini. Mereka pasti lapar waktu di kapal. CEPAT!" Bentak si nenek. Sementara kedua pemuda itu terdiam dan berbisik, "Alamak, si nenek galaknya bukan main."


Sementara cucunya menyiapkan makanan, kedua pemuda itu disuruh melebarkan tikar karena mereka akan duduk lesahan.


Jhony pun mengangkat hidangan satu persatu ke depan mereka. Mulai dari magic com, teko, gelas, piring, sendok, cuci tangan, ikan, sayur, dan lauk yang lain. Semuanya dia angkat satu persatu.


"Setelah semuanya tersedia di depan mereka, si nenek berkata lagi, "Ayo, ayo makan! Jangan malu-malu. Ambil masing-masing."


Pemuda bernama Indra itu adalah orang yang pemalu, karena itu dia menyendok sedikit nasi ke piringnya dan mengambil sepotong ikan.


Sewaktu melihat itu, si nenek berseru lagi,


"Hei, kok sedikit kali kau makan? Apa seperti itu porsimu setiap hari di rumah? Kalau iya, berarti di rumahmu hemat beras ya? Cucuku si Torang ini, satu tong pun nasi bisa dia habiskan semuanya. Tapi coba tengok badannya! Tetap kecil dan kurus macam bapaknya. Entah ke mana semua nasi yang dimakannya. Mungkin langsung jadi kotoran. Ayo, ayo tambah. Jangan malu-malu. Supaya lututmu tidak longgar dan goyang-goyang karena nggak ada tenaga."


Maka dia pun segera menambahkan porsi nasinya juga ikannya.


Mereka terus dipaksa makan yang banyak sekalipun perut mereka hampir tak sanggup lagi menampung.


"Ayo, ayo makan! Makan yang banyak! Nah, ini ikannya." Seru si nenek seraya terus menambahkan makanan ke piring kedua pemuda itu.


Barulah ketika kedua bocah itu terkapar di lantai, si nenek tak menambahkan makanan lagi ke piring mereka.


"Sudah. Sudah. Sekarang, kau simpan semua ini Torang. Mereka nggak mau makan lagi. Langsung kau cuci piring yang kotor itu supaya nggak banyak semut di kamar mandi." Seru si nenek pada cucunya.


Kemudian si nenek menyuruh kedua pemuda itu tidur di kamar.

__ADS_1


"Hei, hei, tidur di kamar sana! Nenek mau bersihkan dan gulung tikar ini."


Mereka pun segera pindah ke kamar Jhony dan tidur di situ.


__ADS_2